Oleh Mahendra Siregar, Pemerhati Geopolitik
DUNIA belum menemukan tatanan baru setelah tatanan lama mulai kehilangan kemampuan untuk mengatur perilaku negara-negara di dalamnya.
Henry Kissinger, mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), melihat world order bukan semata sebagai persoalan siapa yang paling kuat. Tatanan yang relatif stabil membutuhkan dua hal: seperangkat aturan yang cukup diterima oleh para pemain utama dan keseimbangan kekuatan yang mencegah satu negara mendominasi ketika aturan saja tidak lagi cukup. Sekarang, keduanya sedang bermasalah.
PBB, WTO, IMF, dan NATO masih ada. Tetapi, ketika kepentingan strategis besar dipertaruhkan, aturan dan institusi makin tidak otomatis menentukan perilaku negara.
Keseimbangan kekuatan baru juga belum terbentuk. AS tetap menjadi kekuatan utama, sementara Tiongkok sudah menjadi pesaing serius dalam industri, perdagangan, dan teknologi. India membesar, Rusia tetap kuat secara militer, dan berbagai negara menengah makin percaya diri menjalankan kepentingannya.
Jadi, masalahnya bukan sekadar dunia yang makin multipolar. Kekuatan memang makin tersebar, tetapi belum ada keseimbangan baru yang cukup stabil untuk mengaturnya.
AS dan Tatanan yang Dibangunnya Sendiri
Perubahan ini tidak dimulai dengan Donald Trump. Kebangkitan Tiongkok, mandeknya WTO, pandemi, perang Ukraina dan kembalinya kebijakan industri sudah lama menggerus asumsi era globalisasi sebelumnya.
Tetapi, Trump mempercepatnya secara luar biasa.
Yang berubah bukan hanya tarif atau kritik terhadap lembaga multilateral, tetapi cara AS memandang sistem yang ikut dibangunnya. Pemerintahan sebelumnya juga keras memperjuangkan kepentingan nasional, namun aliansi dan institusi internasional tetap dilihat sebagai bagian dari kekuatan AS dan sumber stabilitas.
Trump jauh lebih skeptis terhadap logika itu. Sekutu harus menunjukkan kontribusinya. Mitra didorong membayar lebih untuk keamanan. Defisit perdagangan dapat dianggap sebagai bukti hubungan yang tidak adil. Tarif, akses pasar, teknologi, bahkan sebagian komitmen keamanan dapat masuk ke meja negosiasi.
AS belum meninggalkan NATO. Tetapi, sekutunya kini harus menghitung bahwa kebijakan Washington dapat berubah lebih cepat daripada dulu. Negara yang selama ini menjadi penopang utama tatanan mulai melihat sebagian aturan dan komitmennya sebagai sesuatu yang dapat dinegosiasikan kembali.
Baca juga: Ketika Pasar Obligasi Mulai Menuntut Premi Risiko dari AS
Canada Test
Perselisihan dagang AS dan Kanada menunjukkan perubahan itu dengan jelas.
Kanada bukan Tiongkok atau Rusia. Ia anggota NATO dan G7, tetangga AS, dan bagian dari sistem produksi Amerika Utara yang sangat terintegrasi. Namun, setelah perundingan dagang gagal pada Agustus 2026, AS menaikkan tarif terhadap sejumlah impor Kanada dan Kanada menyiapkan balasan.
Justru karena hubungan keduanya dekat, kasus ini penting.
Kalau tekanan ekonomi hanya digunakan terhadap rival strategis, kita masih dapat melihatnya sebagai bagian dari persaingan kekuatan besar. Tetapi, kalau instrumen yang sama digunakan terhadap salah satu sekutu terdekat, pembagian lama antara ally dan adversary mulai kurang menjelaskan hubungan ekonomi.
Kanada hampir pasti tidak akan meninggalkan AS. Pertanyaannya adalah apakah ketergantungan yang terlalu besar kepada satu negara masih dianggap aman, sekalipun negara tersebut adalah sekutu?
Hubungan itu juga tidak sepihak. Kanada sangat bergantung pada pasar AS, tetapi AS juga membutuhkan energi, mineral, dan berbagai input dari Kanada. Interdependensi menciptakan kerentanan di kedua sisi, tetapi tidak berarti daya tawar yang sama.
Kekuatan yang Makin Sulit Diukur
Teknologi mengubah arti kekuatan.
GDP, kapasitas industri, jumlah penduduk, senjata nuklir, dan anggaran pertahanan tetap penting. Tetapi, semuanya tidak lagi cukup.
Iran tidak perlu memiliki kekuatan konvensional yang seimbang dengan AS untuk menimbulkan biaya strategis tinggi. Drone, rudal presisi, dan perang asimetris dapat mengubah kalkulasi lawan. Hal serupa terlihat di Laut Merah: Houthis cukup menciptakan risiko sehingga kapal mengubah rute, premi asuransi naik dan biaya perdagangan meningkat. Kemampuan cyber bekerja dengan logika yang sama.
Yang menyebar bukan hanya kekuatan antarnegara, tetapi kemampuan menimbulkan gangguan dan biaya. Itu membuat keseimbangan kekuatan makin sulit dihitung dengan ukuran lama.
Globalisasi dan Chokepoints
Ada ironi lain dalam globalisasi.
Selama beberapa dekade, perusahaan mencari efisiensi melalui spesialisasi dan konsentrasi produksi. Tetapi, konsentrasi itu juga menciptakan titik-titik ketergantungan.
Semikonduktor tingkat lanjut, mineral kritis, komputasi AI, jaringan keuangan dan jalur pelayaran kini mempunyai nilai strategis besar. Ketika hubungan memburuk, titik ketergantungan itu dapat berubah menjadi chokepoint.
AS memiliki posisi kuat dalam advanced chips, software dan ekosistem AI. Tiongkok kuat dalam manufaktur dan pengolahan mineral kritis. Pada AI sendiri, ketergantungan tersebar pada chips, compute, models, data, dan talent. Jadi, masalahnya bukan hanya siapa memiliki teknologi terbaik, tetapi siapa dapat membatasi akses pihak lain.
Di sini terlihat paradoks globalisasi: efisiensi menciptakan interdependensi, dan interdependensi dapat berubah menjadi leverage.
Interdependensi Tidak Selalu Menahan Konflik
Selama puluhan tahun, interdependensi terutama dipandang sebagai faktor yang mengurangi konflik. Kalau dua negara mempunyai perdagangan dan investasi yang sangat besar, keduanya akan menanggung kerugian besar bila hubungan memburuk.
Itu masih benar. Tetapi, ketergantungan juga dapat dieksploitasi.
Pasar besar dapat digunakan untuk menekan negara lain. Teknologi dan pembiayaan dapat dibatasi. Tarif, sanksi, dan pembatasan ekspor memungkinkan negara menimbulkan biaya tanpa menggunakan kekuatan militer.
Dengan kata lain, interdependensi tidak hanya meningkatkan biaya konflik. Ia juga menentukan senjata apa yang tersedia di dalam konflik itu.
Karena itu, negara mulai bertanya: di mana ketergantungan kita terlalu besar, terlalu terkonsentrasi dan terlalu sulit digantikan?
Fragmentasi dan Contagion
Namun, semua ini belum tentu menghasilkan dunia yang terbagi rapi menjadi dua blok seperti Perang Dingin.
Sebuah negara dapat bergantung pada AS dalam keamanan, Tiongkok dalam perdagangan, Timur Tengah dalam energi, Eropa dalam teknologi tertentu, dan negara-negara Teluk dalam pembiayaan.
Hubungan keamanan, perdagangan, teknologi, dan keuangan tidak lagi harus berada dalam satu garis yang sama. Fragmentasi yang sedang terjadi karena itu lebih berlapis daripada bipolar.
Beberapa rantai pasok strategis akan dipisahkan dan teknologi tertentu dibatasi, tetapi perdagangan di sektor lain tetap berlangsung. Globalisasi tidak pecah menjadi dua. Ia tetap terhubung, tetapi makin selektif.
Dalam sistem seperti ini, konflik di satu tempat juga makin mudah memengaruhi keputusan di tempat lain. Bukan karena perang selalu menyebar secara geografis, tetapi karena yang menyebar adalah perubahan kalkulasi.
Perang Ukraina mengubah kebijakan energi dan pertahanan Eropa. Risiko Taiwan mendorong penguatan kapasitas semikonduktor. Konflik Timur Tengah mengubah kalkulasi pelayaran dan energi. Perselisihan AS-Kanada membuat sekutu AS mempertanyakan ketergantungan mereka sendiri.
Contagion sekarang sering terjadi melalui strategic reassessment: satu kejadian membuat negara lain melihat kembali kerentanannya sendiri, lalu mengubah investasi, rantai pasok, kebijakan industri, bahkan hubungan keamanan.
Baca juga: Pemilihan dan Tantangan Dewan Gubernur BI Baru
Transactional Geoeconomics
Dari rangkaian perubahan itulah transactional geoeconomics menjadi makin terlihat.
Istilah ini bukan teori ekonomi baru. Ia lebih menggambarkan cara negara beroperasi ketika aturan masih ada tetapi tidak selalu cukup, aliansi tetap penting tetapi tidak selalu memberikan kepastian, dan ketergantungan ekonomi sekaligus menjadi sumber keuntungan serta daya tawar.
Perdagangan, investasi, teknologi, energi, akses pasar, dan keamanan makin sulit diperlakukan sebagai bidang yang terpisah. Satu isu dapat dipertukarkan dengan isu lainnya.
Pertanyaannya tidak lagi hanya: apa aturan yang berlaku? Tetapi juga: apa yang saya miliki, apa yang Anda butuhkan, dan apa yang dapat saya peroleh dari hubungan ini?
Bargaining semacam itu bukan hal baru. Yang berbeda sekarang adalah kedalaman interdependensinya. Teknologi, keuangan, dan rantai pasok menciptakan jauh lebih banyak titik ketergantungan yang dapat menjadi instrumen tawar-menawar.
Ini tidak berarti tatanan internasional berbasis aturan sudah berakhir. WTO dan NATO masih ada. Perdagangan dan investasi lintas negara tetap besar.
Tetapi, keberadaan institusi tidak dengan sendirinya berarti institusi itu masih mempunyai kemampuan yang sama untuk menentukan hasil.
Tatanan lama belum runtuh, tetapi kemampuannya mengatur makin berkurang. Tatanan baru juga belum terbentuk.
Dalam ruang yang belum tertata itulah transactional geoeconomics berkembang – bukan karena globalisasi berakhir, tetapi karena globalisasi makin berlangsung tanpa tatanan yang cukup kuat untuk mengaturnya. (*)


