Poin Penting
- Bank Indonesia mencatat IPR April 2026 turun ke 231,0 dari 256,7 pada Maret 2026, meski penjualan ritel masih tumbuh tahunan
- Secara bulanan, penjualan ritel April 2026 terkontraksi 10 persen usai momentum Ramadan dan Idulfitri berakhir
- BI memprakirakan penjualan ritel ke depan melambat, sementara tekanan inflasi meningkat akibat kenaikan harga bahan baku.
Jakarta – Bank Indonesia (BI) melaporkan kinerja penjualan eceran tetap terjaga. Ini tercermin Indeks Penjualan Riil (IPR) pada April 2026 yang diprakirakan sebesar 231,0. Meski demikian, capaian tersebut lebih rendah dibandingkan IPR pada Maret 2026 yang tercatat sebesar 256,7.
Kinerja penjualan eceran tersebut terutama ditopang oleh pertumbuhan penjualan kelompok suku cadang dan aksesori dengan indeks sebesar 163,1, tumbuh 18,8 persen (year on year/yoy).
Lalu, perlengkapan rumah tangga lainnya dengan indeks sebesar 83,4, tumbuh sebesar 1,4 persen, serta subkelompok sandang dengan indeks sebesar 99,9 tumbuh sebesar 4,4 persen.
Secara bulanan, kinerja penjualan eceran juga diprakirakan menurun. Hal ini sejalan dengan berakhirnya periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri 1447 H.
Sejurus dengan itu, IPR April 2026 diperkirakan turun 10,0 persen month to month (mtm). Angka tersebut berbalik arah dibandingkan Maret 2026 yang tercatat masih tumbuh 10,3 persen mtm.
Baca juga: Survei BI: Keyakinan Konsumen Tetap Terjaga pada April 2026
Secara bulanan, BI mencatat kontraksi penjualan eceran April 2026 terjadi pada seluruh kelompok barang. Penurunan terdalam tercatat pada kelompok barang budaya dan rekreasi yang terkontraksi 14,1 persen mtm.
Selanjutnya, disusul kelompok peralatan informasi dan komunikasi yang turun 10,9 persen mtm serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang terkontraksi 10,7 persen mtm.
Sementara itu, hasil data Survei Penjualan Eceran (SPE) Maret 2026 menunjukkan bahwa penjualan ritel masih mengalami pertumbuhan dibandingkan Februari 2026, baik secara tahunan maupun bulanan.
Hal tersebut tercermin dari IPR Maret 2026 yang tercatat 256,7 atau tumbuh 3,4 persen (yoy), meskipun lebih rendah dibandingkan pertumbuhan Februari 2026 sebesar 6,5 persen (yoy).
Sementara secara tahunan, pertumbuhan penjualan pada Maret 2026 ditopang oleh kenaikan pada kelompok suku cadang dan aksesori dengan indeks 168,1 atau tumbuh 15,5 persen (yoy).
Selanjutnya, barang budaya dan rekreasi dengan indeks 68,7 atau tumbuh 14,8 persen (yoy), serta makanan, minuman, dan tembakau dengan indeks 367,2 atau meningkat 4,7 persen (yoy).
Baca juga: BPS Catat Kenaikan Harga Beras dari Penggilingan hingga Eceran
Selain itu, responden memprakirakan penjualan eceran pada 3 dan 6 bulan yang akan datang menurun. Hal ini tecermin dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) Juni dan September 2026 masing-masing tercatat sebesar 136,8 dan 137,8, lebih rendah dari 147,2 dan 162,4 pada Mei dan Agustus 2026.
Responden menginformasikan bahwa penurunan pada lEP Juni 2026, dipengaruhi oleh musim ujian sekolah, sementara penurunan pada IEP September 2026 dipengaruhi oleh kembali normalnya aktivitas masyarakat seiring dengan tidak ada cuti bersama maupun event besar.
Dari sisi harga, tekanan inflasi tiga dan enam bulan yang akan datang, yaitu Juni dan September 2026, diprakirakan meningkat.
Hal tersebut tecermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Juni dan September 2026 yang tercatat masing-masing sebesar 175,6 dan 163,2. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan lEH Mei dan Agustus 2026 yang tercatat masing-masing sebesar 157,4 dan 157,2.
Sementara responden menginformasikan peningkatan IEH Juni 2026 didorong oleh kenaikan harga bahan baku. (*)
Editor: Galih Pratama


