Poin Penting
- BSI rampungkan migrasi core banking, meningkatkan efisiensi operasional hingga 80 persen dan kapasitas sistem
- Transformasi IT memperkuat target BSI meraih 40 juta nasabah pada 2030
- Secara kinerja, laba BSI tumbuh 16,73 persen menjadi Rp3,39 triliun hingga Mei 2026 di tengah transformasi digital.
Jakarta – PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) menuntaskan salah satu proyek teknologi terbesarnya melalui migrasi core banking dari R10 ke R24.
Langkah tersebut diklaim meningkatkan efisiensi operasional hingga 80 persen sekaligus memperbesar kapasitas sistem untuk mendukung pertumbuhan bisnis digital dan inovasi produk.
Migrasi yang rampung pada pertengahan Mei 2026 itu menjadi bagian dari transformasi sistem teknologi informasi (IT) yang dijalankan BSI selama satu tahun terakhir.
Proyek tersebut melibatkan sekitar 1.500 personel lintas fungsi dan dilaksanakan secara bertahap melalui berbagai rehearsal dengan pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Daya Anagata Nusantara (Danantara) guna memastikan implementasi berjalan aman, terkendali, dan transparan.
Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo mengatakan transformasi teknologi menjadi kebutuhan strategis seiring pesatnya digitalisasi industri keuangan dan pertumbuhan bisnis BSI. Posisi BSI yang kini masuk dalam lima besar bank di Indonesia menuntut standar layanan dan sistem yang setara dengan bank-bank besar nasional.
Baca juga: Bos BSI: Penarikan Dana SAL Bertahap Permudah Pengelolaan Likuiditas
“Sekarang BSI berdampingan dengan bank besar karena sudah masuk 5 besar bank di Indonesia. Ekspektasi nasabah adalah layanan, sistem harus sama dengan bank besar. Untuk itu, kami berupaya menyediakan layanan setara sesuai ekspektasi nasabah,” ujar Anggoro, di Jakarta, Rabu, 1 Juli 2026.
Bidik 40 Nasabah pada 2030
Ia menambahkan, transformasi tersebut menjadi fondasi penting bagi BSI untuk mencapai visi sebagai Top 5 Global Islamic Bank sekaligus mendukung target BSI memiliki 40 juta nasabah pada 2030.
Saat ini, availability seluruh channel BSI mencapai 99,99 persen sehingga transaksi melalui kanal digital maupun jaringan cabang dapat berlangsung lancar.
Selain itu, kapasitas sistem yang tersedia dinilai masih sangat besar untuk mendukung penambahan nasabah maupun pengembangan fitur baru.
“Ruang untuk menumbuhkan nasabah, inovasi untuk fitur baru di BYOND sangat luas karena kapasitas terpakai masih di bawah 10 persen. Nasabah akan merasakan manfaat dari kekuatan dan kecepatan IT BSI yang baru,” tambahnya.
Di tengah proses transformasi tersebut, BSI tetap mencatat pertumbuhan bisnis yang solid. Hingga Mei 2026, BSI meraup laba bersih (unaudited) sebesar Rp3,39 triliun atau tumbuh 16,73 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Adapun total aset mencapai Rp444 triliun, dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp372 triliun, dan pembiayaan sebesar Rp335 triliun dengan kualitas yang tetap terjaga.
Anggoro menyebut, dalam satu tahun terakhir BSI juga mencatat pertumbuhan signifikan dari dual licence yang dimiliki, yakni sebagai bank syariah dan bank emas.
Menurutnya, layanan bank emas menjadi sumber pertumbuhan baru yang membuka peluang untuk menjangkau segmen nasabah yang sebelumnya belum tergarap.
“Bank emas menjadi engine baru kami menggaet segmen yang selama ini belum dapat kami jangkau,” ujarnya.
Sementara itu, jumlah nasabah BSI tercatat meningkat menjadi lebih dari 24 juta per April 2026. Pertumbuhan tersebut didukung oleh perolehan izin usaha bank emas pada Februari 2025 serta perubahan status BSI menjadi Persero pada awal 2026 yang semakin memperkuat posisi perseroan dalam ekosistem strategis BUMN.
Untuk mendukung ekspansi bisnis, BSI terus memperkuat layanan digital melalui BYOND by BSI untuk segmen ritel dan BEWIZE by BSI bagi nasabah institusi atau wholesale.
Baca juga: BSI Nilai Dana SAL Perkuat Likuiditas dan Pembiayaan Sektor Produktif
Hingga Mei 2026, layanan mobile banking BSI telah digunakan lebih dari 10 juta pengguna dengan nilai transaksi melampaui Rp450 triliun.
Sementara itu, BEWIZE terus mencatat pertumbuhan pengguna dan transaksi sebagai salah satu penggerak bisnis wholesale perseroan.
“Ddengan dukungan ekosistem yang semakin kuat bersama Danantara, transformasi teknologi yang telah selesai serta model bisnis yang terus berkembang, BSI optimistis mampu menjadi motor penggerak ekonomi syariah nasional sekaligus menghadirkan layanan keuangan yang lebih modern, inklusif, dan kompetitif,” pungkasnya. (*) Ayu Utami


