Jakarta – PT Bank Sahabat Sampoerna (Bank Sampoerna) mencatat akumulasi Dana Pihak Ketiga (DPK) hingga akhir 2025 mencapai Rp13,44 triliun. Capaian itu mencermikan komitmen Perseroan untuk terus mendukung pemberdayaan UMKM.
Direktur Finance and Business Planning Bank Sampoerna, Henky Suryaputra, mengatakan bahwa komitmen dalam mendukung UMKM juga tecermin dari komposisi penyaluran kredit UMKM yang mencapai 57,16 persen dari total kredit yang disalurkan per Desember 2025.
“UMKM mengemban peran strategis dalam keseluruhan ekonomi nasional. Apabila terjadi perlambatan ekonomi yang menggerus pelaku UMKM, dampaknya akan terasa secara menyeluruh. Oleh karena itu, Bank Sampoerna terus berupaya untuk memberikan dukungan melalui penyaluran kredit yang berkelanjutan pada sektor UMKM,” kata Henky dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa, 14 April 2026.
Baca juga: Bank Sampoerna Hadirkan Wajah Baru Aplikasi SMB, Ini Fitur Unggulannya
Di samping itu, pada akhir 2025, Bank Sampoerna juga berhasil menjaga rasio Non-Performing Loan (NPL) Gross sebesar 3,79 persen dengan NPL Net sebesar 2,28 persen, lebih baik dari posisi akhir 2024.
Selanjutnya dari sisi komposisi dana murah (CASA) juga mengalami kenaikan mencapai 22,73 persen pada 2025 dibandingkan akhir 2024 sebesar 16,12 persen.
“Peningkatan tersebut berkontribusi untuk memperkuat komposisi rasio dana murah korporasi, yang mencerminkan meningkatnya kepercayaan nasabah,” imbuhnya.
Baca juga: Cara Bank Sampoerna Perkuat Literasi dan Inklusi Keuangan
Adapun total aset Bank Sampoerna juga meningkat sepanjang 2025 sebesar 2,69 persen menjadi Rp18,2 triliun.
Pertumbuhan ini juga diiringi penguatan di sisi permodalan, dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) berada di level 29,72 persen, mencerminkan kesiapan modal untuk pertumbuhan secara berkelanjutan.
Kinerja positif juga tecermin dari aktivitas transaksi digital, terlihat dari volume transaksi yang tumbuh 21 persen year-on-year (yoy) dari Rp144 triliun pada Desember 2024 menjadi Rp174 triliun pada Desember 2025.
Sementara itu, frekuensi transaksi juga melonjak lebih dari 1.000 persen, dari 42 juta transaksi menjadi 643 juta transaksi. (*)
Editor: Yulian Saputra







