Poin Penting
- BCA, BNI, dan BTN sama-sama mencatat kinerja positif di kuartal I 2026, dengan karakter berbeda: BCA unggul laba, BNI agresif bertumbuh, dan BTN mencatat pertumbuhan laba tertinggi
- BCA tetap menjadi ‘raja laba’ dengan Rp14,7 triliun, ditopang kredit stabil dan dominasi dana murah, sementara BNI mencatat laba Rp5,6 triliun dengan lonjakan kredit 20,1 persen dan penguatan CASA
- BTN membukukan laba Rp1,1 triliun, namun tumbuh paling tinggi 22,6 persen yoy, didorong KPR, efisiensi biaya dana, dan peningkatan DPK.
Jakarta – Tiga bank jumbo, PT Bank Central Asia Tbk (BCA), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI), dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) telah merilis kinerja keuangan pada kuartal I 2026. Hasilnya, tiga bank tersebut sama-sama membukukan kinerja impresif di tiga bulan pertama 2026.
Peta persaingan pun menunjukkan karakter berbeda tiap bank: dominasi laba, akselerasi pertumbuhan dan fokus bisnis ke depan.
Di antara ketiganya, bank yang dimiliki Grup Djarum – BCA, masih menjadi ‘raja laba’ dengan capaian paling atas. Disusul BNI dengan pertumbuhan bisnis yang agresif dan BTN berhasil mencuri perhatian dengan kenaikan laba dua digit.
BCA: Kokoh di Puncak
Bank bersandi BBCA ini masih kokoh memimpin dengan catatan laba bersih Rp14,7 triliun pada kuartal I 2026, tumbuh 3,8 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Baca juga: Adu Laba BCA, BRI, Bank Mandiri, dan BNI di 2025, Siapa Paling Cuan?
Capaian kinerja ini disokong penyaluran kredit mencapai Rp994 triliun, tumbuh 5,6 persen yoy. Kredit produktif sebesar Rp760,2 triliun, atau meningkat 7,8 persen yoy terbukti ampun menjadi motor penggerak utama.
Ditambah, kekuatan dana murah (CASA) yang tampil dominan, sekitar 85,2 persen atau sebesar Rp1.089 triliun, tumbuh 12 persen yoy dari total DPK menjadi keunggulan utama perseroan dalam menjaga efisiensi biaya dana.
Dari sisi kualitas aset, rasio loan at risk (LaR) dan non-performing loan (NPL) terjaga masing-masing sebesar 5,1 persen dan 1,8 persen. Adapun, rasio pencadangan LaR dan NPL berada pada level solid masing-masing 69,7 persen dan 174,6 persen.
Stabilitas pun menjadi kata kunci BCA. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, perseroan memilih strategi pertumbuhan terukur dan konsisten, menjaga profitabilitas tetap tinggi tanpa ekspansi secara agresif.
BNI: Tumbuh Agresif
Selanjutnya, ada BNI yang berhasil membukukan laba bersih Rp5,6 triliun di kuartal I 2026. Meski secara angka masih di bawah BCA, BNI justru menunjukkan akselerasi bisnis lebih agresif.
Kredit bank bersandi BBNI ini tumbuh 20,1 persen yoy menjadi Rp919,3 triliun hingga Maret 2026, ditopang penguatan dana murah (CASA) yang melonjak 26,6 persen.
Pertumbuhan dana murah menjadi faktor penting dalam mendukung ekspansi kredit di tengah likuiditas yang ketat.
Pencapaian dana pihak ketiga (DPK) yang kuat pun menjadi salah satu penopang utama kinerja keuangan BNI sepanjang kuartal I 2026.
Hingga akhir Maret 2026, BNI mampu meningkatkan CASA market share 120 bps dari 10,1 persen di Maret 2025 menjadi 11,3 persen di Februari 2026. Dampak positifnya, biaya dana menjadi lebih efisien.
Baca juga: Bank KBMI 3 di Antara Goliath dan David, Jalan Tengah yang Paling Diuji
Menariknya, transformasi bisnis dan digitalisasi menjadi kunci utama. BNI juga aktif memperkuat struktur permodalan dan meningkatkan efisiensi, sehingga dapat menjaga pertumbuhan bisnis di tengah ekonomi global.
Saat ini, posisi BNI mencerminkan fase ‘growth mode’. Artinya ekspansi serta lonjakan pangsa pasar menjadi prioritas utamanya.
BTN: Laba Dua Digit
Meski mencetak laba paling kecil, yakni Rp1,1 triliun di kuartal I 2026, namun dari sisi pertumbuhan BTN justru mencatat kinerja paling solid. Pertumbuhan laba BTN mencapai 22,6 persen yoy, melebihi BCA dan BNI. Capaian tersebut ditopang oleh lonjakan pendapatan bunga bersih dan efisiensi biaya dana.
Kredit BTN juga tumbuh 10,3 persen yoy, menjadi Rp400,63 triliun pada kuartal I 2026. Jika dirinci, segmen Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) masih menjadi penopang utama kinerja kredit perseroan.
Adapun dari sisi funding, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) BTN juga meningkat 9,9 persen yoy menjadi Rp422,63 triliun.
Porsi dana murah atau CASA tercatat mencapai Rp212,11 triliun atau sekitar 50,2 persen dari total DPK.
Tak hanya dari sisi intermediasi yang moncer, BTN juga mampu menekan efisiensi yang tercermin dari penurunan biaya dana (cost of fund/CoF) menjadi 3,0 persen dari sebelumnya 4,0 persen.
Alhasil, peta persaingan bank nasional diperkirakan kian ketat, terutama perebutan dana murah, ekspansi kredit hingga digitalisasi layanan bisnis.
BCA mungkin saja masih unggul dari sisi laba, namun BNI dan BTN membuktikan bahwa ruang pertumbuhan di industri perbankan Indonesia masih terbuka lebar. (*)
Editor: Galih Pratama




