Poin Penting
- Kapitalisasi pasar tokenisasi aset global naik 5,38 persen dalam 30 hari menjadi USD32,18 miliar (±Rp563 triliun), menunjukkan tren pertumbuhan yang kuat
- OJK menilai tokenisasi aset membuka peluang investasi lebih terjangkau, seiring meningkatnya aktivitas di platform seperti PT Pintu Kemana Saja (PINTU)
- Di Indonesia, PINTU mencatat kenaikan pengguna 9,49 persen dan lonjakan transaksi 87,32 persen, dengan 48 aset tokenisasi lintas sektor global untuk diversifikasi portofolio investor.
Jakarta – Minat investor kripto terhadap tokenisasi aset terus mencatatkan pertumbuhan positif. Berdasarkan data dari RWA.xyz, per 12 Mei 2026, total kapitalisasi pasar tokenisasi aset secara global dalam 30 hari terakhir mengalami kenaikan 5,38 persen menyentuh USD32,18 miliar atau sekitar Rp563 triliun.
Sementara dari pasar domestik, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyambut baik perkembangan teknologi blockchain dan kriptografi salah satunya tokenisasi aset telah yang telah membuka peluang investasi dengan nilai yang relatif terjangkau.
Dari sisi transaksi, OJK mencatat nilai transaksi aset kripto per Maret 2026 mencapai Rp22,24 triliun. Capaian transaksi tersebut seiring dengan peningkatan akun konsumen investasi kripto yang naik sebesar 1,43 persen secara month to date menjadi 21,37 juta konsumen.
Baca juga: Transaksi Kripto Turun jadi Rp22,24 Triliun di Maret 2026
Khusus untuk transaksi tokenisasi aset, sejumlah platform investasi aset kripto di Tanah Air pun mencatatkan pertumbuhan yang positif. Seperti halnya yang dirasakan PINTU.
Head of Product Marketing PINTU Iskandar Mohammad mengungkapkan, transaksi tokenized asset terus di PINTU menunjukkan pertumbuhan yang positif. Pada April 2026, jumlah pengguna secara kumulatif meningkat 9,49 persen dibandingkan Maret 2026.
“Rata-rata transaksi per pengguna mengalami pertumbuhan hingga 87,32 persen,” jelas Iskandar dikutip 18 Mei 2026.
Adapun lima tokenized asset yang paling aktif diperdagangkan pada April 2026 secara berurutan adalah iShares Silver Trust (SLVON), Apple (AAPLX), Palantir Technologies (PLTRON), Tesla (TSLAX), serta Alibaba Group (BABAON).
Melihat tren tersebut, PINTU telah menghadirkan 48 aset yang tertokenisasi. Aset-aset ini merepresentasikan berbagai sektor industri global, mulai dari teknologi dan Artificial Intelligence (AI), semikonduktor, e-commerce, layanan keuangan, consumer goods, kesehatan, energi, telekomunikasi, hingga instrumen investasi seperti ETF dan emas digital.
“Dengan pilihan aset yang semakin beragam, investor Indonesia kini bisa mendapatkan eksposur ke berbagai industri global langsung dari ekosistem kripto,” jelas Iskandar.
Saat ini aset tertokenisasi di PINTU mencakup 48 tokenized assets dari berbagai sektor industri global, yaitu Apple, Alphabet, Meta Platforms, Tesla, NVIDIA, Microsoft, Amazon, dan JPMorgan Chase & Co.
Baca juga: KBLI 2025 Diluncurkan: AI, Kripto, Carbon Capture Kini Punya Kode Usaha
Ada juga beberapa instrumen investasi lainnya yang memberikan eksposur ke teknologi dan AI, keuangan, consumer goods, healthcare, energi, aerospace & defense, precious metals, obligasi pemerintah AS, hingga ETF global.
“Tokenisasi aset memungkinkan investor kripto untuk membangun portofolio investasi global yang terdiversifikasi melalui ekosistem kripto,” jelasnya.
Meski begitu, Iskandar mengimbau kepada invetor untuk memahami produk, melakukan riset secara menyeluruh, dan menerapkan manajemen risiko yang baik agar keputusan investasi tetap selaras dengan tujuan finansial jangka panjang. (*)


