Poin Penting
- BRI menjadi Himbara dengan laba bersih terbesar pada semester I 2026, mencapai Rp31,2 triliun atau tumbuh 17,5 persen yoy, disusul Bank Mandiri Rp30,4 triliun
- BNI menempati posisi ketiga dengan laba Rp10,8 triliun, sementara BTN berada di posisi keempat dengan Rp2,4 triliun
- Meski nominalnya paling kecil di antara empat Himbara, BTN mencatat pertumbuhan laba tertinggi sebesar 40,8 persen yoy.
Jakarta – Persaingan bank-bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau himpunan bank milik negara (Himbara) semakin ketat sepanjang semester I 2026.
Hal tersebut tercermin dari hasil kinerja Himbara yang terdiri dari PT Bank Rakyat Indonesia (BRI), PT Bank Mandiri, PT Bank Negara Indonesia (BNI), PT Bank Tabungan Negara (BTN), hingga PT Bank Syariah Indonesia (BSI), yang sudah dirilis ke publik.
Dari sisi laba bersih, misalnya, BRI menjadi himbara yang terbesar dengan membukukan laba konsolidasi Rp31,2 triliun, tipis di atas PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang mencatat laba Rp30,4 triliun.
Di bawah dua raksasa tersebut, ada BNI membukukan laba Rp10,8 triliun, sedangkan BTN mencatatkan laba Rp2,4 triliun.
Jika diurutkan berdasarkan besaran laba bersih konsolidasi sepanjang semester I 2026, berikut posisi bank Himbara:
1. BRI
BRI menjadi bank Himbara dengan laba bersih terbesar hingga semester I 2026. Perseroan mencatatkan laba bersih konsolidasi Rp31,2 triliun, tumbuh 17,5 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan, pertumbuhan laba tersebut ditopang oleh peningkatan penyaluran kredit dan pembiayaan.
“Laba bersih BRI di semester I 2026 sebesar Rp31,2 triliun atau tumbuh 17,5 persen secara year on year,” ujar Hery dalam konferensi pers Kinerja Kuartal II 2026, Senin, 31 Agustus 2026.
Hingga Juni 2026, kredit dan pembiayaan BRI tumbuh 16,2 persen yoy menjadi Rp1.646 triliun. Segmen UMKM masih menjadi penopang utama dengan penyaluran mencapai Rp1.235,4 triliun atau tumbuh 8,6 persen yoy.
Sementara itu, kredit konsumer mencapai Rp236,9 triliun, tumbuh 8,9 persen yoy. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang KPR yang naik 12 persen, BRI Multiguna tumbuh 9,5 persen, serta KKB yang melonjak 404,3 persen.
Dari sisi kualitas aset, NPL BRI turun menjadi 2,9 persen dari 3,07 persen pada 2025. Rasio loan at risk (LAR) juga membaik menjadi 9,1 persen dari 9,6 persen pada Desember 2025.
BRI juga berhasil menekan cost of fund menjadi 2,4 persen dari 3 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Total aset perseroan tumbuh 11,7 persen yoy menjadi Rp2.352 triliun.
Baca juga: Calon DGS BI Aida Soroti Likuiditas Himbara, Ini Kebijakan yang Disiapkan
2. Bank Mandiri
Bank Mandiri menempati posisi kedua dengan laba bersih konsolidasi Rp30,4 triliun. Meski berada di bawah BRI dari sisi nominal laba, pertumbuhan laba Mandiri justru lebih tinggi, yakni 24,4 persen yoy.
Pertumbuhan laba tersebut didukung pendapatan yang meningkat 10,3 persen yoy serta ekspansi kredit yang tumbuh kuat.
Direktur Commercial Banking Bank Mandiri Totok Priyambodo mengatakan pertumbuhan laba tersebut merupakan hasil dari ekspansi kredit yang tumbuh sehat dan terarah.
“Pencapaian laba ini adalah hasil dari kualitas ekspansi kredit yang kami jaga, dengan penyaluran yang difokuskan ke sektor produktif dan padat karya, sehingga berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja di berbagai wilayah Indonesia,” ucap Totok.
Hingga Juni 2026, kredit bank only Bank Mandiri mencapai Rp1.592 triliun atau tumbuh 19,9 persen yoy. Pertumbuhan tersebut berada di atas rata-rata industri yang mencapai 12,7 persen yoy.
Dari sisi pendanaan, DPK bank only Bank Mandiri mencapai Rp1.710 triliun, tumbuh 17,1 persen yoy. Sementara kredit pada ekosistem pemerintah dan BUMN mencapai Rp489 triliun atau tumbuh 41,6 persen yoy.
Dengan selisih laba hanya sekitar Rp800 miliar dari BRI, Bank Mandiri menjadi pesaing terdekat dalam perebutan posisi bank Himbara dengan laba terbesar.
3. BNI
BNI berada di posisi ketiga dengan laba bersih semester I 2026 sebesar Rp10,8 triliun.
Kinerja tersebut ditopang pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) yang tumbuh 14,2 persen yoy menjadi Rp22,3 triliun.
Dari sisi intermediasi, kredit BNI tumbuh agresif 24,4 persen yoy menjadi Rp968,5 triliun. Ekspansi tersebut dilakukan dengan diversifikasi portofolio pada segmen korporasi, menengah, UMKM, hingga konsumer.
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan perseroan terus memperkuat fundamental bisnis melalui pertumbuhan yang berorientasi pada kualitas, penguatan bisnis inti, serta transformasi organisasi dan digital.
“Di tengah perubahan lingkungan bisnis yang semakin dinamis, BNI mengarahkan sumber daya pada sektor dan ekosistem yang memiliki prospek pertumbuhan sehat. Pendekatan ini memungkinkan perseroan menjaga produktivitas aset sekaligus meningkatkan relevansi layanan bagi nasabah di setiap segmen,” ujar Putrama.
Kualitas aset BNI juga membaik. LAR turun dari 11 persen menjadi 8,1 persen, sedangkan NPL berada di level 1,9 persen. Fee based income turut tumbuh 14,2 persen menjadi Rp9 triliun.
4. BTN
BTN menempati posisi keempat dengan laba bersih konsolidasi Rp2,4 triliun pada semester I 2026. Meski secara nominal masih berada di bawah tiga bank Himbara lainnya, pertumbuhan laba BTN menjadi yang paling tinggi, yakni 40,8 persen yoy.
Pertumbuhan laba didorong penyaluran kredit dan pembiayaan yang mencapai Rp418,11 triliun, naik 11,2 persen yoy.
Bisnis perumahan tetap menjadi mesin utama BTN. Kredit perumahan tumbuh 4,8 persen yoy menjadi Rp332,88 triliun, sedangkan kredit non-perumahan melonjak 46,1 persen menjadi Rp85,22 triliun.
KPR subsidi juga masih menjadi kontributor penting dengan penyaluran Rp196,96 triliun atau tumbuh 8,1 persen yoy.
Direktur Utama BTN Nixon Napitupulu mengatakan kinerja tersebut menunjukkan transformasi perseroan berjalan sesuai target.
“Pencapaian ini merupakan hasil dari transformasi selama satu dekade yang secara konsisten kami lakukan. Kami optimistis hingga akhir tahun nanti, kinerja BTN tetap on track melanjutkan catatan positif di paruh pertama tahun ini,” ujar Nixon.
5. BSI
BSI melanjutkan kinerja positifnya dengan membukukan laba bersih Rp4,15 triliun di kuartal II 2026 atau meningkat double digit 11,08 persen secara tahunan atau year on year (yoy) dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp3,74 triliun.
Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, mengatakan capaian laba bersih tersebut tak lepas dari kinerja intermediasi yang solid. Pembiayaan perseroan mengalami pertumbuhan 15,98 persen yoy menjadi Rp340 triliun.
Dari sisi pendanaan, total dana yang dihimpun BSI tumbuh 21,81 persen menjadi Rp393,34 triliun dari periode yang sama tahun lalu Rp322,90 triliun. Pertumbuhan DPK tersebut ditopang oleh tabungan yang meningkat 22,32 persen yoy.
Sedangkan dari sisi profitabilitas, pertumbuhan fee based income BSI tercatat tumbuh sangat agresif. Hingga Juni 2026, untuk pertama kalinya BSI bisa memiliki rasio fee based income mencapai 22,54 persen.
Sejalan dengan kinerja keuangan yang solid, total aset BSI ikut terdongkrak 15,96 persen yoy menjadi Rp464 triliun.
Baca juga: Bos OJK: Himbara Sudah Siapkan Likuiditas Jelang Penarikan Dana SAL Akhir 2026
BRI Unggul Nominal, BTN Paling Kencang
Persaingan Himbara pada semester I 2026 menunjukkan dua wajah berbeda. BRI unggul dari sisi nominal laba dengan Rp31,2 triliun, sementara Bank Mandiri mencatat pertumbuhan laba lebih tinggi di antara dua bank dengan laba terbesar, yakni 24,4 persen.
BNI menyusul dengan laba Rp10,8 triliun, sedangkan BTN membukukan laba Rp2,4 triliun. Menariknya, BTN mencatat pertumbuhan laba paling tinggi sebesar 40,8 persen yoy, menunjukkan akselerasi kinerja yang signifikan meski skala laba masih berada di bawah bank Himbara lainnya.
Dengan demikian, adu kuat Himbara pada semester I 2026 bukan hanya soal siapa yang mencetak laba terbesar, tetapi juga siapa yang mampu menjaga pertumbuhan, kualitas aset, serta ekspansi kredit secara berkelanjutan. (*)


