Poin Penting
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis ekonomi Indonesia akan keluar dari “kutukan” pertumbuhan 5 persen
- Pemerintah akan mendorong peran sektor swasta sebagai motor utama ekonomi, mengingat kontribusinya mencapai sekitar 90 persen, jauh lebih besar dibandingkan pemerintah
- Tantangan utama masih pada tingginya biaya logistik yang menekan daya saing, sehingga pemerintah akan fokus melakukan perbaikan, terutama pada efisiensi di pelabuhan.
Jakarta – Pertumbuhan ekonomi Indonesia hampir pasti akan lepas dari kutukan di level 5 persen. Hal tersebut diungkapkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam acara Simposium PT SMI 2026 yang digelar di Jakarta, 22 April.
“Hampir pasti kita sudah break dari kutukan pertumbuhan 5 persen. Jadi ke depan harusnya kita bisa tumbuh lebih cepat dari 5 persen,” jelas Purbaya.
Pertanyaannya apakah bisa teralisasi? Purbaya dengan ‘pede’ menyatakan ekonomi bisa tumbuh di atas 5 persen. Dia mencontohkan, pada kuartal IV 2025 mampu tumbuh di atas 5 persen atau lebih tepatnya 5,39 persen.
“Bisa nggak ya? Sepertinya bisa. Kuartal IV 2025 lalu kita bisa tumbuh 5,39 persen, fiskalnya terjaga di 2,81 persen,” kata Purbaya.
Baca juga: Purbaya Sebut Bank Dunia Minta Maaf atas Proyeksi Ekonomi RI 4,7 Persen
Salah satu mesin ekonomi yang tengah dipanaskan Purbaya adalah sektor swasta. Menurutnya, sektor swasta punya kontribusi besar terhadap ekonomi nasional.
“Mereka (sektor swasta) menyumbang 90 persen ekonomi, sementara pemerintah yang cuma 10 persen ribut terus, jelasnya.
Untuk itu, kata Purbaya, kebijakan pemerintah akan diarahkan untuk menghidupkan mesin sektor swasta. Ini diharapkan bisa berkontribusi maksimal terhadap ekonomi Indonesia.
“Jadi kalau kita bisa manage bisa lebih baik, harusnya kita bisa tumbuh lebih cepat lagi. Apalagi kalau kita bisa hidupkan sektor swasta atau private sector.
Namun, Purbaya tak menampik masih ada sejumlah tantangan dalam mendorong ekonomi. Masalah logistic cost, misalnya, kata Purbaya nilainya berada di level belasan persen dari produk domestik bruto (PDB).
Baca juga: Purbaya Bicara Arah Baru Ekonomi RI: Fokus Pertumbuhan Produktif dan Berkelanjutan
“Sudah turun sedikit, tapi masih lebih tinggi dari negara maju. Artinya, barang kita mahal, tapi daya saya saing jadi turun,” jelasnya.
Isu logistic cost menurut Purbaya sudah mengemuka pada 10 – 15 tahun lalu. Purbaya bilang akan melakukan perbaikan kembali, terutama difokuskan pada aspek yang selama ini menjadi sumber utama inefisiensi, yakni aktivitas di pelabuhan.
“Kita akan perbaiki lagi. Utamanya kan logistic cost juga di pelabuhan-pelabuhannya,” tutup Purbaya. (*)








