Poin Penting
- Cost of fund Bank Jago diproyeksikan naik ke 4-4,1 persen pada akhir 2026, dari 3,5 persen per Juni dan 3,8 persen pada Agustus 2026
- Kredit Bank Jago tumbuh 24 persen yoy menjadi Rp26,6 triliun per Juni 2026, dengan NPL gross terjaga rendah di 0,8 persen
- Kinerja semester I 2026 mencatat DPK Rp27,6 triliun, nasabah 20,1 juta, aset Rp41,4 triliun, dan laba bersih Rp189 miliar.
Jakarta – PT Bank Jago Tbk memproyeksikan biaya dana atau cost of fund masih akan menanjak hingga menyentuh level 4,0-4,1 persen pada akhir 2026.
Direktur Bank Jago, Supranoto Prajogo mengatakan, kenaikan biaya dana tersebut mulai terlihat sepanjang per Juni 2026 yang tercatat sekitar 3,5 persen. Angka tersebut kemudian tumbuh menjadi 3,8 persen pada Agustus 2026.
“Cost of fund bank kita di bulan Juni ini sebesar 3,5 persen dan kami melihat hingga di bulan Agustus kemarin meningkat sebesar 3,8 persen. Jadi hingga akhir tahun kami perkirakan masih akan ada peningkatan menjadi sekitar 4 persen atau 4,1 persen jika kondisi tetap seperti yang saat ini,” ujar Supranoto dalam Public Expose Live 2026, Kamis (10/9).
Baca juga: Laba Bank Jago Tumbuh 49 Persen jadi Rp189 Miliar di Semester I 2026
Ia menjelaskan, kenaikan biaya dana sendiri tak terlepas dari transmisi perubahan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).
Lonjakan suku bunga bakal mendorong biaya penghimpunan dana perbankan, terutama jika bank perlu mempertahankan daya tarik produk simpanan di tengah persaingan memperebutkan dana nasabah.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi Bank Jago untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dana pihak ketiga, ekspansi kredit, dan tingkat profitabilitas.
Kredit Tumbuh 24 Persen
Bank digital yang dikendalikan taipan Jerry Ng ini mencatat penyaluran kredit sebesar Rp26,6 triliun pada akhir Juni 2026, meningkat 24 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp21,4 triliun.
Bank Jago berupaya menjaga kualitas penyaluran kredit dengan baik yang terlihat dari rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross 0,8 persen, lebih rendah dibanding rata-rata NPL perbankan nasional.
Baca juga: Nicholas Tan Masuk Jajaran Direksi Bank Jago (ARTO), Ini Strategi yang Disiapkan
Dari sisi funding, dana pihak ketiga (DPK) Bank Jago mencapai Rp27,6 triliun, meningkat 23 persen dari Rp22,4 triliun pada akhir Juni 2025. Ini didorong oleh pencapaian 20,1 juta nasabah pada posisi akhir Juni 2026, yang mencakup 14,7 juta nasabah funding pengguna Aplikasi Jago.
Pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkelanjutan tersebut turut mendorong total aset Bank Jago yang mencapai Rp41,4 triliun dan laba bersih mencapai Rp189 miliar per semester I 2026.
Bank Jago juga memiliki rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) yang cukup untuk mendukung ekspansi bisnis ke depan, yaitu pada level 28,4 persen.
“Pencapaian positif ini menjadi bukti bahwa model bisnis bank berbasis teknologi dan kolaborasi dengan mitra ekosistem strategis yang kami bangun memiliki kekuatan dan ruang pertumbuhan yang besar,¨tandasnya. (*)
Editor: Galih Pratama


