Poin Penting
- Trump mengancam tarif 25% bagi negara yang berdagang dengan Iran, berlaku untuk seluruh bisnis dengan Amerika Serikat.
- Kebijakan belum didukung aturan resmi Gedung Putih, memicu kritik internasional, termasuk dari China.
- Mitra dagang utama Iran meliputi China, Turki, India, Jerman, Jepang, dan Korea Selatan, berpotensi terdampak kebijakan tersebut.
Jakarta - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan pernyataan kontroversial terkait kebijakan tarif resiprokal atau pajak perdagangan. Kali ini, Trump menyatakan negara mana pun yang menjalin hubungan dagang dengan Iran akan dikenai tarif sebesar 25 persen.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya tekanan terhadap Teheran, yang tengah menghadapi gelombang protes anti-pemerintah terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
"Mulai berlaku segera, negara mana pun yang berbisnis dengan Republik Islam Iran akan membayar tarif sebesar 25 persen untuk setiap dan semua bisnis yang dilakukan dengan Amerika Serikat," kata Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social, dikutip Rabu, 14 Januari 2026.
Baca juga: Pemimpin Bank Sentral Global Kompak Dukung Powell usai Ancaman Pidana Trump
Sebelumnya, Iran, anggota kelompok penghasil minyak OPEC, telah lama dikenai sanksi berat oleh Washington. Saat ini, sebagian besar ekspor minyak Iran ditujukan ke China, dengan Turki, Irak, Uni Emirat Arab, dan India termasuk mitra dagang utama lainnya.
"Perintah ini bersifat final dan mengikat," kata Trump tanpa memberikan detail lebih lanjut.
Meski demikian, hingga kini belum ada dokumentasi resmi kebijakan tersebut di situs Gedung Putih. Selain itu, belum dijelaskan dasar hukum penerapan tarif maupun apakah kebijakan tersebut akan berlaku bagi seluruh mitra dagang Iran.
Bahkan, Gedung Putih juga belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
Kritik Pedas
Sementara itu, Kedutaan Besar China di Washington menyampaikan kritik terhadap rencana kebijakan Trump dan menyatakan akan mengambil langkah untuk menentang sanksi sepihak yang dinilai melanggar hukum internasional.
"Posisi China terhadap pengenaan tarif tanpa pandang bulu konsisten dan jelas. Perang tarif dan perang dagang tidak memiliki pemenang, dan paksaan serta tekanan tidak dapat menyelesaikan masalah," kata juru bicara Kedutaan Besar China di Washington melalui akun X.
Baca juga: Apakah Benar AS Keluar dari PBB? Cek Faktanya Berikut Ini
Adapun, Jepang dan Korea Selatan, yang menyepakati perjanjian perdagangan dengan AS tahun lalu, mengatakan bahwa kedua negara tersebut tengah memantau perkembangan tersebut dengan cermat.
"Kami berencana untuk mengambil tindakan yang diperlukan setelah tindakan spesifik pemerintah AS menjadi jelas," kata Kementerian Perdagangan Korea Selatan dalam sebuah pernyataan.
Mitra Dagang Iran
Iran sendiri memiliki jaringan dagang yang cukup luas. Berdasarkan data Bank Dunia, Iran tercatat mengekspor produk ke 147 mitra dagang pada 2022.
Komoditas ekspor terbesar Iran berdasarkan nilai yakni bahan bakar. Sementara, impor utama seperti barang setengah jadi, sayuran, mesin, serta berbagai peralatan industri.
Mengutip Al Jazeera, berikut sejumlah mitra dagang utama Iran:
1. China
China adalah mitra dagang terbesar Iran dengan perdagangan bilateral lebih dari USD13 miliar pada 2024, menurut United Nations Comtrade, sebuah basis data global statistik perdagangan internasional resmi.
Namun, karena sanksi, banyak perdagangan terjadi melalui armada bayangan dan tidak tercatat secara resmi. Misalnya, data Bank Dunia dari tahun 2022 menunjukkan volume perdagangan keseluruhan antara China dan Iran bernilai USD37 miliar.
Baca juga: Ekonom Sebut China Malah Harus Bayar ‘Utang’ Proyek Kereta Cepat Whoosh, Ini Penjelasannya
China mengimpor 80 persen minyak Iran tahun lalu, memberikan pendapatan yang sangat dibutuhkan karena pembeli minyak utama lainnya, seperti India, secara drastis mengurangi impor mereka setelah sanksi AS diberlakukan selama masa jabatan pertama Trump.
Katrina Yu dari Al Jazeera, melaporkan dari Beijing, mengatakan China telah menjadi mitra dagang utama Iran sejak 2016. Perdagangan tersebut telah memberikan "jalur kehidupan ekonomi bagi Iran”.
2. Turki
Menurut data UN Comtrade tahun 2024, Turki adalah mitra dagang terbesar kedua Iran. Perdagangan antara kedua negara bernilai sekitar USD5,7 miliar.
Turki menghadapi tarif dasar dari AS sebesar 15 persen. Sejak Juni, AS telah menggandakan tarifnya untuk baja dan aluminium dari sebagian besar mitra dagangnya, termasuk Turki, menaikkannya dari 25 menjadi 50 persen.
Baca juga: Trump Ngebet Garap Cadangan Emas Venezuela, Ternyata Segini Nilainya
3. Pakistan
Pakistan adalah tujuan ekspor utama Iran, dengan total nilai ekspor sekitar USD1,2 miliar pada tahun 2024. Ekspor Pakistan ke AS saat ini menghadapi tarif 19 persen.
4. India
India mencatat nilai ekspor Iran sedikit di atas USD1,05 miliar pada 2024. India juga menghadapi tarif AS hingga 50 persen untuk baja dan aluminium.
Pekan lalu, media melaporkan rencana AS mengenakan tarif 500 persen terhadap India terkait impor minyak Rusia.
5. Jerman
Ekspor Iran ke Jerman menembus sekitar 217 juta euro dalam 11 bulan pertama 2025, naik 1,7 persen dibanding periode sebelumnya, menurut lembaga promosi perdagangan pemerintah, Germany Trade & Invest.
6. Korea Selatan
Data Asosiasi Perdagangan Internasional Korea menunjukkan sepanjang periode Januari hingga November 2025, ekspor Korea Selatan ke Iran hanya mencapai 129 juta dolar AS. Sementara itu, impor dari Iran sekitar 1,6 juta dollar AS pada periode yang sama.
Baca juga: Negosiasi Rampung, Prabowo-Trump Dijadwalkan Teken Perjanjian Dagang Akhir Januari 2026
7. Jepang
Negara ini masih tercatat melakukan perdagangan terbatas dengan Iran. Negeri Sakura mengimpor sejumlah kecil produk seperti buah-buahan, sayuran, dan tekstil dari Iran, serta mengekspor mesin dan motor kendaraan. (*)
Editor: Yulian Saputra










