Poin Penting
- Sebanyak 77 perusahaan meraih predikat “sangat bagus” dalam Rating 127 Multifinance Versi Infobank 2026
- Laba industri multifinance turun 18,07 persen menjadi Rp18,45 triliun pada 2025, seiring perlambatan pembiayaan, pelemahan daya beli masyarakat, dan lesunya sektor otomotif
- Meski 45 perusahaan mengalami penurunan laba dan 24 perusahaan mencatat kerugian, puluhan multifinance tetap mampu menjaga kinerja dan memperkuat fundamental bisnis
Jakarta – Di saat banyak perusahaan pembiayaan (multifinance) harus berjuang keras menghadapi tekanan yang datang bertubi-tubi, 77 perusahaan justru tampil bersinar dengan meraih predikat “sangat bagus”, menurut “Rating 127 Multifinance Versi Infobank 2026”.
Industri multifinance sendiri memang tidak sedang berada di masa yang mudah. Tahun 2025 menjadi periode yang penuh tantangan, dengan berbagai tekanan yang membuat laju pertumbuhan industri semakin melambat. Kondisi ini bahkan bisa disebut sebagai kelanjutan dari tren perlambatan yang sudah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir.
Data Biro Riset Infobank menunjukkan laba industri multifinance turun cukup dalam. Sepanjang 2025, laba industri tercatat Rp18,45 triliun atau merosot 18,07 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini jauh lebih buruk dibandingkan penurunan laba pada 2024 yang masih berada di level minus 2,12 persen.

Jujur saja, jika ditarik lebih jauh ke belakang, perlambatan itu terlihat sangat jelas. Setelah sempat mencetak pertumbuhan laba fantastis sebesar 117,58 persen pada 2021, pertumbuhannya terus menurun menjadi 33,18 persen pada 2022, lalu 12,98 persen pada 2023, sebelum akhirnya masuk zona negatif pada 2024 dan semakin terpuruk pada 2025. Gambaran ini menunjukkan bahwa tantangan industri multifinance tak datang secara tiba-tiba, melainkan berkembang secara bertahap.
Perlambatan laba berjalan seiring dengan melambatnya pertumbuhan pembiayaan. Pada 2025, total pembiayaan hanya tumbuh 0,61 persen menjadi Rp506,50 triliun. Padahal, pada 2022 dan 2023 industri masih mampu membukukan pertumbuhan double digit, sementara pada 2024 pertumbuhannya masih mencapai 6,92 persen.
Di sisi kualitas pembiayaan, tantangan juga belum sepenuhnya reda. Rasio non performing financing (NPF) dalam jangka panjang cenderung meningkat dari 2,32 persen pada 2022 menjadi sekitar 2,50 persen pada 2025. Meski demikian, ada secercah kabar baik karena NPF 2025 sedikit membaik dibandingkan posisi 2024 yang sempat menyentuh 2,70 persen.
Performa masing-masing perusahaan juga memperlihatkan dinamika yang cukup dramatis. Dari 127 perusahaan pembiayaan yang dirating, sebanyak 45 perusahaan mengalami penurunan laba dan 24 perusahaan mencatatkan kerugian. Tapi, jumlah perusahaan yang merugi berkurang dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 28 perusahaan.
Menurut kajian Infobank Institute, melemahnya daya beli masyarakat menjadi salah satu faktor utama yang menekan industri. Gelombang PHK, menyusutnya kelas menengah, dan bertambahnya pekerja informal membuat kemampuan masyarakat untuk berbelanja maupun membayar cicilan ikut melemah. Efeknya terasa langsung pada bisnis pembiayaan yang sangat bergantung pada konsumsi domestik.
Tekanan juga datang dari sektor otomotif yang menjadi motor utama pembiayaan multiguna. Penjualan kendaraan bermotor terus menurun sejak 2023 dan pada 2025 turun 7,2 persen menjadi 803.687 unit. Kondisi ini membuat ruang ekspansi pembiayaan semakin sempit dan bikin pelaku industri harus bekerja ekstra keras mencari sumber pertumbuhan baru.
Belum selesai sampai di situ, pelemahan nilai tukar rupiah ikut menambah beban industri. Banyak perusahaan multifinance memiliki kewajiban dalam valuta asing sehingga kenaikan biaya pokok dan bunga utang sulit dihindari. Di saat yang sama, risiko pembiayaan sektor riil, tekanan pada UMKM, hambatan penagihan, hingga lemahnya penegakan hukum membuat risk profile industri semakin kompleks.
Ke depan, tantangan diperkirakan masih berlanjut. Kenaikan suku bunga yang mendorong naiknya cost of fund, persaingan likuiditas yang makin ketat, hingga kebijakan ekspor komoditas satu pintu berpotensi memberikan tekanan tambahan. Di sisi lain, tuntutan sustainability dan risiko perubahan iklim juga mulai menjadi faktor yang tidak bisa lagi diabaikan oleh pelaku industri.
Di tengah situasi yang serba tak gampang itu, hasil “Rating 127 Multifinance Versi Infobank 2026” menjadi sorotan utama. Rating ini memotret kinerja keuangan 127 perusahaan pembiayaan sepanjang 2025 dan menghasilkan fakta menarik: sebanyak 77 perusahaan sukses meraih predikat “sangat bagus”.
Raihan tersebut menunjukkan bahwa masih ada banyak pemain yang mampu menjaga growth, memperkuat fundamental, dan mempertahankan kualitas bisnis di tengah badai industri. Karena itu, predikat “sangat bagus” layak dipandang sebagai bukti ketangguhan sekaligus pencapaian keren dari perusahaan-perusahaan yang berhasil melewati tahun penuh tekanan dengan hasil yang cemerlang.
Jadi, perusahaan pembiayaan mana saja yang berhasil mendapat predikat “sangat bagus” tahun ini? Dan perusahaan mana saja yang rapornya merah di 2025? (*) Ari Nugroho
- Baca laporan lengkap “Rating 127 Multifinance Versi Infobank 2026 di Majalah Infobank No. 578 edisi Juni 2026. Berlangganan & pembelian majalah hub: 0852-8802-0094 atau kunjungi www.infobankstore.com.


