Poin Penting
- Realisasi investasi Indonesia mencapai Rp1.010,6 triliun pada semester I 2026.
- WTCA menilai diversifikasi pasar dan rantai pasok penting untuk menjaga daya tarik investasi.
- Indonesia perlu memperkuat iklim investasi, transparansi kebijakan, perizinan, dan infrastruktur.
Jakarta – Indonesia mencatatkan realisasi investasi Rp1.010,6 triliun pada semester I 2026, atau meningkat 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari total realisasi investasi itu, foreign direct investment (FDI) menyumbang Rp507,6 triliun, atau 50,2 persen dari total realisasi investasi. Ini menunjukkan pentingnya peranan investasi asing dalam menjaga momentum realisasi investasi di Indonesia.
Ke depan, kebutuhan investasi Indonesia akan terus meningkat. Pemerintah menargetkan realisasi investasi sebesar Rp2.322 triliun pada 2027, naik 13,8 persen dari target 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun.
Upaya mencapai target tersebut berlangsung di tengah lanskap perdagangan global yang semakin kompleks akibat ketegangan geopolitik, gangguan rantai pasok, isu energi, serta perubahan kebijakan tarif.
Baca juga: Pasar Bergejolak, Hasil Investasi Asuransi Jiwa Susut Rp2,47 Triliun di Semester I 2026
Menanggapi hal itu, World Trade Centers Association (WTCA) percaya bahwa kondisi tersebut membuat diversifikasi rantai pasok dan akses pasar semakin penting bagi Indonesia untuk menjaga daya tarik investasinya dalam jangka panjang.
“Dengan demikian, ketika satu pasar menghadapi hambatan akibat perubahan tarif, pelaku usaha tetap dapat mengakses pasar lainnya,” ujar Vice President Asia Pacific WTCA, Scott Wang dalam keterangan resmi, Selasa, 8 September 2026.
Ia menambahkan bahwa jaringan global dan konektivitas lokal WTCA dapat membantu perusahaan memperluas serta mendiversifikasi jangkauan bisnisnya.
Scott mengungkapkan, posisi geopolitik Indonesia yang relatif netral memberikan ruang untuk melakukan diversifikasi tanpa terlalu bergantung pada satu blok perdagangan tertentu.
Posisi ini memungkinkan Indonesia menjaga hubungan dengan berbagai pasar sekaligus menangkap peluang dari pergeseran rantai pasok global, seiring perusahaan mencari alternatif basis produksi dan perdagangan.
“Jaringan global dan konektivitas lokal WTCA dapat membantu perusahaan memperluas serta mendiversifikasi jangkauan bisnisnya,” tambah Scott.
Iklim Investasi Harus Diperkuat
Scott lebih jauh menjelaskan, dengan populasi sekitar 280 juta jiwa dan angkatan kerja sekitar 160 juta orang, Indonesia menawarkan pasar domestik yang besar bagi perusahaan yang ingin membangun fasilitas produksi sekaligus menjangkau konsumen lokal.
Namun, besarnya pasar dan posisi geopolitik saja belum cukup untuk menjamin masuknya investasi.
Indonesia masih perlu memperkuat sejumlah aspek fundamental, termasuk iklim investasi, transparansi kebijakan, kemudahan berusaha, dan pembangunan infrastruktur, agar berbagai keunggulan tersebut dapat mendorong daya saing investasi dalam jangka panjang.
Baca juga: OJK Catat Investasi Dana Pensiun di SRBI Melonjak 132,76 Persen
Pandangan tersebut sejalan dengan berbagai tantangan yang tengah ditangani pemerintah dalam mengejar target investasi 2027.
Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM telah menetapkan tiga prioritas utama untuk mendorong realisasi investasi, yaitu kepastian perizinan, percepatan pembangunan proyek, serta penyelesaian berbagai hambatan investasi di lapangan.
2026 WTCA Asia Pacific Conference
Upaya memperluas konektivitas Indonesia dengan pasar internasional ini juga akan menjadi salah satu fokus utama dalam WTCA Asia Pacific Conference 2026, yang untuk pertama kalinya akan diselenggarakan di Jakarta pada 18–20 November 2026.
Diselenggarakan oleh World Trade Center (WTC) Jakarta dengan tema “Jakarta: Tempat Asia Pasifik Terhubung dan Tumbuh Bersama”, konferensi ini akan menjadi wadah untuk menerjemahkan kebutuhan diversifikasi menjadi koneksi bisnis yang lebih konkret.
Melalui jaringan WTCA yang mencakup lebih dari 300 kota utama di hampir 100 negara dan wilayah, pelaku usaha Indonesia berkesempatan membangun hubungan dengan komunitas bisnis di berbagai pasar.
Baca juga: Rosan: Jakarta Jadi Magnet Investasi dan Pusat Ekonomi Masa Depan
Director WTC Jakarta (PT. Jakarta Land), William Chai mengatakan bahwa penjajakan kemitraan bisnis (B2B matchmaking) akan menjadi salah satu fokus utama untuk mengembangkan koneksi bisnis menjadi peluang yang nyata.
“Kami ingin pelaku usaha Indonesia dapat berinteraksi langsung dengan calon mitra dari berbagai pasar, sekaligus memberikan delegasi internasional akses yang lebih dekat dengan perusahaan dan peluang investasi di Indonesia,” ucap William. (*) Steven Widjaja


