Poin Penting
- Aset keuangan syariah Indonesia mencapai Rp3.138 triliun, tumbuh 8,56 persen yoy, menjadi modal besar untuk mendorong Indonesia sebagai pemimpin ekonomi syariah dunia
- Pangsa perbankan syariah masih rendah, baru 7,7 persen dari total industri perbankan nasional. Secara global, aset keuangan syariah Indonesia berada di peringkat ketujuh
- OJK terus mendorong pertumbuhan industri keuangan syariah dengan menjaga tren positif. Jika pertumbuhan rata-rata 11 persen dapat dipertahankan
Jakarta — Indonesia memiliki modal besar menjadi negara dengan ekonomi syariah terbesar di dunia. Hal ini tercermin dari outstanding aset keuangan syariah nasional yang menembus Rp3.138 triliun.
“Total aset keuangan syariah Indonesia sudah mencapai Rp3.138 triliun, tumbuh 8,56 persen secara tahunan (year-on-year/yoy),” ujar Farid Azhar, Wakil Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di Jakarta, 20 Agustus 2026.
Menurut Farid, pertumbuhan nilai aset tersebut menunjukkan besarnya pangsa pasar industri keuangan syarian di Tanah Air.
“Di atas kertas tersebut, sebenarnya kita punya modal untuk menjadikan Indonesia menjadi pemimpin ekonomi syariah dunia, karena kita punya pasarnya,” jelasnya.
Meski demikian, besarnya aset keuangan syariah nasional belum sepenuhnya sejalan dengan pangsa pasar perbankan syariah yang baru mencapai 7,7 persen dari total industri perbankan nasional.
Baca juga: OJK Cabut Izin Usaha BPR Citra Bersada Abadi di Bekasi
Ia menyebut, posisi Indonesia dalam industri keuangan syariah global juga menghadapi sejumlah tantangan. Di mana, aset keuangan syariah nasional berada di peringkat ketujuh dunia.
“Aset keuangan syariah Indonesia juga baru peringkat 7 dunia. Kita memang kuat di sukuk, peringkat tiga dunia, namun perbankan syariah kita kalau dibandingkan dengan negara lain di global baru peringkat 9 di lingkup global perbankan syariah,” bebernya.
Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Dicky Kartikoyono mengatakan, pihaknya terus mendorong pertumbuhan aset keuangan syariah.
Baca juga: Pembiayaan Produktif Multifinance Juni 2026 Masih di Bawah Target
Namun, besaran potensi aset ke depan kata dia akan sangat bergantung pada minat masyarakat.
“Ya, kita dorong terus sebesar-besarnya. Kalau soal potensinya, kita dorong tergantung minat masyarakat,” ujar Dicky, saat dikonfirmasi Infobanknews.
Menurut Dicky, OJK akan terus memantau perkembangan industri serta mempertahankan tren pertumbuhan aset keuangan syariah agar terus melajutkan tren positif.
Dicky mengatakan, apabila pertumbuhan aset dapat dipertahankan pada kisaran rata-rata 11 persen, nilai aset keuangan syariah Indonesia akan terus meningkat.
“Kita nanti harus kejar. Ya kita lihat saja sekarang pertumbuhan rata-rata misalnya bisa terus bertahan dan bisa tumbuh. Kalau rata-rata 11 persen ya tumbuh terus,” tandasnya. (*)
Editor: Galih Pratama


