Poin Penting
- HSBC Tiongkok menyiapkan fasilitas kredit USD4 miliar untuk mendukung ekspansi global sektor energi bersih, termasuk ke Indonesia
- Pembiayaan difokuskan ke energi terbarukan, kendaraan listrik, pusat data, dan AI seiring besarnya kebutuhan investasi hijau Indonesia
- HSBC menilai kerja sama Indonesia-Tiongkok dan ACFTA 3.0 akan mempercepat pengembangan ekonomi hijau di kawasan.
Jakarta – HSBC Tiongkok meluncurkan fasilitas kredit senilai USD4 miliar guna mendukung ekspansi global perusahaan Tiongkok di sektor energi bersih dan rendah karbon. Indonesia menjadi salah satu target utama dalam penyaluran pembiayaan tersebut.
Melalui Sustainability and Transition Credit Facility, HSBC menyediakan akses pembiayaan bagi perusahaan Tiongkok yang memenuhi kriteria di berbagai sektor strategis, mulai dari energi terbarukan, transportasi elektrik, pusat data, hingga kecerdasan buatan (AI).
Saat ini, Tiongkok tercatat menyumbang sekitar 47 persen ekspor teknologi bersih (cleantech) global, termasuk sekitar dua pertiga ekspor panel surya dan baterai dunia.
Di sisi lain, penjualan kendaraan listrik global diproyeksikan mencapai 26 juta unit pada 2026. Sementara itu, konsumsi listrik pusat data global diperkirakan melonjak hampir dua kali lipat, dari sekitar 485 TWh pada 2025 menjadi 945 TWh pada 2030.
Baca juga: HSBC Ingatkan Dampak Harga Minyak Tembus USD100, BI Rate Berpotensi Naik
Ekspansi pasar tersebut turut diperkuat oleh ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) 3.0 Upgrade Protocol yang diteken di Kuala Lumpur pada Oktober 2025. Perjanjian ini untuk pertama kalinya memperluas cakupan kerja sama perdagangan Tiongkok-ASEAN ke sektor ekonomi hijau, ekonomi digital, serta konektivitas rantai pasok.
Presiden Direktur HSBC Indonesia, Stuart Rogers menyatakan bahwa transisi energi di Indonesia adalah salah satu peluang investasi energi bersih terbesar di kawasan, dan skala pembiayaan yang dibutuhkan untuk memenuhi target 2030 sangat signifikan, sebagaimana tertuang dalam Comprehensive Investment and Policy Plan (CIPP) dari Just Energy Transition Partnership (JETP).
“Indonesia adalah salah satu negara dengan peluang investasi energi bersih paling signifikan di Asia Tenggara. Kebutuhan pendanaan diproyeksikan sekitar USD97 miliar untuk mencapai target iklim Indonesia tahun 2030,” ujar Stuart, dalam keterangan resmi, Kamis, 28 Mei 2026.
Di lain sisi, rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) terbaru Indonesia tahun 2025 menargetkan pengembangan 42.569 MW kapasitas energi terbarukan baru pada tahun 2034, lebih dua kali lipat dari kapasitas dalam rencana sebelumnya.
Lebih lanjut, Indonesia dan Tiongkok juga sepakat untuk memperdalam kerja sama transisi energi dalam beberapa tahun terakhir, dengan kemitraan yang melampaui perdagangan dan infrastruktur tradisional, yakni mencakup pengembangan energi terbarukan, rantai pasok baterai, produksi kendaraan listrik, dan sistem energi digital.
“Keselarasan prioritas kebijakan ini mendukung fasilitas kredit terbaru HSBC yang dirancang untuk membantu menyalurkan pendanaan ekonomi hijau dari Tiongkok ke pasar seperti Indonesia,” ucap Stuart.
Fasilitas pembiayaan baru dari HSBC ini bertujuan menghadirkan teknologi dan solusi bersih ke pasar secara lebih efisien, sehingga turut berkontribusi pada upaya dekarbonisasi di seluruh dunia.
“HSBC akan memberikan perluasan limit kredit bagi perusahaan yang memenuhi syarat, menyederhanakan proses persetujuan kredit, serta mengembangkan solusi keuangan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing bisnis,” imbuh Stuart.
Baca juga: Caplok Bisnis HSBC, OCBC Bidik Pertumbuhan Wealth Management di RI
Di lain sisi, Global Head of Sustainable Finance and Transition HSBC, Natalie Blyth mengatakan, Tiongkok adalah rumah bagi sejumlah perusahaan rendah karbon paling dinamis di dunia.
Perusahaan-perusahaan ini menetapkan tolok ukur baru dalam manufaktur kelas atas, sekaligus memainkan peran penting dalam mentransformasi ekosistem transisi energi.
“Seiring perusahaan berkembang secara internasional, mereka membutuhkan mitra finansial dengan jangkauan global dan keahlian untuk mendukung mereka. Fasilitas kredit ini dirancang untuk menyediakan dukungan tersebut, membantu nasabah untuk menavigasi peluang pertumbuhan di seluruh ekosistem global,” tukas Natalie. (*) Steven Widjaja


