Poin Penting
- Bank Neo Commerce (BNC) membukukan laba Rp294,85 miliar pada semester I 2026, naik 6,81 persen (yoy)
- Realisasi kredit turun 11,79 persen menjadi Rp7,13 triliun, namun pembiayaan UMKM dan konsumer naik 6,68 persen, dengan NPL membaik ke 2,99 persen.
- Adapun DPK mencapai Rp12,30 triliun, sementara total aset BNC tercatat Rp17,45 triliun per Juni 2026.
Jakarta – PT Bank Neo Commerce Tbk atau BNC mencatatkan kinerja positif di semester I 2026. Per Juni, bank digital ini mencatatkan laba bersih setelah pajak (profit after tax/PAT) Rp294,85 miliar, meningkat 6,81 persen secara year-on-year (yoy) dibandingkan tahun lalu di periode yang sama Rp276,05 miliar.
Direktur Utama PT Bank Neo Commerce Tbk, Eri Budiono, mengatakan bahwa hasil kinerja semester I 2026 merupakan refleksi dari fokus perseroan dalam membangun fondasi bisnis yang lebih sehat sebagai bekal memasuki fase pertumbuhan berikutnya.
“Semester I 2026 menunjukkan bahwa strategi kami untuk mengutamakan kualitas pertumbuhan, efisiensi operasional, serta pengelolaan risiko yang lebih disiplin telah memberikan hasil yang positif,” ujar Eri dalam Media Gathering di Jakarta, 31 Juli 2026.
Baca juga: Bank Neo Commerce Bukukan Laba Rp136,98 Miliar di Kuartal I 2026
Dari sisi intermediasi, realisasi kredit BNC memang mengalami tekanan di sepanjang paruh pertama tahun 2026. Tercatat total kredit BNC mencapai Rp7,13 triliun di Juni 2026, atau terkoreksi 11,79 persen yoy dari tahun lalu Rp8,09 triliun. Penurunan kredit ini sejalan dengan strategi perseroan dalam melakukan optimalisasi portofolio dan kualitas aset di tengah kondisi ekonomi yang menantang.
“Penurunan tersebut terutama berasal dari segmen komersial dan korporat sebagai bagian dari langkah Perseroan untuk melakukan optimalisasi portofolio serta meningkatkan kualitas aset di tengah kondisi ekonomi yang masih penuh tantangan,” jelas Eri.
Di sisi lain, kata Eri, strategi tersebut justru menghasilkan pertumbuhan pada segmen-segmen yang menjadi fokus utama perseroan. Penyaluran kredit kepada segmen konsumer dan UMKM secara gabungan meningkat menjadi Rp5,80 triliun, dibandingkan Rp5,44 triliun pada semester I 2025, atau tumbuh 6,68 persen yoy.
“Ini menunjukkan bahwa BNC untuk terus memperkuat pembiayaan pada segmen yang memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang sekaligus menjaga kualitas portofolio kredit,” jelasnya.
Realisasi kredit tersebut juga terjaga kualitasnya. Ini tercemin dari rasio non performing loan (NPL) gross berhasil ditekan menjadi 2,99 persen dibandingkan 3,10 persenpada periode yang sama tahun sebelumnya.
Perbaikan kualitas kredit tersebut merupakan hasil dari penguatan tata kelola risiko, penyempurnaan proses underwriting yang dilakukan secara digital, serta penerapan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit.
Sementara di tengah kondisi likuiditas industri perbankan yang masih relatif ketat, BNC tetap menjaga kondisi likuiditas yang sehat melalui pengelolaan likuiditas yang prudent dan terukur. Per Juni 2026, dana pihak ketiga (DPK) perseroan mencapai Rp12,30 triliun.
Baca juga: Bukan Penghambat Kredit, SLIK Jadi Acuan Bank Analisis Debitur
“Dana tabungan meningkat menjadi Rp3,39 triliun atau tumbuh 2,10 persen yoy dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menunjukkan kepercayaan nasabah yang terus terjaga terhadap BNC,” ujarnya.
Dari pos pendapatan, BNC mencatatkan pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) Rp1,11 triliun, sementara pendapatan berbasis komisi (Fee Based Income) meningkat menjadi Rp59,66 miliar, atau tumbuh 6,77 persen yoy
Sedangkan dari sisi produk, berbagai layanan kini semakin diminati masyarakat. Salah satu di antaranya adalah layanan QRIS yang mengalami peningkatan signifikan jumlah transaksi sebesar 124 persen, dari 119,3 juta kali transaksi di Juni 2025 menjadi 267,4 juta kali transaksi di Juni 2026
Adapun pendapatan yang dihasilkan dari transaksi QRIS, terjadi lompatan peningkatan sebesar 246 persen menjadi Rp25,8 miliar di akhir Juni 2026 dari sebelumnya Rp7,4 miliar di Juni 2025.
Menutup paruh pertama tahun 2026, BNC mencatatkan total aset sebesar Rp17,45 triliun. Ke depan, BNC akan terus memperkuat fundamental bisnis melalui pengembangan produk dan layanan digital yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, peningkatan kualitas layanan, optimalisasi efisiensi operasional, hingga peningkatan pemanfaatan teknologi secara tepat. (*)


