Poin Penting
- Tugure membukukan laba bersih Rp110 miliar pada 2025, didorong peningkatan hasil jasa asuransi dan investasi.
- Transformasi pelaporan melalui PSAK 117 menjadi kunci peningkatan transparansi dan kualitas kinerja Tugure.
- Tugure memperkuat strategi selektif dan pengelolaan risiko untuk menghadapi dinamika industri reasuransi ke depan.
Jakarta – PT Tugu Reasuransi Indonesia (Tugure) mencatat kinerja keuangan yang solid sepanjang tahun buku 2025, dengan laba bersih mencapai Rp110 miliar. Capaian ini menjadi tonggak penting bagi Tugure seiring penerapan standar akuntansi terbaru PSAK 117 yang memperkuat transparansi laporan keuangan.
Penerapan PSAK 117 dinilai membawa perubahan signifikan dalam cara penyajian kinerja, khususnya pada sektor jasa asuransi. Standar ini memungkinkan laporan keuangan mencerminkan kondisi yang lebih komprehensif dan akurat, sekaligus meningkatkan kualitas informasi bagi pengambilan keputusan.
Berdasarkan laporan keuangan audited per 31 Desember 2025, hasil jasa asuransi melonjak menjadi Rp192,2 miliar dari sebelumnya Rp8,9 miliar. Sementara itu, hasil investasi juga tumbuh 57 persen menjadi Rp254,4 miliar, dibandingkan Rp161,2 miliar pada 2024.
Baca juga: Tugure Buka Suara soal Merger Reasuransi BUMN, Masih Tahap Kajian
PSAK 117 jadi Fondasi Transformasi
Direktur Keuangan Tugure, Dradjat Irwansyah, menegaskan bahwa penerapan PSAK 117 menjadi fondasi penting dalam meningkatkan kualitas pelaporan keuangan perusahaan.
“Penerapan PSAK 117 mewajibkan kami menyajikan kinerja jasa asuransi secara transparan dan mencerminkan kondisi keuangan yang sebenarnya. Ini menjadi fondasi penting dalam memperkuat kualitas laporan keuangan dan pengambilan keputusan ke depan,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).
Transformasi ini tidak hanya berdampak pada transparansi, tetapi juga mendorong peningkatan indikator kinerja utama Tugure secara signifikan. Kinerja positif tersebut mencerminkan penguatan fundamental bisnis yang didukung disiplin underwriting dan pengelolaan portofolio yang lebih selektif.
Strategi Selektif Hadapi Tantangan Industri
Memasuki 2026, Tugure memandang prospek industri reasuransi tetap menjanjikan meskipun kompetisi semakin ketat akibat fase softening market. Dalam situasi ini, Perseroan tetap mengedepankan strategi pertumbuhan yang selektif dan berkelanjutan.
Di sisi permodalan, Tugure menunjukkan posisi yang kuat dengan ekuitas mencapai Rp1,5 triliun. Angka ini telah memenuhi ketentuan modal minimum industri reasuransi tahun 2026 sesuai regulasi Otoritas Jasa Keuangan. Perseroan juga menargetkan peningkatan kapasitas dengan mencapai KPPE 2 pada 2028, dengan proyeksi ekuitas tumbuh organik hingga Rp2 triliun.
Baca juga: Tugure Raih Best Public Relations 2026 atas Strategi Komunikasi Ketahanan Reasuransi
Penguatan Fundamental dan Ekspansi Terukur Tugure
Di tengah tekanan global seperti volatilitas ekonomi dan ketegangan geopolitik, Tugure memperkuat pengelolaan risiko secara prudent. Langkah ini menjadi krusial mengingat perubahan siklus pasar reasuransi yang mulai melunak.
Perseroan juga terus memperkuat strategi bisnis melalui peningkatan kualitas underwriting, optimalisasi portofolio, serta memperluas kolaborasi dengan mitra domestik. Selain itu, peluang ekspansi tetap dibuka secara selektif, baik di pasar dalam negeri maupun regional, dengan mempertimbangkan profil risiko dan potensi profitabilitas.
Dengan fundamental yang semakin kokoh pasca implementasi PSAK 117, Tugure optimistis mampu menjaga kinerja berkelanjutan dan berkontribusi dalam memperkuat industri reasuransi nasional. (*)
Editor: Yulian Saputra




