Curah Hujan Ekstrem Picu Longsor
Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menyebut longsor di Bantargebang dipicu curah hujan ekstrem.
“Kemarin itu (curah hujannya) 264 milimeter per hari. Itu termasuk salah satu curah hujan yang tinggi di Jakarta,” kata Pramono di Balai Kota Jakarta, Senin.
Menurut dia, air hujan meresap ke dalam tumpukan sampah sehingga membuat lapisan menjadi licin dan tidak stabil. Longsor yang terjadi di zona 4A itu juga menutup jalan operasional serta Sungai Ciketing sepanjang sekitar 40 meter.
Baca juga: Wamenkeu Suahasil Tegaskan Penataan Bantaran Sungai Kunci Hunian Layak di Surakarta
Pemerintah daerah kini berupaya menormalkan kembali aliran sungai dan akses jalan yang tertutup sampah akibat insiden tersebut.
Zona Longsor Bantargebang Ditutup Sementara
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memutuskan menutup sementara zona 4A di Bantargebang untuk memudahkan proses penanganan dan pemulihan.
"Yang ditutup hanya di zona 4A. Tetapi di zona 3 tetap digunakan untuk menampung,” kata Pramono.
Operasional pengiriman sampah dari Jakarta tetap berjalan dengan mengalihkan pembuangan ke zona lain. Pemprov DKI juga menyiapkan dua area tambahan sebagai lokasi penampungan sementara.
Baca juga: Queen Máxima Apresiasi Inovasi BTN Bayar Cicilan KPR Pakai Sampah
Penanganan darurat dilakukan oleh tim gabungan yang melibatkan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan, Polda Metro Jaya, TNI, BPBD DKI Jakarta dan Kota Bekasi, serta petugas pemadam kebakaran. Proses evakuasi didukung 19 ekskavator dan 7 ambulans.
Ke depan, pemerintah berencana mengubah fungsi Bantargebang menjadi fasilitas pengolahan sampah anorganik melalui penguatan sistem pemilahan dari sumber serta optimalisasi fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan. (*)
Editor: Yulian Saputra









