Poin Penting
- Panduit terdampak konflik Timur Tengah melalui kenaikan biaya logistik dan pelemahan rupiah.
- Perusahaan menerapkan strategi perencanaan bersama konsumen untuk menekan harga jual.
- Stok bahan baku plastik global masih dinilai aman oleh Panduit.
Jakarta – Perusahaan solusi infrastruktur kelistrikan dan jaringan asal Amerika Serikat (AS), Panduit, menghadapi tekanan biaya akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Kondisi ini berdampak pada kenaikan harga bahan baku dan biaya logistik.
Meski demikian, perusahaan menyiapkan sejumlah strategi untuk menekan lonjakan harga jual kepada konsumen.
Senior Manager Panduit untuk Singapura, Malaysia, dan Indonesia, Kevin Choong, menjelaskan bahwa terdapat dua tantangan utama yang dihadapi saat ini, yaitu pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan kenaikan biaya logistik.
“Sementara waktu ini, di Indonesia, risikonya adalah kurs dari USD terhadap rupiah. Jadi, kurs pertama. Kedua ialah bensin logistik. Karena, stok kita dari Amerika, China, dan Singapura. Biaya logistik sekarang terus naik,” ujar Kevin saat acara konferensi pers Panduit berjudul “Fondasi Infrastruktur TI untuk Mendukung Implementasi AI di Indonesia” di Jakarta, Selasa, 28 April 2026.
Baca juga: Pemerintah Hapus Bea Masuk Impor Plastik Selama 6 Bulan
Ia lebih lanjut membeberkan, pihaknya pun telah mencanangkan sejumlah strategi untuk meredam kenaikan harga jual terhadap konsumen, seperti salah satunya berdiskusi dengan konsumen dalam perencanaan layanan produk yang ingin diberikan.
Ia mengatakan, dalam diskusi dengan konsumen itu, pihaknya turut mencanangkan bujet yang dibutuhkan secara bersama-sama dengan konsumen. Sehingga, kesepakatan biaya layanan dengan kebutuhan yang diinginkan konsumen dapat tercapai secara lebih transparan.
“Setelahnya, kami akan membuat bersama dengan pabrik untuk membuat planning, termasuk memasukkan ongkos yang sudah dibahas dengan customer. Jadi, pemasangan, implementasi, dan sebagainya, tidak akan mempunyai risiko,” jelas Kevin.
Baca juga: Harga Plastik Melonjak, Pemerintah Siapkan Stimulus untuk Industri
Keterbukaan dengan konsumen melalui diskusi sebelumnya deal ini, akhirnya menimbulkan rasa aman dari sisi konsumen terkait biaya yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Sehingga, faktor-faktor yang memicu kenaikan harga jual bisa ditekan lewat kesepakatan dan kepastian biaya yang realistis dengan konsumen.
“Contoh, saya butuh deal dengan konsumen sebanyak USD2 juta. Rupiahnya, misal sekitar Rp15 miliar. Sampai implementasi selesai, tak ada risiko sama customer. Karena, kita sudah hitung, rencanakan dengan pabrik, termasuk ongkos barang itu, yang konsumen sudah merasa aman,” imbuhnya.
Sementara dari stok bahan baku plastik, Kevin mengatakan jika pihaknya melihat stok plastik dari seluruh dunia masih aman terkendali.
“Dari sisi Panduit, plastik itu dari seluruh dunia masih aman dari sisi kita,” tandas Kevin. (*) Steven Widjaja








