Poin Penting
- Utang proyek Whoosh direstrukturisasi dengan tenor cicilan hingga 80 tahun.
- Cicilan utang diperkirakan sekitar Rp1 triliun atau sedikit di bawahnya per tahun.
- Penanganan utang Whoosh akan dialihkan dari Danantara ke Kementerian Keuangan pada 15 September 2026.
Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan tenor cicilan utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh yang telah direstukturisasi mencapai 80 tahun. Cicilan utang tersebut berada di kisaran Rp1 triliun setiap tahunnya.
“Berarti kan total utang besar, tapi di-stretch 80 tahun sudah direstrukturisasi. Cicilannya Rp1 triliun atau sedikit di bawah Rp1 triliun dari tahun ke tahun. Ada yang tinggi, ada yang rendah, tapi kalau kita lihat ‘oh masih bisa lah’. (Tenor cicilan) 80 tahun saya dengar kemarin, makanya hebat juga tuh. Iya kita sudah mati, santai saja,” ujar Purbaya saat ditemui di Jakarta, Selasa, 8 September 2026.
Baca juga: Kemenkeu Ambil Alih 60 Persen Saham Whoosh, Target Tuntas September 2026
Purbaya menyampaikan proses pengalihan atau serah terima terkait penanganan utang Whoosh dari Danantara ke Kementerian Keuangan akan dilakukan pada 15 September 2026.
Dia menyebut, opsi pembayaran utang Whoosh akan dibayarkan melalui Special Mission Vehicle (SMV) di bawah Kemenkeu, yakni PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) atau melalui Indonesia Investment Authority (INA).
“Tanggal 15, insyaallah mudah-mudahanan kita bisa serah terimakan dari Danantara ke kami (Kemenkeu). Ada dua kemungkinan mungkin kita pakai SMI dan INA atau mungkin nanti kita lihat,” ungkapnya.
Baca juga: Purbaya Pastikan Penyelesaian Utang Whoosh Tak Bebani APBN
Meski total utangnya besar, Purbaya menilai cicilan tahunan Whoosh tidak terlalu besar setelah dilakukan restrukturisasi.
Karena itu, menurut dia, penanganan kewajiban tersebut kemungkinan cukup dilakukan melalui satu SMV di bawah Kemenkeu.
“Ternyata cicilannya nggak gede-gede amat, seharusnya sih satu SMV cukup,” pungkasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra


