Poin Penting
- Kredit Citi Indonesia tumbuh 8,05 persen yoy menjadi Rp29,90 triliun pada semester I 2026, dengan NPL-net terjaga di 0,19 persen
- DPK melonjak 23,29 persen menjadi Rp72,55 triliun, mendorong rasio CASA naik menjadi 83,23 persen dari 75,16 persen tahun sebelumnya
- Laba bersih turun 25,45 persen menjadi Rp993,89 miliar akibat realisasi penjualan aset keuangan di tengah volatilitas pasar.
Jakarta – Citibank Indonesia (Citi Indonesia) mencatat kinerja positif pada semester I 2026. Hal ini tercermin dari pertumbuhan fungsi intermediasi perseroan, terutama pada penyaluran kredit dan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK).
Kredit Citi Indonesia tumbuh 8,05 persen secara year on year (yoy) menjadi Rp29,90 triliun. Pertumbuhan tersebut diikuti dengan kualitas aset yang terjaga, tercermin dari rasio Non-Performing Loan (NPL)-net sebesar 0,19 persen.
“Lini business banking yaitu investment banking, corporate banking, dan commercial banking menunjukkan kinerja positif. Dengan memanfaatkan jaringan global Citi, kami terlibat dalam beberapa transaksi penting di tahun ini,” kata Batara Sianturi, CEO Citi Indonesia, dalam konferensi pers, Kamis, 20 Agustus 2026.
Baca juga: Begini Cara Citi Indonesia dan YCAB Edukasi Keuangan Inklusif Anak Muda Disabilitas
Sejumlah pembiayaan besar turut menopang kinerja bisnis Citi Indonesia. Di antaranya penerbitan obligasi global untuk PT Danantara Investment Management dan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), masing-masing sebesar USD1,5 miliar.
Citi Indonesia juga memberikan sindikasi pinjaman tiga tahun senilai USD1 miliar kepada Danantara Investment Management.
Dari sisi pendanaan, DPK Citi Indonesia melonjak 23,29 persen menjadi Rp72,55 triliun. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh peningkatan giro sebesar 36,54 persen menjadi Rp60,39 triliun.
“Hal itu juga mendongkrak rasio dari low cost fund atau rasio CASA Citi Indonesia menjadi 83,23 persen, meningkat dari 75,16 persen pada periode yang sama tahun lalu,” tambah Batara.
Kondisi keuangan Citi Indonesia juga tetap solid. Permodalan perseroan tercermin dari Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 31,43 persen.
Sementara itu, Cost to Income Ratio (CIR) tercatat 51,17 persen dan rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) sebesar 60,01 persen.
Meski fungsi intermediasi dan pendanaan tumbuh positif, laba bersih Citi Indonesia justru mengalami tekanan.
Pada semester I 2026, perseroan membukukan laba bersih Rp993,89 miliar, turun 25,45 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,33 triliun.
Batara mengatakan, penurunan laba tersebut dipengaruhi realisasi penjualan aset keuangan di tengah volatilitas pasar.
“Yang menjadi impact daripada penurunan laba itu adalah dari realisasi penjualan daripada aset keuangan. Jadi itu yang karena market volatilitas yang dikaitkan oleh market daripada aset keuangan tersebut,” beber Batara.
Baca juga: Citi Perkenalkan Teknologi AI di Pasar Indonesia, Buka Era Baru Industri Perbankan
Ke depan, Citi Indonesia akan terus mendorong pertumbuhan nasabah melalui sinergi tiga lini bisnis, yakni Banking, Markets, dan Services. Perseroan juga akan tetap mencermati dinamika perekonomian dengan mengedepankan optimisme dan kehati-hatian.
“Kami akan terus berkomitmen penuh untuk mendukung pertumbuhan nasabah melalui ketiga lini bisnis inti kami yang saling terhubung yaitu Banking, Markets, dan Services, sekaligus menghadapi dinamika perekonomian dengan keyakinan dan kehati-hatian,” tukasnya. (*) Mohammad Adrianto Sukarso


