Poin Penting:
- Banjir Gorontalo akibat luapan Sungai Didingga berdampak pada 2.817 jiwa di lima desa Kecamatan Biau.
- BNPB bersama BPBD, TNI, Polri, Tagana, dan relawan mendirikan dapur umum serta menyalurkan bantuan logistik kepada warga terdampak.
- Sebanyak 826 rumah terendam, tiga rumah hanyut, dan 20 rumah mengalami kerusakan berat akibat banjir bandang.
Jakarta – Bencana banjir Gorontalo yang dipicu luapan Sungai Didingga di Kabupaten Gorontalo Utara berdampak besar terhadap ribuan warga.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 2.817 jiwa terdampak dan ratusan rumah mengalami kerusakan maupun terendam akibat banjir bandang yang melanda wilayah tersebut.
Sebagai langkah penanganan darurat, BNPB memastikan posko dapur umum telah didirikan untuk menjamin ketersediaan logistik bagi warga terdampak.
Fasilitas tersebut menjadi prioritas dalam fase tanggap darurat guna mendistribusikan makanan siap saji secara berkala kepada masyarakat yang membutuhkan.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan berbagai unsur telah bergerak melakukan penanganan pascabanjir dan penyaluran bantuan logistik.
“BPBD Kabupaten Gorontalo Utara bersama TNI, Polri, Tagana, relawan, dan aparat terkait, melakukan penanganan pascabanjir, mendirikan dapur umum, serta mendistribusikan logistik makanan bagi warga terdampak,” kata dia dikutip Antara, Selasa (2/6/2026).
Baca juga: Banjir Rendam Gorontalo, BMKG Imbau Warga Waspada Cuaca Ekstrem
Penanganan Banjir Gorontalo Diperkuat Status Tanggap Darurat
Penanganan banjir Gorontalo semakin diperkuat setelah Pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Banjir melalui Surat Keputusan (SK) Bupati Gorontalo Utara Nomor 116/V/2026.
Menurut BNPB, status tersebut berlaku selama 30 hari, terhitung sejak 26 Mei hingga 24 Juni 2026. Penetapan status tanggap darurat menjadi dasar percepatan mobilisasi sumber daya dan bantuan bagi masyarakat yang terdampak bencana.
Lima Desa Terdampak, Ribuan Warga Jadi Korban
Direktorat Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB melaporkan bencana hidrometeorologi basah itu terjadi setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut pada 26 Mei 2026. Curah hujan yang tinggi menyebabkan Sungai Didingga meluap dan menimbulkan genangan dengan ketinggian antara 40 hingga 200 sentimeter.
Dampak banjir Gorontalo paling besar dirasakan oleh warga di Kecamatan Biau. Sedikitnya lima desa terdampak, yakni Desa Biau, Desa Bualo, Desa Omuto, Desa Didingga, dan Desa Luhuto.
Secara keseluruhan, jumlah warga terdampak mencapai 2.817 jiwa. Angka tersebut menunjukkan besarnya dampak sosial yang ditimbulkan oleh luapan sungai terhadap kehidupan masyarakat setempat.
Baca juga: Banjir Luapan Semeru Rendam Rumah 300 Keluarga di Lumajang
Kerusakan Fisik Signifikan, Genangan Kini Sudah Surut
Selain menimbulkan dampak terhadap penduduk, bencana ini juga menyebabkan kerusakan fisik yang cukup serius. BNPB mencatat tiga rumah warga hanyut terbawa arus, sementara 20 rumah mengalami kerusakan berat.
Di samping itu, sebanyak 826 rumah lainnya dilaporkan terendam air saat banjir melanda kawasan permukiman. Kerusakan tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam proses pemulihan pascabencana.
Berdasarkan pembaruan kondisi per 1 Juni 2026, seluruh genangan di wilayah terdampak telah surut sepenuhnya. Meski demikian, sisa material kayu dan endapan lumpur tebal masih ditemukan di sejumlah lingkungan permukiman warga sehingga proses pembersihan dan pemulihan masih terus dilakukan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak banjir Gorontalo belum sepenuhnya berakhir meskipun air telah surut. (*)
Editor: Galih Pratama


