Poin Penting
- Sebanyak 43 persen dari 141 anggota AFTECH telah membukukan keuntungan berdasarkan Annual Member Survey 2025-2026
- BEI membuka peluang kerja sama dengan AFTECH untuk mendampingi perusahaan fintech yang siap melantai di bursa dalam 1-2 tahun ke depan.
- Sebanyak 86 persen anggota AFTECH telah mengadopsi kecerdasan buatan (AI) dalam operasional bisnisnya.
Jakarta – Industri fintech Indonesia mulai menunjukkan kematangan bisnis. Berdasarkan Annual Member Survey (AMS) 2025-2026 Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH), sebanyak 43 persen dari 141 perusahaan anggota AFTECH tercatat telah membukukan keuntungan atau laba.
Capaian tersebut sekaligus membuka peluang bagi perusahaan fintech untuk melangkah ke pasar modal dan menjadi perusahaan terbuka melalui penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO).
Baca juga: Perusahaan Milik UGM Bersiap IPO, Bidik Dana Segar Rp45,22 Miliar
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, menyambut positif peluang tersebut. Menurutnya, BEI terbuka untuk bekerja sama dengan AFTECH dalam memberikan pendampingan kepada perusahaan fintech yang telah siap melantai di bursa.
“Tentu kami menyambut baik apabila nanti akan ada kerjasama antara Bursa Efek Indonesia dengan AFTECH bagaimana bursa bisa memberikan pendampingan kepada anggota AFTECH yang memang sudah siap untuk IPO, misalnya dalam 1-2 tahun ke depan untuk kita bisa berikan pendampingan dan nanti siap untuk IPO,” ucap Jeffrey kepada media dikutip, 2 September 2026.
Selain mencatatkan profitabilitas yang semakin baik, adopsi teknologi juga menjadi salah satu karakteristik utama industri fintech. Berdasarkan AMS 2025-2026, sebanyak 86 persen anggota AFTECH telah mengadopsi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam operasional bisnisnya.
Jeffrey menilai tingginya adopsi AI di industri fintech berpotensi memberikan warna baru terhadap sektor-sektor perusahaan yang tercatat di BEI.
Baca juga: BEI Catat 7 Perusahaan Masih Antre IPO Saham, Didominasi Sektor Kesehatan
Upaya BEI dalam mendorong perusahaan untuk masuk ke pasar modal sebelumnya juga dilakukan melalui kerja sama dengan Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf).
Pendampingan tersebut dilakukan melalui program roadshow Workshop Go Public dan coaching clinic bagi pelaku Usaha Ekonomi Kreatif bertajuk KreatIPO.
Program ini ditujukan untuk meningkatkan literasi finansial sekaligus membuka akses pendanaan melalui pasar modal. (*)
Editor: Galih Pratama


