Poin Penting
- Kenaikan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter diyakini tidak berdampak signifikan terhadap inflasi.
- BP BUMN menilai pengguna BBM nonsubsidi bukan berasal dari sektor industri, angkutan barang, maupun transportasi massal.
- Penyesuaian harga BBM nonsubsidi dilakukan mengikuti mekanisme pasar dan dinilai lebih adil karena tidak membebani subsidi negara.
Jakarta – Kenaikan harga BBM nonsubsidi, khususnya Pertamax, diyakini tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap laju inflasi nasional.
Kepala Badan Pengelola (BP) BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menilai karakter pengguna BBM tersebut berbeda dengan kelompok yang berkontribusi langsung terhadap pergerakan harga barang dan jasa di masyarakat.
Menurut Dony, penyesuaian harga BBM nonsubsidi dilakukan mengikuti mekanisme pasar dan telah melalui pembahasan bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Karena itu, kebijakan tersebut tidak perlu dikhawatirkan akan memicu lonjakan inflasi.
“Tidak, tidak akan berdampak seperti itu. Karena kan pemakaian Pertamax ini kan kelas menengah ke atas. Bukan untuk industri, bukan untuk transportasi massal,” ujarnya di Jakarta, dikutip Antara, Rabu (10/6).
Baca juga: Purbaya Klaim Kenaikan Pertamax Berdampak Minim ke Inflasi
Kenaikan Harga Pertamax Ikuti Mekanisme Pasar
Mulai 10 Juni 2026, harga Pertamax (RON 92) mengalami penyesuaian dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter. Sementara itu, Pertamax Green (RON 95) naik dari Rp12.900 per liter menjadi Rp17.000 per liter.
Dony menjelaskan bahwa perubahan harga tersebut merupakan konsekuensi dari pergerakan harga minyak dunia. Selain itu, produk BBM nonsubsidi memang diamanatkan untuk mengikuti harga pasar agar tidak terus membebani keuangan negara.
“Memang mandatnya kalau Pertamax itu harus mengikuti harga pasar. Kalau tidak nanti masa ditanggung terus-terusan. Karena itu kan untuk kelas menengah ke atas. Tetapi itu pun sebetulnya kita hanya 50 persen dari harga real-nya,” ujar Dony.
Ia menambahkan, harga yang saat ini berlaku bahkan masih berada di bawah nilai keekonomian yang seharusnya terbentuk berdasarkan kondisi pasar global.
Pengguna BBM Nonsubsidi Dinilai Tidak Memengaruhi Inflasi
Dony juga sependapat dengan pandangan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menyebut dampak kenaikan harga Pertamax terhadap inflasi relatif terbatas.
Menurutnya, pengguna BBM nonsubsidi mayoritas berasal dari kelompok masyarakat menengah ke atas dan tidak berkaitan langsung dengan sektor-sektor utama yang memengaruhi pembentukan inflasi, seperti angkutan barang maupun transportasi umum.
“Itu yang dimaksudkan oleh Pak Menkeu. Jadi tidak akan berdampak terhadap inflasi. Tidak usah terlalu khawatir. Kita harus optimistis dan tenang,” katanya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga menyampaikan pandangan serupa. Ia menilai kenaikan harga BBM jenis Pertamax tidak akan memberikan tekanan berarti terhadap inflasi nasional.
“(Dampak ke inflasi) Harusnya relatif minim kan. Karena Pertamax nggak dipakai buat angkutan barang dan angkutan umum,” kata Purbaya di Kompleks Parlemen Jakarta.
Penyesuaian Harga Dinilai Lebih Adil
Selain mempertimbangkan aspek keekonomian, Dony menilai kebijakan penyesuaian harga BBM nonsubsidi juga merupakan bentuk keadilan dalam tata kelola energi nasional.
Menurutnya, masyarakat berpenghasilan tinggi yang menggunakan BBM nonsubsidi seharusnya membayar sesuai harga pasar dan tidak memperoleh beban subsidi yang pada akhirnya ditanggung oleh kelompok masyarakat lain.
“Bahwa memang di undang-undangnya juga untuk yang nonsubsidi itu mengikuti harga pasar. Kalau enggak nanti, masa orang yang kaya ditanggung sama masyarakat yang di bawah, kan enggak boleh? Ini kan masalah fair aja,” ujarnya.
Sementara itu, Pertamina Patra Niaga telah mengumumkan penyesuaian harga BBM nonsubsidi mulai 10 Juni 2026. Kebijakan tersebut mencakup kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green yang disesuaikan dengan perkembangan harga minyak dunia.
Dengan karakter pengguna yang mayoritas berasal dari kelompok menengah ke atas, pemerintah meyakini kenaikan harga Pertamax tidak akan memberikan dampak berarti terhadap inflasi nasional. (*)
Editor: Galih Pratama


