Poin Penting:
- Trump menyiapkan rencana serangan yang lebih besar ke Iran dengan target di luar operasi di Selat Hormuz.
- AS mengancam menyerang fasilitas energi, pembangkit listrik, dan jembatan jika Iran menolak kembali berunding.
- PBB memperingatkan eskalasi konflik dan penutupan Selat Hormuz berisiko memicu krisis kemanusiaan global.
Jakarta – Trump dikabarkan menyiapkan serangan militer yang lebih besar terhadap Iran. Cakupannya kali ini di luar operasi yang sedang berlangsung di Selat Hormuz.
Rencana itu dibahas dalam rapat khusus di Ruang Situasi Gedung Putih bersama jajaran pejabat tinggi Amerika Serikat.
Pertemuan yang berlangsung pada Selasa (14/7) itu dihadiri Wakil Presiden J.D. Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth.
Laporan Axios menyebut rapat membahas opsi serangan baru terhadap sasaran strategis di Iran.
Sejak 8 Juli, militer AS telah melancarkan beberapa gelombang serangan ke Iran.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan operasi tersebut merupakan respons atas “campur tangan” Iran terhadap pelayaran komersial di Selat Hormuz.
Baca juga: AS Serang Iran Lagi, Ketegangan di Selat Hormuz Belum Reda
Trump Tegaskan Serangan Akan Diperluas
Trump menegaskan pemerintah Amerika Serikat belum memiliki rencana kembali membuka perundingan dengan Iran. Washington memilih mempertahankan tekanan militer di tengah meningkatnya konflik.
“Untuk saat ini saya tidak ingin berunding. Saya tegaskan, kami tidak bernegosiasi. Tiga hari yang lalu, kami memiliki kesepakatan,” kata Trump dalam wawancara dengan Fox News pada Selasa (14/7).
Ia juga memastikan operasi militer akan terus berlangsung hingga pemerintahannya memutuskan untuk menghentikannya. Menurutnya, seluruh sasaran di sepanjang pesisir Iran telah masuk daftar target.
“Kami menghantam mereka dengan sangat keras. Kami menghantam setiap sasaran yang mereka miliki di sepanjang pesisir… Serangan akan terus berlanjut sampai saya mengatakan sudah cukup,” ujarnya.
Trump mengatakan fasilitas energi Iran belum menjadi prioritas dalam tahap saat ini. Namun, ia memastikan sektor tersebut akan menjadi sasaran berikutnya.
“Saya akan menyimpan sasaran energi untuk tahap terakhir, tetapi pada akhirnya kami akan menyerang fasilitas energi,” katanya.
Ia juga mengancam akan memperluas operasi mulai pekan depan dengan menyasar pembangkit listrik dan jembatan jika Iran tetap menolak kembali ke meja perundingan.
“Malam ini kami akan menyerang mereka dengan sangat keras. Besok malam juga demikian. Malam berikutnya juga. Pekan depan keadaan akan menjadi jauh lebih buruk bagi mereka karena kami akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan mereka, kecuali mereka kembali ke meja perundingan,” kata Trump.
PBB Khawatir Konflik Kian Meluas
Trump meyakini Iran pada akhirnya akan memilih mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat.
Ia mengungkapkan komunikasi kedua negara masih berlangsung hingga sekitar satu jam sebelum wawancara dilakukan.
“Mereka ingin membuat kesepakatan… Lebih baik mereka melakukannya. Jika tidak, tidak akan ada yang tersisa,” ujarnya.
Trump kembali menegaskan tekanan militer menjadi satu-satunya cara membawa Iran ke meja perundingan.
“Satu-satunya cara berunding dengan mereka adalah melalui kekuatan, dan satu-satunya kekuatan itu adalah kekuatan militer. Itulah yang kami lakukan,” katanya.
Di sisi lain, CENTCOM menyatakan serangan terbaru bertujuan melemahkan kemampuan Iran menyerang kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
Washington juga mengerahkan lebih dari 20 kapal perang dan ratusan pesawat militer ke kawasan Timur Tengah untuk memperkuat blokade laut terhadap Iran.
Baca juga: Trump Batal Pungut Tarif 20 Persen di Selat Hormuz, Diganti Investasi Arab ke AS
Ketegangan di Selat Hormuz Terus Meningkat
Komisaris Tinggi HAM PBB Volker Turk menilai konflik yang meluas antara AS dan Iran menjadi ancaman serius bagi warga sipil.
Menurutnya, eskalasi tersebut menghambat upaya perdamaian dan meningkatkan risiko pelanggaran hak asasi manusia.
“Kembalinya konflik yang lebih luas di Timur Tengah antara AS dan Iran merupakan kemunduran besar bagi warga sipil di kawasan dan sekitarnya. Hal itu merusak upaya perdamaian dan memperdalam ketidakstabilan, dengan risiko serius terhadap hak asasi manusia di seluruh kawasan,” kata Turk.
Ia juga mengingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz berpotensi mengganggu distribusi pangan, obat-obatan, dan komoditas penting di berbagai negara.
“Laporan mengenai penutupan Selat Hormuz sangat mengkhawatirkan karena dampaknya terhadap hak asasi manusia jauh melampaui kawasan itu. Gangguan terhadap distribusi pangan, obat-obatan, dan komoditas penting lainnya akan menimbulkan konsekuensi sosial, ekonomi, dan kemanusiaan, baik di tingkat regional maupun global,” ujarnya.
Sementara itu, Iran terus meningkatkan respons militernya dengan menyerang sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) juga dilaporkan terlibat baku tembak dengan pasukan AS di Selat Hormuz.
Meski sebelumnya sempat ada nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan untuk meredakan konflik, Trump tetap mempertahankan tekanan militer sambil menunggu respons Iran terhadap tuntutan perundingan. (*)
Editor: Galih Pratama


