Poin Penting
- Pembiayaan utang neto pemerintah mencapai Rp477,4 triliun pada semester I 2026 atau 57,4 persen dari pagu APBN 2026.
- Pembiayaan melalui Surat Berharga Negara (SBN) mencapai Rp501,2 triliun atau 62,7 persen dari pagu.
- Realisasi pinjaman tercatat minus Rp23,8 triliun atau minus 72,8 persen dari target APBN 2026.
Jakarta – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan pembiayaan utang neto pemerintah mencapai Rp477,4 triliun pada semester I 2026. Nilai tersebut setara 57,4 persen dari pagu pembiayaan utang dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang ditetapkan sebesar Rp832,2 triliun.
“Pembiayaan utang dikelola secara prudent dan terukur serta memperhatikan likuiditas pemerintah, kondisi kas yang optimal dan dinamika pasar keuangan,” tulis dokumen APBN Kita edisi Juli 2026, dikutip, Selasa, 28 Juli 2026.
Secara keseluruhan, pembiayaan utang tersebut terdiri atas penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp501,2 triliun atau 62,7 persen dari pagu APBN 2026 yang sebesar Rp799,5 triliun.
Baca juga: Sektor Perdagangan Masih Dominasi Pembiayaan Multifinance, Piutang Rumah Tangga Melesat
Sementara itu, realisasi pembiayaan melalui pinjaman tercatat minus Rp23,8 triliun atau minus 72,8 persen dari target pagu APBN 2026 sebesar Rp32,7 triliun.
Pembiayaan Utang Pemerintah Berjalan Sesuai Target
Kemenkeu menyatakan pemenuhan pembiayaan utang berjalan sesuai target melalui langkah antisipatif dan penerapan active cash and debt management. Strategi tersebut dilakukan untuk menjaga ketersediaan kas pemerintah tetap memadai dan mempertahankan saldo anggaran lebih (SAL) pada level yang kuat.
Baca juga: Prabowo Minta Danantara Dilibatkan dalam Setiap Keputusan KSSK
Selain itu, pemenuhan target pembiayaan juga mempertimbangkan efisiensi biaya dana (cost of fund), mitigasi risiko, serta penerapan tata kelola yang baik.
Kemenkeu memastikan pengelolaan pembiayaan utang tetap dilakukan secara hati-hati dengan menjaga indikator utang pada level yang aman. (*)
Editor: Yulian Saputra


