Poin Penting
- BI menahan BI Rate di 4,75 persen pada April 2026, dengan suku bunga Deposit Facility tetap 3,75 persen dan Lending Facility 5,5 persen.
- Keputusan ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global, sekaligus memastikan inflasi 2026–2027 tetap dalam target 2,5±1 persen
- BI juga memperkuat bauran kebijakan, termasuk makroprudensial dan sistem pembayaran, guna mendorong pertumbuhan kredit, ekonomi, serta memperluas digitalisasi pembayaran.
Jakarta – Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 4,75 persen. Begitu juga dengan suku bunga Deposit Facility dan suku bunga Lending Facility masing-masing tetap 3,75 persen dan 5,5 persen pada April 2026.
“Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 21 dan 22 April 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 4,75 persen,” kata Perry Warjiyo, Gubernur BI dalam RDG, Rabu, 22 April 2026.
Baca juga: LPEM UI Minta BI Tahan Suku Bunga Acuan di 4,75 Persen, Ini Alasannya
Perry mengatakan, keputusan menahan suku bunga acuan sebagai upaya meningkatkan efektivitas strategi penyesuaian struktur suku bunga instrumen operasi moneter dalam memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya kondisi perekonomian global akibat perang di Timur Tengah.
“Ke depan BI siap menempuh penguatan lebih lanjut kebijakan moneter yang diperlukan untuk tetap mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah dan menjaga inflasi 2026 dan 2027 dalam sasaran 2,5±1 persen,” jelas Perry.
Selain itu, kata Perry, kebijakan makroprudensial terus diperkuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi atau pro-growth, melalui peningkatan kredit/pembiayaan ke sektor riil dengan tetap mempertahankan stabilitas sistem keuangan.
Baca juga: Lagi, BI Minta Bank Turunkan Suku Bunga Kredit, Begini Tanggapan BCA
Selanjutnya, kebijakan sistem pembayaran terus diarahkan untuk turut menopang kegiatan ekonomi melalui perluasan akseptasi pembayaran digital, penguatan struktur industri sistem pembayaran, dan peningkatan keandalan serta daya tahan infrastruktur sistem pembayaran.
“BI terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial dan sistem pembayaran untuk menjaga stabilitas dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Perry. (*)
Editor: Galih Pratama








