Poin Penting
- Bank Mega Syariah mengutamakan pertumbuhan berkelanjutan dengan menjaga profitabilitas, kualitas aset, dan tata kelola di tengah BI Rate tinggi.
- Pembiayaan korporasi dan penguatan CASA menjadi strategi utama untuk mendorong pertumbuhan bisnis dan memperluas ekosistem nasabah.
- Layanan haji terintegrasi digital banking dioptimalkan untuk meningkatkan penghimpunan dana murah dan memperluas penetrasi pasar perbankan syariah.
Jakarta – Ketidakpastian ekonomi global dan domestik menjadi tantangan bagi industri perbankan, terutama kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) I. Di tengah tingginya suku bunga dan gejolak ekonomi, bank dituntut menjaga profitabilitas sekaligus memastikan keberlanjutan bisnis.
Direktur Utama Bank Mega Syariah, Yuwono Waluyo menyampaikan bahwa kenaikan BI Rate mencapai 100 basis poin (bps), pelemahan nilai tukar rupiah, hingga eskalasi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang mendorong lonjakan harga minyak dunia telah memberikan tekanan yang cukup besar bagi perbankan.
“Itu membuat challenge yang cukup berat ya. Apalagi especially buat saya, terutama di bank-bank KBMI I atau II bahkan,” ujar Yuwono dalam wawancara khusus dengan Infobanknews, Kamis, 23 Juli 2026.
Baca juga: Pembiayaan Konsumer Bank Mega Syariah Tumbuh 17 Persen di Juni 2026
Pria yang akrab disapa Yoyo itu menilai kondisi tersebut membuat bank-bank berkapitalisasi kecil menghadapi tantangan lebih besar dalam menjaga profitabilitas. BI Rate yang berada di level 5,75 persen juga memicu persaingan suku bunga dana, terutama di kelompok bank besar, sehingga mempersempit ruang gerak bank KBMI I.
Meski demikian, ia menegaskan Bank Mega Syariah tidak hanya berorientasi pada pencapaian laba, tetapi juga menjaga pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
“Buat saya dalam bisnis salah satunya adalah menjaga sustainability dalam profitability. Tantangan itu menjadi tambah berat dengan kondisi sekarang. Sehingga harus benar-benar bisa mengatur irama terhadap pertumbuhan bisnis itu sendiri untuk menjaga profitability tidak tergerus cukup dalam,” katanya.
Baca juga: Bank Mega Syariah Pacu Pertumbuhan Tabungan Haji
Namun, Ia percaya, bank yang di nakhodainya akan tetap bertahan dalam berbagai situasi maupun kondisi.
Yoyo menyatakan pengalaman melewati berbagai krisis hingga pandemi Covid-19 menjadi bekal penting bagi Bank Mega Syariah untuk tetap Tangguh d tengah tekanan.
Ke depan, Yoyo menegaskan fokus perusahaan bukan sekedar mengejar pertumbuhan bisnis, namun memastikan seluruh aktivitas bisnis berada dalam koridornya, seperti tetap menjelankan tata kelola yang baik dan prinsip kehati-hatian. Menurutnya, kualitas aset yang sehat harus menjadi prioritas utama.
“Kita mau tumbuh tapi kesehatan (aset) itu penting ya. Jadi tata kelola, manajemen risiko, dan lain-lain itu harus tetap dijaga dalam kondisi seperti saat ini,” tegasnya.
Arah Kebijakan ke Depan
Yoyo menyatakan visi utamanya adalah membawa Bank Mega Syariah tumbuh menjadi bank syariah lebih besar di industri. Namun, pertumbuhan tersebut tidak cukup hanya diukur dari peningkatan aset, melainkan harus dibangun melalui strategi bisnis yang tepat dan berkelanjutan.
“Makanya saya bilang ke teman-teman kalau kita mau besar, yang pertama itu adalah harus bagaimana kita bisa memastikan untuk kita menjalankan arahnya harus ke arah yang besar terus. Jadi cara berpikirnya juga harus besar,” ujar Yoyo.
Untuk mewujudkan target tersebut, Yoyo menargetkan untuk memperkuat pembiayaan korporasi sebagai motor pertumbuhan. Pihaknya, akan menciptakan ekosistem dengan seluruh potensi bisnis yang dimiliki nasabah korporasi, mulai layanan payroll, hingga pembiayaan bagi karyawan.
“Sehingga itu adalah salah satu bangunan untuk pembiayaan secara retail. Salah satu bangunan untuk kita membangun basis-basis dana murah,” tukasnya.
Baca juga: Fungsi Intermediasi Solid, Laba Bank Mega Syariah Tumbuh 17,56 Persen di Juni 2026
Menurutnya, bank syariah memiliki keunikan tersendiri dengan mengoptimalkan keunggulan produk-produk yang tidak bisa ditawarkan oleh bank konvensional kepada nasabah, seperti tabungan haji dan umrah. Potensi tersebut bisa dimanfaatkan untuk menggali dana murah alias Current Account Saving Account (CASA).
“Dengan populasi masyarakat Islam yang cukup banyak di Indonesia, harusnya potensi itu kan sangat besar. Orang yang mau umrah, orang yang mau haji, dan derivatif daripada produk-produk yang very specific di Syariah. Jadi accessibility orang untuk mengakses produk kita itu adalah salah satu kunci. Saya berusaha untuk kita mendekat ke market,” tukasnya.
Sebagai bagian dari strategi tersebut, Bank Mega Syariah mengombinasikan layanan pendaftaran haji dengan layanan digital banking. Melalui pendekatan ini, jemaah tidak hanya menjadi nasabah pendaftaran haji, tetapi juga didorong memanfaatkan tabungan digital sebagai sarana mempersiapkan kebutuhan ibadah sekaligus mencapai target keuangan lainnya. (*)
Editor: Yulian Saputra


