Peluang Yuan Masuk Global Reserve Currency

Peluang Yuan Masuk Global Reserve Currency

Merujuk pada besaran hak voting yang dimiliki Tiongkok, kemungkinan besaran komposisi mata uang yuan akan berada di angka 5%-10%. Hal itu bisa terjadi jika usulan memasukkan yuan ke dalam special drawing rights diterima. Fikri C. Permana

Jakarta–Sejak pertemuan International Monetary Fund (IMF) terakhir yang diadakan di Washington pada 2010, isu akan kemungkinan masuknya mata uang Tingkok, yaitu Chinese yuan (CNY)/renminbi (RMB), sebagai salah satu bagian dari global reserve currency (dikenal dengan special drawing rights atau SDR alias mata uang dunia) telah mulai bergulir. Selain dari dalam negeri, dukungan agar yuan berperan dalam SDR juga mendapat dukungan dari Jerman dan Australia.

Namun, sebelumnya perlu dilihat bahwa kemungkinan yuan digunakan sebagai bagian dari SDR setidaknya harus memenuhi syarat desirable dan accessible. Dalam arti, yuan dapat digunakan sebagai alat tukar dan memiliki nilai nominal tertentu terhadap semua barang/jasa yang diperdagangkan (desirable) serta dapat digunakan secara luas, baik di dalam negeri maupun luar negeri (accessible).

Setidaknya terdapat dua hal yang mampu menjadi faktor pendorong untuk memperhitungkan yuan sebagai salah satu komponen dalam SDR. Satu, penggunaan yuan dalam perputaran pasar uang global. Dari data Triennial Central Bank Survey terakhir (BIS, 2013), yuan berada dalam urutan kesembilan sebagai mata uang yang paling banyak digunakan dalam perputaran pasar uang global, dibawah dolar Australia (AUD), Franc-Swiss (CHF), dolar Kanada (CAD), dan peso Meksiko (MXN). Terlebih bila dibandingkan dengan empat mata uang yang telah tergabung dalam SDR, yakni dolar Amerika Serikat (USD), euro (EUR), yen Jepang (JPY), ataupun pound sterling (GBP).

Namun, jika melihat laju share yuan dalam rentang 2010 hingga 2013yang meningkat 48,15% tiap tahunnya, maka dalam waktu tiga-lima tahun ke depan yuan berpotensi berada di urutan kelima sebagai mata uang yang paling banyak digunakan dalam perputaran pasar uang global.

Dua, besaran dan pengaruh perdagangan Tiongkok. Semenjak 2012 hingga saat ini Tiongkok merupakan negara dengan share total perdagangan terbesar di dunia. Pada 2014 total perdagangan Tiongkok tercatat US$4,3 triliun atau mencapai 11,3% dari total perdagangan dunia. Ditambah dengan neraca perdagangan yang selalu mencatatkan surplus, setidaknya dalam 20 tahun terakhir, diharapkan akan mampu meminimalkan kekhawatiran akan munculnya triffin dilemma akibat trade deficit yang terjadi di Amerika Serikat (AS) dan besarnya ketergantungan terhadap dolar AS.

Layaknya faktor pendorong, yuan juga setidaknya memiliki dua faktor penghambat dalam memasukkannya sebagai salah satu komponen SDR. Satu, dari faktor tingkat suku bunga (interest parity). Selain memiliki tingkat nilai tukar terhadap hampir seluruh mata uang di dunia, SDR memiliki tingkat suku bunga (SDR interest rate). Metode penentuan SDR interest rate akan ditentukan secara mingguan sesuai dengan pembobotan dari instrumen suku bunga jangka pendek masing-masing mata uang. Walaupun dalam tahun ini Tiongkok telah beberapa kali melakukan adjustment terhadap tingkat suku bunganya, nilai tersebut masih sangat tinggi dibandingkan dengan empat negara (atau kawasan) yang telah tergabung sebagai komponen dalam SDR.

Dua, dari sisi financial-political power. Saat melakukan perubahan komposisi mata uang yang tergabung dalam SDR di IMF annual meeting sebelumnya (2010), dukungan hak voting minimal yang harus diusung adalah sebesar 85% (foreign policy, 16 Juni 2015). Saat ini hak voting Tiongkok di IMF sebesar 6,07%, sementara hak voting terbesar dimiliki AS dengan nilai 16,47%. Jika cara pengambilan keputusan yang sama juga berlaku bagi pengambilan keputusan dalam menentukan apakah yuan bisa tergabung sebagai salah satu komponen SDR, secara matematika sederhana, AS akan menjadi batu sandungan yang besar.

Dari kedua faktor pendorong dan penghambat yang relatif memiliki kekuatan sama, perhatian lebih perlu dialamatkan pada bagaimana bentuk hubungan ekonomi dan politik Tiongkok dan AS yang terlihat “saling bermitra” sekaligus “saling sikut” satu sama lain. Seperti diketahui, kedua negara itu saat ini sedang getol-getolnya memperbaiki pertumbuhan ekonomi di masing-masing negara.

Karenanya, saat PBOC tiba-tiba melakukan devaluasi yuan terhadap dolar AS pada 12 Agustus 2015 dengan alasan untuk menjaga stabilitas mata uangnya, pada saat yang sama juga memberikan sinyal pada currency war antara dua negara tersebut. Dorongan akan apresiasi dolar (sekaligus capital inflow ke AS) kemungkinan akan berdampak pada tertundanya peningkatan The Fed sementara waktu. Hal ini demi mengurangi over valued dolar, seterusnya dalam mengurangi competitive disadvantage bagi produk-produk ekspor AS akibat nilai dolar yang “terasa lebih mahal” daripada sebelumnya.

Merujuk pada hal-hal tersebut, dalam rangka menciptakan daya beli dan pertumbuhan ekonomi yang makin baik antarbangsa di dunia sekaligus menciptakan resiliensi di pasar keuangan dan global risk sharing, kemungkinan usulan yuan untuk dimasukkan dalam SDR akan mampu diterima. Namun, hal ini dimungkinkan dengan catatan bahwa komposisi yuan dalam SDR memiliki nilai yang terbatas.

Leave a Reply

Your email address will not be published.