Poin Penting
- Tim Ekonom Bank Mandiri memproyeksikan nilai tukar rupiah berada di level Rp17.135 per dolar AS pada 2026, di tengah tingginya tekanan global dan geopolitik
- Bank Mandiri menilai pelemahan rupiah dipicu ketegangan AS-Iran yang memicu capital outflow dari pasar saham dan obligasi negara berkembang, termasuk Indonesia
- Ketidakpastian geopolitik dan kenaikan risiko pasar global membuat rupiah serta mata uang emerging market lainnya bergerak volatil sepanjang 2026.
Jakarta – Tim Ekonom Bank Mandiri atau Office of Chief Economist (OCE) Group Bank Mandiri memproyeksikan nilai tukar rupiah akan berada di level Rp17.135 di akhir 2026.
Head of Macroeconomic & Financial Market Research Departemen Bank Mandiri Dian Ayu Yustina menilai tekanan rupiah serta pasar keuangan Indonesia saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor global, terutama ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Dian menjelaskan, pada pekan lalu pasar sempat ke arah positif karena adanya harapan AS-Iran membaik, tetapi pekan ini sentimen kembali berubah negatif. Sebab, penutupan Selat Hormuz menjadi fokus utama pasar, bila terganggu bisa menimbulkan disrupsi terhadap harga minyak.
Baca juga: Purbaya Mau Terbitkan Panda Bond Demi Kurangi Ketergantungan Dolar
Dengan kondisi ketidakpastian yang tinggi, mayoritas investor asing menarik dana (capital outflow) dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Terutama, di pasar saham dan obligasi yang membuat rupiah tertekan.
“Kita melihat capital outflow dari pasar saham dan obligasi ini secara tahunannya memang cukup besar. Sejak pandemi kita masih mengalami capital outflow dan belum fully kembali ke pasar domestik karena memang serangkaian event, terutama terkait global geopolitik itu terus terjadi. Nah ini yang memang jadi risiko utama saat ini,” ujar Diah dalam media briefing, Senin, 11 Mei 2026.
Selain itu, kata DIan, Credit Default Swap (CDS) atau indikator risiko suatu negara gagal bayar utang naik, artinya investor melihat risiko negara berkembang makin tinggi.
“Memang masih cukup volatile karena memang ini sebenarnya pasar keuangan secara emerging market secara global ini terpengaruh oleh sentimen perang AS dan Iran begitu juga dampaknya ke currency,” tambah Diah.
Baca juga: Ruang Penurunan Suku Bunga The Fed di 2026 Kian Sempit
Meski demikian, perang AS-Iran tidak hanya berdampak di Indonesia, tetapi juga ke mata uang emerging market secara global.
Banyak mata uang negara berkembang lainnya melemah, namun bervariasi. Misalnya, dolar Singapura dan ringgit Malaysia menguat. Sebaliknya yen Jepang dan yuan China justru melemah. (*)
Editor: Galih Pratama


