Poin Penting
- Bank Banten membukukan laba Rp21,36 miliar hingga Juni 2026, melesat 239,16 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu
- Penyaluran kredit tumbuh 43,25 persen, jauh di atas industri, dengan BOPO membaik ke 91,47 persen dan NPL Gross turun di bawah 5 persen
- Meski DPK meningkat 14,84 persen, rasio CASA turun menjadi 23,48 persen akibat dominasi pertumbuhan deposito.
Jakarta – Ngebut. Begitulah gambaran kinerja Bank Pembangunan Daerah Banten (Bank Banten) pada semester I 2026. Bank yang dipimpin Muhammad Busthami sebagai direktur utama ini membukukan laba bersih Rp21,36 miliar per Juni 2026, melesat 239,16 persen dari Rp6,30 miliar di Juni 2025. Lonjakan laba itu menjadi sinyal bahwa perbaikan fundamental Bank Banten semakin memberikan hasil yang nyata.
Mengutip laporan publikasi Bank Banteng pada Jumat (31/7), pendapatan bunga Bank Banten meningkat 39,78 persen menjadi Rp359,07 miliar, meski beban bunga juga naik lebih tinggi, yakni 46,11 persen menjadi Rp233,68 miliar. Tapi bank ini masih mampu menjaga selisih pendapatan bunga sehingga pendapatan bunga bersih atau net interest income tetap tumbuh 27,26 persen menjadi Rp123,39 miliar.
Faktor lain yang memperkuat kenaikan laba adalah keberhasilan Bank Banten mengendalikan biaya. Beban operasional lainnya turun 2,67 persen menjadi Rp88,42 miliar dari sebelumnya Rp90,85 miliar. Dampaknya terlihat pada rasio BOPO yang membaik dari 97,92 persen menjadi 91,47 persen, menandakan efisiensi operasional Bank Banten semakin baik dan biaya semakin terkendali.

Kombinasi pertumbuhan pendapatan bunga, kenaikan pendapatan bunga bersih, dan efisiensi biaya menjadi mesin utama yang mendorong lonjakan laba Bank Banten.
Walaupun beban bunga tumbuh lebih cepat akibat meningkatnya penghimpunan dana berbiaya tinggi, Bank Banten mampu mengimbanginya melalui ekspansi bisnis kredit yang agresif. Strategi itu menunjukkan business model Bank Banten bekerja lebih efektif dibandingkan tahun sebelumnya.
Fungsi intermediasi Bank Banten juga tampil impresif. Kredit tumbuh 43,25 persen menjadi Rp5,96 triliun, jauh melampaui pertumbuhan kredit industri perbankan nasional yang menurut Bank Indonesia (BI) mencapai 12,1 persen pada Juni 2026. Ekspansi itu menjadi salah satu penopang utama kenaikan pendapatan bunga sekaligus menunjukkan keberanian bank ini dalam memperbesar portofolio pembiayaan.
Yang menarik, lonjakan kredit tidak diikuti memburuknya kualitas aset. Rasio NPL Gross turun signifikan dari 7,06 persen menjadi 4,51 persen, sehingga sudah berada di bawah batas aman regulator sebesar 5 persen. Memang NPL Net naik dari 1,74 persen menjadi 2,21 persen, tapi level itu masih terkendali sehingga secara umum kualitas kredit Bank Banten dapat dikatakan membaik.
Di sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 14,84 persen menjadi Rp6,76 triliun. Pertumbuhan itu juga jauh melampaui pertumbuhan DPK industri perbankan nasional sebesar 8,1 persen versi BI.
Tapi ada pekerjaan rumah yang perlu menjadi perhatian manajemen Bank Banten karena pertumbuhan DPK lebih banyak ditopang deposito yang melonjak 34,08 persen, sementara dana murah atau CASA justru turun 21,74 persen sehingga rasio dana murah merosot dari 34,46 persen menjadi 23,48 persen.
Aset Bank Banten ikut terkerek naik 21,82 persen menjadi Rp10,40 triliun. Modal inti juga bertambah 13,36 persen menjadi Rp1,50 triliun, meski rasio CAR turun dari 43,15 persen menjadi 33,73 persen.
Penurunan CAR bukan sinyal negatif karena masih berada pada level yang sangat tinggi, sekaligus mencerminkan modal bank ini mulai dimanfaatkan lebih produktif untuk menopang pertumbuhan kredit.
Dari sisi profitabilitas, kinerja Bank Banten menunjukkan perbaikan yang cukup meyakinkan. ROA meningkat dari 0,16 persen menjadi 0,41 persen, menandakan aset bank semakin produktif dalam menghasilkan laba.
ROE juga naik tajam dari 0,96 persen menjadi 2,74 persen, yang berarti kemampuan manajemen dalam mengelola modal untuk menciptakan keuntungan semakin baik, meski masih tersedia ruang besar untuk meningkatkannya.
Baca juga: Kantongi Restu OJK, Slamet Riyadi Efektif jadi Direktur Bisnis Bank Banten
Rasio lainnya juga memberikan gambaran yang positif. LDR naik dari 70,65 persen menjadi 85,58 persen dan sudah berada dalam kisaran ideal 78-92 persen, mencerminkan penyaluran dana kepada sektor produktif semakin optimal.
NIM memang sedikit turun dari 3,23 persen menjadi 3,19 persen, menunjukkan tekanan biaya dana masih terasa, sementara CIR naik tipis dari 85,30 persen menjadi 86,86 persen yang mengindikasikan efisiensi biaya belum sepenuhnya optimal.
Rapor Bank Banten pada semester I 2026 layak disebut bagus karena pertumbuhan laba yang sangat tinggi ditopang ekspansi kredit yang sehat, kualitas aset yang membaik, serta efisiensi operasional yang semakin kuat. Hanya saja, penguatan dana murah tetap menjadi salah satu tantangan utama agar kinerja ke depan semakin berkelanjutan. (*) Ari Nugroho


