Poin Penting
- PT Asuransi Digital Bersama Tbk (ADB) menerapkan strategi investasi konservatif dengan menghindari pasar modal yang volatil.
- Fokus investasi diarahkan ke instrumen jangka pendek-menengah seperti deposito dan SBN.
- Pendapatan investasi ADB tumbuh 36,1% (yoy) pada 2025, didukung strategi berbasis underwriting dan likuiditas.
Jakarta – Bagi industri asuransi, investasi merupakan komponen penting dalam neraca keuangan. Strategi investasi yang tepat akan berdampak pada pendapatan investasi dan kemampuan membayar klaim jangka panjang.
PT Asuransi Digital Bersama Tbk (ADB; IDX: YOII) memastikan menerapkan strategi investasi yang prudent dan penuh kehati-hatian, terutama di tengah volatilitas sejumlah instrumen.
“Sebagai perusahaan asuransi yang memitigasi risiko, salah satu hal yang memang kami canangkan dalam memitigasi risiko investasi kami adalah untuk tidak berinvestasi di produk-produk yang terlalu volatil,” jelas Direktur Utama ADB, Adi Wibowo Adisaputra, dalam public expose (pubex) perusahaan pada Rabu, 15 April 2026.
Baca juga: Asuransi Digital Bersama Atur Strategi Penuhi Aturan Ekuitas Minimum 2026
Seperti pasar modal misalnya. Sejak awal 2026, instrumen ini menunjukkan pergerakan yang sangat fluktuatif. Menyikapi kondisi tersebut, ADB memutuskan untuk tidak berinvestasi di instrumen tersebut.
“Memang pasar modal ini kan dikenal volatilitasnya sudah tinggi. Dan mungkin kita lihat 1-2 bulan terakhir ini, volatilitasnya lebih tinggi lagi. Jadi, memang kami sudah canangkan untuk memitigasi risiko tersebut dengan tidak melakukan investasi di pasar modal,” ungkap Adi.
Fokus pada Instrumen Jangka Pendek
Sementara, Direktur Keuangan ADB, Randy Tandra, menjelaskan bahwa investasi asuransi umum biasanya disesuaikan dengan rata-rata jangka waktu polis, yang digunakan untuk memenuhi pembayaran klaim.
“Tapi untuk kasus ADB, kami melihat kebanyakan bahwa strategi investasi kita lebih kepada hasil dari underwriting itu sendiri. Karena polis kami itu lumayan, investasinya lumayan short term dibandingkan dengan perusahaan asuransi pada umumnya,” jelas Randy.
Baca juga: Meroket 168,41 Persen, Asuransi Digital Bersama Kantongi Laba Rp16,54 Miliar di 2024
Dengan demikian, ADB lebih mengutamakan investasi berjangka pendek-menengah, seperti deposito berjangka atau surat berharga negara (SBN). Hasilnya, per 2025 lalu, pendapatan investasi perusahaan mampu mencapai Rp146,28 miliar atau tumbuh 36,1 persen secara year on year (yoy).
Sebaran Investasi Industri Asuransi
Per Januari 2026 ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total investasi di seluruh jenis perusahaan asuransi sudah menyentuh Rp2.564 triliun. Dana komposisi terbesar masih ditempatkan pada SBN sebesar Rp1.404 triliun atau 54,79 persen dari total portofolio.
Pelaku asuransi dijelaskan juga banyak menempatkan dana di deposito dan sejenisnya, mencapai Rp406 triliun atau 15,85 persen dari total portofolio. Dan untuk investasi pada saham itu sebesar Rp249.17 triliun atau 9,72 persen dari total portofolio.
Jika dirincikan, investasi pelaku dana pensiun mencapai Rp399,27 triliun atau naik 7,61 persen secara year on year (yoy). Komposisi investasi masih didominasi SBN sebesar Rp164,32 triliun atau 38,65 persen.
Portofolio terbanyak berikutnya yakni deposito sebesar Rp109,94 triliun atau 27,64 persen, serta saham Rp22,53 triliun atau 5,64 persen. Penempatan pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tercatat Rp2,92 triliun atau sekitar 0,73 persen dari total investasi.
Baca juga: BI Ungkap Rencana Terbitkan SRBI Digital, Ini Bocorannya!
Di sisi lain, peningkatan deposito dipengaruhi kebutuhan menjaga likuiditas, tingkat bunga yang kompetitif, dan karakter kewajiban yang lebih pendek. Return on investment (ROI) dana pensiun per Januari 2026 sebesar 0,31 persen.
Untuk sektor asuransi, OJK melihat total investasi asuransi komersial tercatat Rp793,67 triliun dengan komposisi utama pada SBN sebesar 41,08 persen, saham 17,57 persen, dan reksa dana 13,81 persen. Asuransi jiwa menempatkan dana lebih besar pada SBN sebesar 42,07 persen dan saham 21,40 persen. (*) Mohammad Adrianto Sukarso







