Poin Penting
- Surplus perdagangan Indonesia April 2026 turun tajam menjadi USD89,1 juta, namun masih memperpanjang tren surplus 72 bulan beruntun
- Surplus nonmigas USD3,53 miliar menahan defisit migas USD3,44 miliar pada April 2026.
- Januari-April 2026, surplus perdagangan mencapai USD5,64 miliar, ditopang AS, India, dan Filipina.
Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 mencatatkan surplus sebesar USD89,1 juta. Ini jauh lebih rendah dibandingkan Maret yang surplus USD3,32 miliar, bahkan lebih rendah dibandingkan April 2025 yang surplus USD160 juta.
“Neraca perdagangan Indonesia tercatat surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020,” ujar Pudji Ismartini, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS dalam Rilis BPS, Selasa, 2 Juni 2026.
Pudji menjelaskan surplus neraca perdagangan April 2026 ditopang oleh surplus pada komoditas non migas yang sebesar USD3,53 miliar. Dengan komoditas penyumbang surplus utama adalah lemak dan minyak hewan/nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.
Baca juga: Breaking News! Indonesia Alami Inflasi 0,28 Persen pada Mei 2026
Sedangkan, neraca perdagangan untuk komoditas migas menunjukkan defisit sebesar USD3,44 miliar, dengan komoditas penyumbang defisit adalah minyak mentah, hasil minyak, dan gas alam.
Secara kumulatif, neraca perdagangan pada Januari-April 2026 mencatatkan surplus sebesar USD5,64 miliar yang ditopang oleh surplus komoditas non migas yang sebesar USD14,16 miliar. Sementara, migas mengalami defisit sebesar USD8,52 miliar.
Adapun, tiga negara dengan surplus neraca perdagangan Indonesia, yaitu Amerika Serikat (AS) mengalami surplus sebesar USD5,76 miliar. Kemudian, India surplus sebesar USD4,41 miliar dan Filipina surplus USD2,93 miliar.
Sementara itu, untuk tiga negara yang mengalami defisit terbesar, yaitu Tiongkok defisit sebesar USD7,59 miliar, Australia defisit USD3,29 miliar, dan Singapura defisit USD2,82 miliar.
Lebih rinci lagi, tiga negara penyumbang surplus non migas, yaitu AS mengalami surplus USD6,81 miliar, didorong oleh komoditas mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, alas kaki, serta pakaian dan aksesorinya (rajutan).
Disusul, India surplus USD4,44 miliar dengan komoditas bahan bakar mineral, lemak, dan minyak hewani/nabati, mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya.
Kemudian, Filipina surplus USD2,77 miliar dengan komoditas kendaraan dan bagiannya, bahan bakar mineral, serta lemak dan minyak hewani/nabati.
Baca juga: Ekspor Indonesia Capai USD92,15 Miliar hingga April 2026, Naik 5,48 Persen
Sedangkan, tiga negara penyumbang defisit terdalam non migas yaitu, Tiongkok defisit USD8,03 miliar, dengan komoditas mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya, mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, serta plastik dan barang dari plastik.
Selanjutnya, Australia mengalami defisit USD3,05 miliar, dengan komoditas utama logam mulia dan perhiasan/permata, serealia, dan bahan bakar mineral. Sedangkan Argentina defisit USD0,73 miliar, dengan komoditas serealia, ampas, serta sisa industri makanan, ikan, krustasea dan moluska. (*)
Editor: Galih Pratama


