Poin Penting:
- AS menegaskan kesiapan menjatuhkan sanksi sekunder kepada lembaga keuangan asing yang mendukung aktivitas Iran.
- Izin sementara penjualan minyak Iran sebanyak 140 juta barel tidak akan diperpanjang dan akan berakhir pada 19 April.
- Perundingan langsung AS–Iran kembali menemui jalan buntu meski ada rencana pertemuan lanjutan di Pakistan.
Jakarta – Amerika Serikat (AS) kembali mengetatkan tekanan ekonominya terhadap Iran dengan mengeluarkan peringatan keras kepada lembaga keuangan global. Hal ini menegaskan kesiapannya menjatuhkan sanksi sekunder kepada entitas asing yang dianggap masih mendukung aktivitas ekonomi Teheran.
Peringatan ini muncul di tengah mandeknya perundingan langsung antara kedua negara yang tak kunjung menghasilkan terobosan.
Departemen Keuangan AS menyatakan akan “bergerak agresif dengan tekanan ekonomi maksimal” untuk mempertahankan kebijakan penekanan terhadap Iran. Melalui pernyataan resmi yang diunggah di platform X, lembaga tersebut menegaskan bahwa seluruh instrumen hukum akan digunakan untuk menindak pihak yang dinilai memperkuat posisi Iran.
Baca juga: Kemenhan Bantu AS Cari Jenazah Prajurit Perang Dunia II di RI
“Lembaga keuangan harus menyadari bahwa Departemen Keuangan AS akan memanfaatkan seluruh instrumen dan kewenangan yang tersedia serta siap menjatuhkan sanksi sekunder terhadap lembaga keuangan asing yang terus mendukung aktivitas Iran,” demikian kutipan pernyataan tersebut seperti dikutip Antara, Rabu (15/4/2026).
Peringatan AS dan Berakhirnya Izin Penjualan Minyak Iran
Salah satu poin paling signifikan dalam peringatan itu adalah pengakhiran izin jangka pendek penjualan minyak Iran yang tertahan di laut. Izinnya akan berakhir hanya dalam hitungan hari dan dipastikan tidak diperpanjang. Kebijakan ini merujuk pada pengecualian sementara 30 hari yang dikeluarkan pada 20 Maret, yang memungkinkan penjualan sekitar 140 juta barel minyak Iran yang telah berada di laut.
Pengecualian tersebut awalnya diterbitkan untuk mencegah lonjakan harga energi global yang dipicu oleh perang antara AS–Israel dan Iran. Ketegangan semakin meningkat ketika Iran merespons dengan menutup Selat Hormuz serta menargetkan infrastruktur energi milik negara-negara sekutu Teluk AS. Dampaknya, harga energi dunia, khususnya minyak, melonjak tajam dalam waktu singkat.
Pengecualian minyak itu dijadwalkan berakhir pada 19 April, menandai kembalinya pembatasan penuh terhadap ekspor energi Iran.
Perundingan AS-Iran Masih Buntu
Di tengah situasi geopolitik yang memanas dan ancaman ekonomi yang meningkat, perundingan langsung intensif antara kedua negara justru berakhir tanpa hasil. Pembicaraan maraton yang berlangsung hingga akhir pekan lalu tidak menghasilkan kesepakatan apa pun untuk mengakhiri konflik secara permanen.
Harapan baru sempat muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa perundingan lanjutan kemungkinan akan dilanjutkan di Pakistan dalam dua hari ke depan. Namun hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari kedua pihak, memperlihatkan bahwa jalur diplomasi masih berjalan di tengah ketidakpastian.
Baca juga: Trump Blokade Pelabuhan Iran di Tengah Gencatan Senjata
Dampak terhadap Dinamika Geopolitik Kawasan
Ancaman sanksi sekunder dari AS menambah tekanan besar terhadap jaringan pendanaan Iran yang selama ini beroperasi melalui mitra internasional, terutama di kawasan Asia dan Timur Tengah. Jika diterapkan, kebijakan ini berpotensi menekan lembaga keuangan global untuk memutus hubungan bisnis dengan entitas Iran demi menghindari penalti dari Washington.
Di sisi lain, berakhirnya pengecualian ekspor minyak Iran dapat memperketat suplai pasar global, terutama jika ketegangan di kawasan Teluk terus meningkat. Situasi ini menempatkan AS pada posisi strategis sekaligus kontroversial, karena setiap langkah tekanan ekonomi dipastikan memperluas dampak terhadap stabilitas energi dunia.
Dengan makin tegasnya sikap AS dalam mengancam penerapan sanksi sekunder serta tidak diperpanjangnya izin penjualan minyak Iran, ketegangan geopolitik tampaknya akan tetap tinggi. Kebijakan tekanan maksimum Washington, ditambah mandeknya perundingan, memperlihatkan bahwa penyelesaian konflik jangka pendek masih jauh dari kepastian. (*)
Editor: Galih Pratama







