Poin Penting
- BCA tetap memimpin laba bersih – PT Bank Central Asia (BCA) mencatat laba bersih konsolidasi Rp57,5 triliun, naik 4,9 persen yoy
- BRI mengalami penurunan laba – Bank Rakyat Indonesia (BRI) meraih laba bersih Rp57,13 triliun, turun 5,26 persen dibanding 2024.
- Perbandingan kinerja bank besar lainnya – Bank Mandiri mencatat laba Rp56,3 triliun, sedangkan BNI lebih rendah di Rp20,04 triliun.
Jakarta – Empat bank jumbo yang tergabung dalam Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) 4 telah merilis laporan keuangannya sepanjang 2025. Hasilnya pun menunjukkan tren yang beragam. Jika dilihat dari raihan laba bersih, PT Bank Central Asia (BCA) menjadi jawara di antara PT Bank Rakyat Indonesia (BRI), PT Bank Mandiri, dan PT Bank Negara Indonesia (BNI).
Sepanjang 2025, BCA berhasil membukukan laba bersih kondolidasi sebesar Rp57,5 triliun, naik 4,9 persen year on year (yoy).
Di bawah BCA, ada BRI yang mencatatkan laba bersih konsolidasi Rp57,13 triliun. Capaian laba bank spesialis kredit wong cilik ini turun 5,26 persen dibanding tahun sebelumnya.
Selanjutnya, ada Bank Mandiri dengan raihan laba bersih Rp56,3 triliun. Sementara, BNI mencatatkan laba bersih Rp20,04 triliun.
Rincian kinerja BCA, BRI, Bank Mandiri, dan BNI sepanjang 2025:
BCA: Laba Tembus Rp57,5 Triliun

Sepanjang 2025, BCA berhasil membukukan laba sebesar Rp57,5 triliun, atau tumbuh 4,9 persen secara tahunan (year on year/yoy) sepanjang 2025.
Perolehan laba tersebut ditopang oleh penyaluran kredit BCA yang tumbuh sebesar 7,7 persen yoy atau Rp993 triliun per Desember 2025.
Penyaluran kredit BCA terdistribusi ke berbagai sektor di antaranya manufaktur, perdagangan, restoran, hotel, dan rumah tangga.
Rinciannya, pembiayaan konsumer BCA terjaga sebesar Rp224,1 triliun, didukung Kredit Pemilikan Rumah (KPR) hingga Rp142,3 triliun.
Selanjutnya, kredit kendaraan bermotor atau KKB sebesar Rp56,6 triliun. BCA juga mendukung penyaluran KPR subsidi atau FLPP swasta sejak Oktober 2025.
Sementara, outstanding pinjaman konsumer lain atau mayoritas kartu kredit tumbuh 9,8 persen year on year mencapai Rp25,2 triliun.
Realisasi kredit tersebut turut mendongkrak pendapatan bunga bersih (net interest income) BCA tumbuh 4,1 persen yoy, dan pendapatan selain bunga naik 16 persen yoy.
Di sisi lain, ekspansi agresif penyaluran kredit tersebut tetap terjaga kualitasnya. Ini tercermin dari rasio loan at risk (LAR) yang membaik ke 4,8 persen dibandingkan 5,3 persen pada tahun sebelumnya.
Sedangkan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) terkendali di 1,7 persen dan pencadangan NPL serta LAR memadai, masing-masing sebesar 183,8 persen dan 71,6 persen.
Dari sisi funding, per Desember 2025 total Dana Pihak Ketiga (DPK) BCA tumbuh 10,2 persen yoy mencapai Rp1.249 triliun.
Baca juga: Bank Mandiri Proyeksikan BI Rate Dipangkas 2 Kali pada 2026
BRI: Laba Rp57,13 Triliun, Kredit Tumbuh Kuat

Di bawah BCA, ada BRI yang berhasil mencetak laba bersih secara kondolidasi sebesar Rp57,13 triliun. Capaian laba tersebut menurun 5,26 persen secara tahunan (yoy) dibandingkan tahun 2024 yang sebesar Rp60,30 triliun.
Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan di media massa pada 26 Februari 2026, kinerja kredit BRI masih tumbuh solid. Tercatat kredit BRI secara konsolidasi naik 12,31 persen yoy menjadi Rp1.521,49 triliun pada 2025.
Dari kualitas kredit, rasio non performing loan (NPL) gross berada di level 3,29 persen, meningkat dari 2,94 persen. Sedangkan NPL net berada di level 0,96 persen dari sebelumnya 0,75 persen. Meski mengalami kenaikan, rasio NPL tersebut masih di bawah ambang batas regulator, yakni 5 persen.
Kinerja intermediasi lainnya juga solid. DPK bank yang fokus pada UMKM ini tercatat sebesar Rp1.466,84 triliun di sepanjang 2025.
Jika dirinci, giro tercatat sebesar Rp448,20 triliun atau naik 19,66 persen dibanding tahun 2024 sebesar Rp374,55 triliun.
Sedangkan tabungan tercatat Rp587,58 triliun, naik 7,93 persen dibandingkan Rp544,42 triliun dan deposito sebesar Rp431,05 triliun dari Rp446,46 triliun atau tumbuh 3,45 persen. Adapun, komposisi dana murah atau CASA mencapai 70,61 persen.
Dari sisi profitabilitas, pendapatan bunga BRI tercatat meningat sebesar 4,27 persen atau menjadi Rp207,78 triliun. Beban bunga juga mengalami peningkatan sebesar 1,2 persen menjadi Rp57,28 triliun. Sehingga, pendapatan bunga bersih menjadi Rp150,5 triliun di akhir tahun 2025.
Menutup 2025, total aset BRI naik 7,1 persen yoy menjadi Rp2.135,37 triliun. Sebagai pembanding, total aset BRI pada 2024 sebesar Rp1.992,18 triliun.
Bank Mandiri: Laba Rp56,3 Triliun, Kredit Melonjak

Selanjutnya, ada Bank Mandiri dengan raihan laba bersih secara konsolidasi sebesar Rp56,3 triliun di sepanjang 2025.
Perolehan laba tersebut ditopang oleh pertumbuhan kredit mencapai Rp1.895 triliun atau tumbuh 13,4 persen year on year (yoy), tumbuh di atas-rata-rata industri yang sebesar 9,69 persen. Serta didorong pendapatan bunga bersih mencapai Rp106 triliun.
Kinerja intermediasi lainnya juga solid. DPK Bank Mandiri tercatat tumbuh 23,9 persen yoy menjadi Rp2.105,8 triliun. Struktur pendanaan terjaga baik dengan dana murah (CASA) tumbuh 12,6 persen yoy menjadi Rp1.431,4 triliun.
Kualitas aset Bank Mandiri tetap terjaga sepanjang 2025. Tercermin, rasio NPL gross sebesar 0,96 persen di akhir 2025, yang berada di bawah rata-rata industri dan konsisten menunjukkan tren perbaikan secara gradual.
Sementara menutup 2025, total aset Bank Mandiri tumbuh 16,6 persen yoy menjadi Rp2.829,9 triliun.
Baca juga: OJK: Perpanjangan Penempatan Dana Rp200 T Pacu Kredit Tumbuh hingga 12 Persen
BNI: Laba Rp20,04 Triliun

BNI melaporkan laba bersih senilai Rp 20,04 triliun sepanjang 2025. Capaian laba tersebut turun 6,63 persen dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp 21,46 triliun.
Meski demikian, kinerja kredit BNI tetap solid dengan pengelolaan risiko yang terjaga. Hingga akhir 2025, BNI mencatatkan pertumbuhan kredit 15,9 persen secara tahunan (yoy), seiring ekspansi pembiayaan ke sektor-sektor produktif.
Pertumbuhan kredit tersebut sepenuhnya didukung oleh dana murah (CASA) yang tumbuh 28,9 persen yoy. Kinerja CASA ditopang oleh pertumbuhan giro 43,8 persen yoy dan tabungan yang meningkat 11,2 persen yoy.
Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal (CAR) BNI tercatat 20,7 persen, jauh di atas ketentuan regulator, sehingga memberikan ruang yang memadai untuk ekspansi bisnis dan mitigasi risiko ke depan.
Dari sisi kualitas aset, BNI mencatatkan perbaikan berkelanjutan. Rasio NPL bruto tercatat 1,9 persen, membaik 10 basis poin yoy, sedangkan Loan at Risk (LaR) turun menjadi 8,5 persen atau membaik 1,8 persen yoy, mendekati level sebelum pandemi.
Di sisi pencadangan, NPL coverage ratio mencapai 205,5 persen dan LaR coverage ratio sebesar 46,9 persen, menunjukkan tingkat pencadangan yang kuat dan prudent dalam mengantisipasi potensi tekanan risiko ke depan.
Sejalan dengan kinerja tersebut, total aset BNI tercatat naik 20,53 persen menjadi Rp 1.362 triliun, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 1.130 triliun. (*)










