Poin Penting
- Tidak semua utang berdampak negatif, asalkan digunakan untuk kegiatan yang menghasilkan pendapatan.
- Utang produktif digunakan untuk memperoleh aset yang mendukung aktivitas kerja atau usaha.
- Total cicilan sebaiknya tidak melebihi sekitar 30 persen dari pendapatan agar keuangan tetap sehat.
Jakarta – Utang sering kali dipandang sebagai beban keuangan. Padahal, tidak semua utang berdampak negatif. Jika digunakan untuk menunjang produktivitas dan menghasilkan pendapatan, utang justru dapat menjadi instrumen untuk meningkatkan kondisi finansial.
Financial Planner WMI dan QWP Certified, Kelly Patricia, mengatakan utang produktif merupakan pinjaman yang digunakan untuk memperoleh aset atau kebutuhan yang mampu menghasilkan uang.
“Utang produktif adalah utang yang bisa menghasilkan uang,” ujarnya dalam acara peluncuran Levela by Prudential di Jakarta, Kamis, 9 Juli 2026.
Menurut Kelly, modal usaha menjadi contoh paling umum dari utang produktif. Namun, ia tetap menyarankan masyarakat memanfaatkan tabungan terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk berutang.
“Kalau bisa, tetap pakai tabungan seadanya dulu,” katanya.
Baca juga: Menghadiri Wisuda Lulus Utang di Kuburan
Ia menambahkan, pembelian perangkat kerja seperti laptop atau telepon genggam (HP) juga dapat dikategorikan sebagai utang produktif selama benar-benar digunakan untuk bekerja, bukan sekadar mengikuti tren.
“HP untuk bekerja itu kebutuhan. Tapi membeli seri terbaru karena gengsi, itu keinginan,” jelas Kelly.
Karena itu, sebelum mengambil cicilan, masyarakat perlu memastikan barang yang dibeli benar-benar dapat mendukung aktivitas produktif. Kelly mencontohkan seorang fotografer yang membutuhkan kamera untuk bekerja.
“Jangan langsung gas beli. Hitung dulu berapa penghasilan yang bisa dihasilkan dan apakah cukup untuk membayar cicilan,” imbuh Kelly.
Baca juga: Utang Pindar Warga RI Naik 26,11 Persen di April 2026, Tembus Rp102,07 Triliun
Kelly menegaskan, ukuran utama utang produktif bukan terletak pada jenis barang yang dibeli, melainkan apakah aset tersebut mampu menghasilkan arus kas untuk menutup kewajiban cicilan.
“Apakah pinjamannya bisa menghasilkan uang kembali? Kalau iya, itu utang produktif,” katanya.
Selain itu, ia mengingatkan agar total cicilan tetap berada dalam batas yang sehat, yakni tidak melebihi sekitar 30 persen dari pendapatan.
Dengan menjaga rasio utang, masyarakat dapat memanfaatkan pinjaman sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas tanpa mengganggu kondisi keuangan di masa depan. (*) Alfi Salima Puteri


