Poin Penting:
- Harga beras naik Rp100 per kilogram di sejumlah pasar tradisional Kabupaten Lebak.
- Pasokan beras medium dari penggilingan disebut melimpah dan harga diproyeksikan kembali turun.
- BPS mencatat harga beras sepanjang Agustus 2026 tetap meningkat di seluruh rantai distribusi.
Jakarta – Harga beras naik di sejumlah pasar tradisional Kabupaten Lebak, Banten, meski pasokan disebut melimpah. Kenaikannya rata-rata mencapai Rp100 per kilogram dalam tiga hari terakhir.
Kondisi tersebut terjadi pada beras kualitas medium di tingkat pedagang eceran. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lebak menilai kenaikan tersebut masih relatif kecil.
Kondisi pasokan menjadi perhatian karena kenaikan terjadi saat sejumlah daerah mulai memasuki masa panen. Situasi itu membuat harga beras diperkirakan kembali melemah pada pekan depan.
Sejumlah warga Rangkasbitung Kabupaten Lebak berharap harga kebutuhan pokok stabil agar daya beli masyarakat meningkat.
“Kami berharap harga bahan pokok itu menurun, karena persediaan melimpah,” kata Sumiyati, seorang ibu rumah tangga warga Rangkasbitung, Lebak, dikutip Antara, Rabu (2/9).
Baca juga: Harga Beras Kompak Naik di Penggilingan hingga Eceran, BPS Ungkap Penyebabnya
Pasokan Beras Melimpah Belum Tekan Harga
Kepala Bidang Perdagangan Disperindag Kabupaten Lebak Yani mengatakan kenaikan terjadi pada beberapa jenis beras medium. Beras medium KW 1 kini dijual Rp14.000 per kilogram dari Rp13.900 sebelumnya.
Sementara itu, beras medium KW 2 naik menjadi Rp12.800 per kilogram. Harga sebelumnya berada di level Rp12.700 per kilogram.
Beras medium KW 3 juga mengalami kenaikan menjadi Rp12.000 per kilogram. Sebelumnya, beras tersebut dijual Rp11.900 per kilogram.
Meski terjadi kenaikan, Yani menyebut pasokan dari pabrik penggilingan masih melimpah. Kondisi itu membuat kenaikan harga beras dinilai belum terlalu signifikan.
“Kami meyakini harga beras medium pekan depan kembali turun, karena diberbagai daerah memasuki panen khususnya di areal persawahan yang terdapat air,” katanya.
Harga Beras Naik di Tengah Pergerakan Harga Pangan
Pergerakan harga beras terjadi ketika sejumlah komoditas pangan justru mengalami penurunan. Cabai besar turun menjadi Rp43.900 per kilogram dari Rp45.000 sebelumnya.
Cabai rawit hijau juga turun menjadi Rp48.500 per kilogram dari Rp49.100 sebelumnya. Harga bawang merah melemah menjadi Rp32.800 per kilogram dari Rp33.000 sebelumnya.
Komoditas lainnya cenderung stabil dalam periode tersebut. MinyaKita bertahan Rp18.000 per kemasan, sedangkan minyak goreng tanpa merek Rp20.000.
Minyak premium tercatat Rp22.000 per kemasan dan telur Rp25.000 per kilogram. Gula putih berada di Rp18.500 per kilogram.
Harga daging sapi tercatat Rp148.000 per kilogram dan daging kerbau Rp150.000. Sementara daging unggas berada di level Rp40.300 per kilogram.
Yani mengatakan pasokan bahan pokok tetap melimpah meski harga bergerak tipis. Kondisi tersebut berlangsung seiring musim kemarau panjang.
“Kami mencatat harga bahan pokok naik tipis dan pasokan melimpah seiring musim kemarau panjang,” katanya menjelaskan.
Data BPS Ungkap Harga Beras Naik di Semua Rantai Distribusi
Badan Pusat Statistik mencatat kenaikan harga beras pada Agustus 2026. Kenaikan tersebut terjadi mulai tingkat penggilingan, grosir, hingga eceran.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan beras mengalami inflasi 0,42 persen bulanan. Komoditas tersebut memberikan andil 0,02 persen terhadap inflasi nasional.
“Inflasi yang terjadi pada beras di Agustus ini tercermin dari penurunan potensi luas panen dan produksi beras pada Agustus 2026. Walaupun inflasi beras tidak semata-mata disebabkan oleh produksi padi di lapangan, inflasi beras juga ini dipengaruhi terutama oleh faktor distribusi beras ke pasarnya, terutama pada beberapa wilayah di Indonesia kan ada sentra produksinya ada juga yang non-sentra produksinya,” ujar Ateng dalam Rilis BPS, Selasa, 2 Juni 2026.
Menurut Ateng, Agustus secara historis merupakan masa transisi setelah puncak panen raya berakhir. Pada fase tersebut, pasokan gabah dan beras menuju penggilingan cenderung lebih terbatas.
Namun, proyeksi produksi beras kumulatif hingga Oktober 2026 masih relatif aman. Kondisi tersebut dinilai mampu menjaga ketersediaan pasokan nasional.
Harga beras di tingkat penggilingan secara keseluruhan naik 1,32 persen secara bulanan. Secara tahunan, harganya meningkat 5,52 persen.
Berdasarkan kualitas, harga beras premium naik 1,22 persen secara bulanan. Kenaikannya mencapai 10,07 persen secara tahunan.
Sementara itu, beras medium naik 1,48 persen secara bulanan. Secara tahunan, kenaikannya tercatat 4,03 persen.
“Jadi secara yoy untuk beras premium kenaikannya lebih tinggi diabndingkan dengan beras medium,” kata Ateng.
Di tingkat grosir, beras mengalami inflasi 0,80 persen secara bulanan. Secara tahunan, inflasi beras grosir mencapai 4,28 persen.
Harga rata-rata beras grosir mencapai Rp14.901 per kilogram. Angka tersebut meningkat dari Rp14.783 per kilogram pada bulan sebelumnya.
Pada tingkat eceran, inflasi beras mencapai 0,42 persen secara bulanan. Secara tahunan, kenaikannya tercatat 2,77 persen.
Harga rata-rata beras eceran mencapai Rp15.641 per kilogram. Harga tersebut meningkat dari Rp15.575 per kilogram pada April 2026.
“Data tersebut merupakan rata-rata harga beras berbagai kualitas yang dihimpun dari seluruh wilayah Indonesia,” tutup Ateng.
Baca juga: Produksi Beras Capai 2,47 Ton di Juni 2026, Naik 6,09 Persen
Swasembada Beras Jadi Penopang Ketersediaan Pangan
Di tengah pergerakan harga, pemerintah menyatakan produksi pangan nasional terus diperkuat. Komisi IV DPR RI mengapresiasi capaian swasembada delapan komoditas strategis.
Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto menyampaikan apresiasi tersebut. Menurutnya, capaian itu memperkuat ketahanan pangan dan kemandirian bangsa.
“Pertama perlu kita berikan apresiasi. Komisi IV memberikan apresiasi kepada Kementerian Pertanian yang telah berhasil merealisasikan swasembada delapan komoditas pertanian,” kata Titiek.
Delapan komoditas tersebut mencakup beras, jagung, dan gula konsumsi. Komoditas lainnya adalah daging ayam ras, telur ayam ras, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan capaian tersebut tidak lepas dari dukungan Komisi IV DPR RI. Dukungan tersebut mencakup pengawalan dan masukan terhadap kebijakan pertanian.
“Terima kasih atas dukungannya. Semua capaian ini bukan semata Kementan, tapi dukungan luar biasa Ibu Ketua, Wakil Ketua, seluruh Komisi IV DPR RI. Hampir mustahil kita capai semua ini tanpa Bapak Ibu semua yang memberi support luar biasa, memberi masukan,” kata Amran.
Amran menegaskan capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama berbagai pihak. Pemerintah, DPR, pemerintah daerah, petani, penyuluh, dan pemangku kepentingan turut terlibat.
“Ini luar biasa. Alhamdulillah dari 11 komoditas strategis ada delapan yang sudah swasembada,” ucap Amran.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menyampaikan capaian swasembada delapan komoditas strategis. Pernyataan tersebut disampaikan dalam Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR serta DPD.
Capaian tersebut disebut berlangsung lebih cepat dari target awal pemerintah. Neraca pangan 2026 menunjukkan produksi nasional melampaui kebutuhan sejumlah komoditas strategis.
Produksi beras diproyeksikan mencapai 34,77 juta ton pada 2026. Angka tersebut berada di atas kebutuhan nasional sebesar 31,10 juta ton.
Produksi jagung diperkirakan mencapai 18 juta ton. Sementara kebutuhan nasional jagung tercatat sebesar 16,44 juta ton.
Di tingkat konsumen, warga berharap pasokan melimpah dapat mendorong harga lebih rendah. Sumiyati, warga Rangkasbitung, menilai stabilitas harga penting bagi daya beli masyarakat.
“Kami berharap harga bahan pokok itu menurun, karena persediaan melimpah,” kata Sumiyati.
Dengan pasokan yang disebut melimpah dan produksi nasional yang meningkat, tekanan harga masih menjadi perhatian. Masyarakat kini menanti apakah kenaikan harga beras hanya bersifat sementara atau berlanjut. (*)
Editor: Galih Pratama


