Poin Penting
- Laba Bank Sultra mencapai Rp419,6 miliar pada 2025, tumbuh kuat sejak 2020.
- Rasio kredit bermasalah (NPL) terjaga rendah di level 0,89%.
- Kredit dan digitalisasi tumbuh signifikan, didorong sektor produktif dan transaksi QRIS.
Jakarta – Di tengah ketatnya persaingan industri perbankan, Bank Sultra berhasil mencatatkan kinerja keuangan solid sepanjang 2025. Laba bersih bank pembangunan daerah tersebut mencapai Rp419,6 miliar.
Dalam beberapa tahun terakhir, kinerja perseroan menunjukkan tren positif. Sejak 2020, laba kumulatif Bank Sultra tercatat tumbuh hingga 61,38 persen, mencerminkan konsistensi pertumbuhan di tengah dinamika ekonomi.
Dari sisi kualitas aset, Bank Sultra mampu menjaga rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) di level rendah, yakni 0,89 persen. Angka ini jauh di bawah ambang batas regulator sebesar 5 persen.
Baca juga: Laba Bank Sultra Merosot 22,08 Persen Menjadi Rp166,23 M di Juni 2025
Sementara itu, penyaluran kredit tercatat mencapai Rp9,58 triliun atau tumbuh 3,25 persen secara tahunan (year on year/YoY). Pertumbuhan kredit terutama ditopang sektor produktif, dengan kredit modal kerja meningkat 23,50 persen dan kredit investasi melonjak 37,16 persen.
Direktur Utama Bank Sultra, Andri Permana Diputra Abubakar, mengatakan capaian tersebut mencerminkan fundamental perusahaan yang kuat.
“Di tengah dinamika ekonomi nasional, kami berhasil membuktikan bahwa pertumbuhan laba sebesar 61,38 persen sejak 2020 bukan sekadar angka, melainkan cerminan dari fundamental yang sehat dan manajemen risiko yang disiplin,” ujar Andri, dinukil laman Bank Sultra, Rabu, 22 April 2026.
Baca juga: Laba Bersih BNI Tembus Rp20 Triliun pada 2025, Kredit Melaju 15,9 Persen
Sementara dari sisi digitalisasi, Bank Sultra juga mencatatkan pertumbuhan signifikan. Sepanjang 2025, penggunaan aplikasi Bank Sultra Mobile meningkat 28,02%. Adapun transaksi melalui QRIS melonjak hingga 1.371,73 persen.
Ke depan, perseroan akan tetap fokus pada ekspansi kredit di sektor produktif dengan tetap menjaga kualitas aset. Selain itu, transformasi digital akan terus diperkuat guna memperluas akses layanan keuangan yang inklusif.
“Fokus kami tetap jelas, yakni ekspansi kredit produktif sembari menjaga kualitas aset dengan NPL di bawah 1 persen. Kami juga akan terus memperkuat transformasi digital agar layanan keuangan semakin mudah dijangkau hingga ke pelosok daerah,” tandasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra








