Poin Penting
- Indeks keyakinan konsumen pada Mei 2026 tetap kuat dengan IKK sebesar 120,9 meski turun dari 123,0 pada April
- BI mencatat Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) naik tipis menjadi 129,7 pada Mei 2026, ditopang meningkatnya optimisme terhadap lapangan kerja dan kegiatan usaha
- Proporsi pendapatan untuk konsumsi relatif stabil di 72,3 persen pada Mei 2026. Namun, porsi untuk cicilan naik menjadi 10,2 persen, sementara tingkat tabungan turun menjadi 17,5 persen.
Jakarta – Bank Indonesia (BI) melaporkan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap kuat. Hal ini tecermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Mei 2026 yang berada pada level optimis sebesar 120,9, meskipun lebih rendah dari IKK bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 123,0.
Berdasarkan Laporan Survei Konsumen yang diterbitkan BI, optimisme konsumen tersebut ditopang oleh tetap kuatnya persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi kondisi ekonomi ke depan.
Secara rinci, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) berada pada level optimis sebesar 112,2, meskipun lebih rendah dibandingkan dengan indeks bulan sebelumnya sebesar 116,5.
IKE ditopang oleh Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI), Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK), dan Indeks Pembelian Barang Tahan Lama/ Durable Goods (IPDG) yang tercatat masing-masing sebesar 123,2, 105,0, dan 108,3, meskipun lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya masing-masing sebesar 128,1, 108,8, dan 112,6.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, keyakinan konsumen terhadap penghasilan saat ini tercatat tetap kuat pada seluruh kelompok, dengan indeks tertinggi sebesar 129,7 pada kelompok lebih dari Rp5 juta.
Selanjutnya, persepsi responden terhadap ketersediaan lapangan kerja saat ini berada pada level optimis pada seluruh tingkat pendidikan, dengan indeks tertinggi pada responden berpendidikan sarjana sebesar 117,3.
Baca juga: Apindo: Biaya Logistik Mahal dan Kepastian Hukum jadi Penghambat Iklim Investasi
Berdasarkan kelompok usia, IKLK berada pada zona optimis pada sebagian besar kelompok usia, sedangkan kelompok usia 41-60 tahun berada pada zona pesimis.
Selanjutnya, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) tercatat sebesar 129,7, lebih tinggi dibandingkan dengan indeks bulan sebelumnya sebesar 129,6.
Meningkatnya IEK bersumber dari optimisme ekspektasi ketersediaan lapangan kerja dan ekspektasi kegiatan usaha yang masing-masing tercatat sebesar 128,1 dan 124,5, lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya masing-masing sebesar 127,7 dan 124,1.
Sementara itu, ekspektasi penghasilan tercatat di level optimis sebesar 136,5, lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 136,9.
Adapun persepsi responden terhadap ekspektasi penghasilan enam bulan ke depan berada pada level optimis pada seluruh kelompok pengeluaran, dengan indeks tertinggi pada kelompok pengeluaran leboh dari Rp5 juta sebesar 138,2.
Sementara prakiraan konsumen terhadap ketersediaan lapangan kerja pada enam bulan mendatang berada pada level optimis pada seluruh tingkat pendidikan, dengan mayoritas kelompok mengalami peningkatan indeks dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Pada Mei 2026, rata-rata proporsi pendapatan konsumen untuk konsumsi (average propensity to consume ratio) tercatat sebesar 72,3 persen, relatif stabil dibandingkan dengan proporsi pada bulan sebelumnya, yaitu sebesar 72,1 persen.
Sementara itu, proporsi pembayaran cicilan/utang (debt installment to income ratio) sebesar 10,2 persen, lebih tinggi dibandingkan proporsi pada bulan sebelumnya sebesar 9,7 persen.
Baca juga: Belanja Subsidi dan Kompensasi Energi Melonjak 208,2 Persen di Mei 2026
Lebih lanjut, proporsi pendapatan konsumen yang disimpan (saving to income ratio) sebesar 17,5 persen, lebih rendah dibandingkan proporsi pada bulan sebelumnya, yaitu sebesar 18,2 persen.
Selain itu, proporsi konsumsi terhadap pendapatan terindikasi meningkat pada kelompok pengeluaran Rp1-2 juta (76,7 persen) dan Rp3,1-4 juta (72,2 persen), sedangkan kelompok pengeluaran lainnya terindikasi menurun.
Sementara itu, porsi pendapatan untuk pembayaran cicilan mengalami peningkatan pada kelompok pengeluaran Rp4,1-5 juta (10,7 persen) dan lebih dari Rp5 juta (12,8 persen). (*)
Editor: Galih Pratama


