Poin Penting
- Bank Jago memanfaatkan AI untuk membantu pekerjaan rutin, sementara keputusan tetap berada di tangan manusia.
- Karyawan didorong mengambil keputusan dan mengembangkan kemampuan melalui capability journey.
- Peran pemimpin bergeser dari pemberi instruksi menjadi mentor dan fasilitator bagi tim.
Jakarta – Membangun bank digital bukan hanya soal teknologi. Di balik produk dan layanan serbadigital, terdapat orang-orang yang harus terus belajar, beradaptasi, dan mengambil keputusan seiring perubahan kebutuhan nasabah.
Tantangan tersebut semakin relevan ketika kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai masuk ke berbagai lini pekerjaan dan berpotensi menggantikan peran manusia.
Topik itu menjadi salah satu pembahasan Head of People & Culture PT Bank Jago Tbk, Pratomo Soedarsono, saat berdiskusi dengan ratusan anggota Asosiasi Internasional Mahasiswa Ilmu Ekonomi dan Bisnis (AIESEC) di Universitas Indonesia (UI), Depok, baru-baru ini.
Pria yang akrab disapa Tommy itu membagikan pandangan mengenai cara Bank Jago memanfaatkan AI sekaligus menyiapkan organisasi dan talenta untuk menghadapi perubahan di industri perbankan.
“Di Bank Jago, AI dimanfaatkan untuk memberi saran, tapi keputusan tetap di tangan manusia. Jadi, prosedur rutin yang membuang waktu bisa dihindari dan tim bisa fokus melatih talenta, memahami konteks, dan mengambil keputusan penuh makna,” ujar Tommy.
Baca juga: Bank Jago-Bibit Perkuat Ekosistem Investasi, Pengguna Tembus 3,6 Juta per Juli 2026
AI sebagai Pendamping, Manusia Tetap Pengambil Keputusan
Sebagai bank berbasis teknologi, Bank Jago menempatkan AI sebagai alat pendamping digital untuk membantu menyelesaikan pekerjaan rutin.
Dengan begitu, waktu dan perhatian karyawan dapat lebih banyak diarahkan pada pekerjaan yang membutuhkan pemahaman terhadap nasabah, penyelesaian persoalan, hingga pengembangan anggota tim.
Cara kerja organisasi pun ikut disesuaikan. Para Jagoan, sebutan bagi karyawan Bank Jago, mendapat ruang lebih besar untuk mengambil keputusan. Tim memiliki keleluasaan untuk menyelesaikan persoalan tanpa selalu menunggu arahan dari jenjang yang lebih tinggi.
Baca juga: Sederet Tantangan Pelaku Industri Terapkan Teknologi AI
Menurut Tommy, bank yang mengedepankan inovasi dan kolaborasi dalam ekosistem digital membutuhkan pola kerja semacam itu. Pengembangan produk dan layanan melibatkan banyak fungsi sehingga kelincahan dalam mengambil keputusan menjadi penting agar organisasi mampu merespons kebutuhan nasabah dan perubahan pasar dengan cepat.
Capability Journey untuk Mengembangkan Talenta
Namun, lanjutnya, ruang untuk mengambil keputusan perlu diimbangi dengan kemampuan yang terus berkembang. Karena itu, Bank Jago mengembangkan capability journey untuk membantu karyawan mengenali kemampuannya sekaligus menentukan aspek yang masih perlu diperkuat.
¨Namun ruang untuk mengambil keputusan perlu diikuti kemampuan yang terus berkembang. Untuk itu kami mengembangkan capability journey untuk membantu karyawan untuk melihat kemampuannya sekaligus menentukan hal-hal yang masih perlu diperkuat,” jelas Tommy.
Baca juga: Bank Jago Jajaki Layanan Emas Digital, Perluas Ekosistem Investasi
Pendekatan tersebut turut mengubah cara karyawan memandang perjalanan karier. Pertumbuhan karyawan tidak selalu berarti naik jabatan. Seseorang dapat berkembang melalui tanggung jawab baru, mencoba peran berbeda, atau memperluas kemampuan yang dimiliki.
Pemimpin Bergeser dari Pemberi Instruksi menjadi Mentor
Perubahan cara kerja juga memengaruhi peran pemimpin. Ketika tim memiliki ruang lebih besar untuk mengambil keputusan, pemimpin tidak lagi cukup berperan sebagai pemberi instruksi.
Perannya bergeser menjadi mentor dan fasilitator yang membantu anggota tim berdiskusi, menemukan solusi, dan berkembang.
Tommy melihat kepercayaan menjadi bagian penting dalam proses tersebut. “Ketika orang diberi ruang dan kepercayaan, mereka tidak hanya bekerja lebih baik, tapi juga tumbuh lebih cepat,” ujarnya.
Pada akhirnya, teknologi dan pengembangan talenta berjalan beriringan. AI membantu mengurangi pekerjaan rutin, sementara organisasi menyiapkan orang-orang yang mampu memanfaatkan waktu dan ruang tersebut untuk menghasilkan pekerjaan yang lebih bernilai.
Tommy menambahkan, bagi Bank Jago, membangun bank berbasis teknologi berarti memastikan produk dan layanan terus berkembang sekaligus menyiapkan manusia yang mampu menggerakkannya.
“AI dapat membantu organisasi bekerja lebih cepat, tetapi manusia tetap menentukan bagaimana teknologi digunakan, mengambil keputusan, dan membangun kepercayaan dengan nasabah,” pungkasnya. (*)


