Poin Penting
- Menurut analis Phintraco Sekuritas, bank perlu menjaga fungsi intermediasi dengan strategi penyaluran kredit yang selektif namun tetap agresif untuk mempertahankan kinerja
- Bank Woori Saudara fokus memperkuat kualitas aset dengan memperluas kredit ke sektor yang resilien serta menjaga keseimbangan antara penyaluran kredit dan penghimpunan DPK.
- BWS mendorong peningkatan porsi dana murah (CASA) melalui tabungan dan giro, didukung inovasi layanan, guna menjaga margin, menekan NPL, dan memperkuat stabilitas kinerja bank.
Jakarta – Di tengah dinamika ekonomi yang semakin kompleks dan menantang, perbankan dituntut untuk tetap adaptif dalam menjaga fungsi intermediasi.
“Dalam kondisi seperti ini, kemampuan bank untuk tetap menyalurkan kredit secara selektif namun tetap agresif menjadi kunci dalam mempertahankan kinerja,” ujar analis Aditya Prayoga dari Phintraco Sekuritas dalam keterangannya, Selasa (14/4).
Salah satu bank dari kelompok KBMI II yang mencoba melakukan langkah ini dengan terus memperkuat perannya adalah Bank Woori Saudara (BWS).
Bank dengan modal inti Rp11 triliun ini terus berupaya menjaga keseimbangan antara penyaluran kredit dan penghimpunan dana pihak ketiga di tengah tekanan eksternal.
Baca juga: OJK: Kredit di Bawah Rp1 Juta Tak Lagi Tercatat di SLIK
BWS merespons kondisi tersebut dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian serta memperluas portofolio kredit ke sektor-sektor yang dinilai resilien. Pendekatan ini tidak hanya bertujuan menjaga kualitas aset, tetapi juga memastikan bahwa fungsi intermediasi tetap berjalan optimal.
Di sisi lain, penguatan dana murah menjadi fokus penting. BWS berupaya meningkatkan komposisi dana berbasis tabungan dan giro guna menekan biaya dana.
“Strategi ini efektif untuk menjaga margin di tengah persaingan likuiditas yang semakin ketat,” ujar Aditya.
Langkah yang diambil BWS, kata Aditya, mencerminkan strategi yang adaptif terhadap kondisi pasar. Ia menilaipenguatan struktur pendanaan dan selektivitas pembiayaan menjadi kombinasi yang tepat untuk menjaga stabilitas kinerja bank.
Inovasi produk dan layanan yang tidak hanya fokus pada pricing suku bunga, kata dia, juga menjadi salah satu pilar penting dalam mendukung penghimpunan dana.
Strategi funding yang dilakukan BWS juga berperan dalam meningkatkan pengalaman nasabah. Kemudahan akses layanan perbankan dinilai mampu mendorong loyalitas sekaligus menarik segmen nasabah baru, khususnya dari kalangan muda.
Baca juga: OJK Siapkan Aturan Baru RBB, Dorong Bank Salurkan Kredit ke MBG hingga Kopdes
Dalam konteks intermediasi, kata Aditya, keseimbangan antara pertumbuhan kredit dan kualitas aset menjadi faktor krusial. Keduanya perlu dijaga agar tetap sejalan, sehingga ekspansi yang dilakukan tidak mengorbankan stabilitas jangka panjang.
“Saat ini penting untuk bank terutama untuk skala kecil menengah melakukan penguatan neraca dari sisi penghimpunan dana murah dan penyaluran kredit selektif agar NPL terjaga” kata Aditya.
Ke depan, tantangan eksternal diperkirakan masih akan membayangi. Namun, dengan strategi yang terukur dan adaptif, kata dia, bank ini masih memiliki ruang untuk tetap tumbuh dan memperkuat perannya sebagai lembaga intermediasi. (*) DW







