Poin Penting
- Purbaya Yudhi Sadewa mengumpulkan masukan analis ekonomi untuk memperkuat arah kebijakan fiskal 2027.
- RAPBN 2027 akan fokus pada program prioritas dengan multiplier effect tinggi.
- Optimalisasi penerimaan pajak dilakukan melalui perbaikan tax collection, tanpa kenaikan tarif.
Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengadakan pertemuan dengan sejumlah analis ekonomi sektor keuangan untuk mendiseminasikan perkembangan ekonomi terkini sekaligus menghimpun masukan dan pandangan kritis terkait arah kebijakan fiskal 2027.
Purbaya menyampaikan kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan Indonesia pada kuartal II 2026 tetap terjaga. Namun, perekonomian global masih dibayangi meningkatnya konflik geopolitik, lonjakan harga energi, dan tingginya volatilitas pasar keuangan.
“APBN akan terus menjadi shock absorber bagi perekonomian nasional sampai dengan akhir tahun 2026 ini,” kata Purbaya dalam keterangannya, Kamis, 27 Agustus 2026.
Baca juga: CIMB Niaga Prediksi Ekonomi RI Tumbuh 4,9 Persen pada Kuartal IV 2026, Ini Alasannya
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pijakan dalam menyusun Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027. Pemerintah perlu mengoptimalkan pendapatan negara, meningkatkan efisiensi belanja berkualitas, memperkuat insentif sektor riil, serta mengelola defisit dan pembiayaan utang secara prudent.
“Oleh karena itu, keterlibatan para analis ekonomi sektor keuangan menjadi sangat krusial untuk memberikan masukan berbasis data guna memitigasi risiko makroekonomi dan menjaga kredibilitas RAPBN 2027,” ucapnya.
RAPBN 2027 Fokus pada Program Berdaya Ungkit Tinggi
Purbaya mengatakan, arah kebijakan RAPBN 2027 akan difokuskan pada percepatan pelaksanaan program-program prioritas yang memiliki multiplier effect tinggi, seperti ketahanan pangan, hilirisasi, dan pengembangan sumber daya manusia (SDM).
Pemerintah juga akan menerapkan pendekatan yang lebih antisipatif dalam menghadapi gejolak global. Fleksibilitas anggaran akan diperbesar agar pemerintah memiliki ruang lebih besar untuk merespons risiko eksternal.
Baca juga: Purbaya Gelontorkan Rp7 Triliun ke BPS, Salah Satunya untuk Perbaiki DTSEN
Pajak Dioptimalkan Tanpa Kenaikan Tarif
Purbaya mengungkapkan, dalam upaya mengoptimalkan pendapatan negara, khususnya penerimaan pajak, pemerintah akan menerapkan strategi ekstensifikasi dan intensifikasi tanpa menaikkan tarif pajak.
Upaya tersebut dilakukan melalui perluasan basis pajak dengan pemanfaatan data, peningkatan kepatuhan sukarela melalui layanan yang lebih mudah, serta penegakan hukum yang adil.
“Dengan kondisi sekarang, kita bisa sukses kalau efisiensi tax collection diperbaiki. Dalam 7-8 bulan terakhir ini tax tumbuh, padahal saya tidak naikkan tax rate, tapi saya pastikan orang kerja dalam kondisi baik,” imbuhnya.
Baca juga: Purbaya Wanti-Wanti Pagu Minus, Anggaran Jangan Korbankan Program untuk Rakyat
“Ini yang akan terus saya lakukan ke depan, kita perbaiki cara mereka mengumpulkan pajak dengan berperilaku lebih baik. Yang kedua, kalau ekonomi tumbuh lebih cepat, dengan tax collection yang sama juga tax akan tetap naik,” tambahnya.
Defisit dan Pembiayaan Dijaga Tetap Sehat
Sementara itu, target defisit pada 2027 mencerminkan komitmen pemerintah untuk mengelola APBN secara sehat, kredibel, dan berkelanjutan.
Level defisit akan dijaga agar tetap memberikan ruang fiskal yang memadai untuk membiayai program-program prioritas. Pada saat yang sama, pemerintah berupaya menjaga kepercayaan investor dan memastikan rasio utang tetap berada pada jalur yang aman dan terkendali.
Pemerintah juga akan melakukan diversifikasi pembiayaan untuk menjaga stabilitas pasar surat utang dan perekonomian secara keseluruhan.
“Diversifikasi (pembiayaan) akan kita lakukan, kita akan diversifikasi untuk menjaga resourcing pembiayaan surat utang kita. Kita masih bisa jaga stabilitas, saya bisa jaga stabilitas surat utang lebih baik, artinya stabilitas ekonomi juga lebih baik,” pungkasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra


