Poin Penting
- Standard Chartered mengandalkan jaringan global untuk mendukung pembiayaan korporasi di Indonesia
- Bank ini terlibat dalam pembiayaan Danantara senilai USD10 miliar dan obligasi USD1,5 miliar
- Standard Chartered meraih dua penghargaan Euromoney Awards for Excellence 2026.
Jakarta – Standard Chartered Indonesia mengandalkan perpaduan kapabilitas jaringan internasional dan pemahaman mendalam atas pasar Indonesia untuk mendukung kebutuhan pembiayaan korporasi di Indonesia.
Standard Chartered memiliki pengalaman lebih dari 160 tahun beroperasi di Indonesia. Dengan dukungan jaringan internasionalnya, bank ini mampu merancang solusi pembiayaan sesuai kebutuhan nasabah di Indonesia, termasuk dalam mendukung transaksi lintas negara yang kompleks.
CEO Standard Chartered Indonesia Donny Donosepoetro mengatakan, strategi itu berhasil membuat Standard Chartered Indonesia dipercaya menangani berbagai transaksi pendanaan bernilai jumbo. Mulai dari fasilitas pinjaman sindikasi hingga penerbitan obligasi di pasar global.
Donny melanjutkan, kebutuhan pembiayaan korporasi tidak lagi sekadar kredit, tapi juga solusi yang mampu menghubungkan perusahaan Indonesia dengan sumber pendanaan global.
Baca juga: Pefindo: Penerbitan Obligasi Korporasi Semester I 2026 Turun Jadi Rp87,3 Triliun
Sepanjang tahun terakhir, Standard Chartered terlibat dalam sejumlah transaksi strategis. Salah satunya menjadi joint coordinator, joint senior underwriter, mandated lead arranger, dan bookrunner pada fasilitas revolving credit senilai hingga USD10 miliar untuk Danantara.
Fasilitas pembiayaan multivaluta itu digagas untuk menopang kebutuhan investasi strategis Danantara, sekaligus membuka akses menghimpun likuiditas global.
Di samping pembiayaan perbankan, Standard Chartered juga memperkuat perannya di pasar modal utang internasional. Sebut saja dengan menjadi joint lead manager dan bookrunner dalam penerbitan obligasi dual-tranche perdana PT Danantara Investment Management senilai USD1,5 miliar. Di transaksi tersebut, Standard Chartered juga menjadi penasihat pemeringkatan (rating advisor).
Standard Chartered juga menjadi salah satu mitra strategis pemerintah dalam mengakses pasar keuangan global. Sejak 2009, bank ini sudah berpartisipasi dalam penerbitan obligasi internasional Pemerintah Indonesia. Total dana yang sudah berhasil dihimpun lebih dari USD55 miliar.
Pada 2025 misalnya, Standard Chartered dipercaya sebagai joint lead manager dalam beberapa penerbitan surat utang internasional pemerintah. Sebut saja obligasi dolar AS, sukuk global, obligasi CNH Dim Sum, hingga penerbitan perdana obligasi Kangaroo dalam denominasi dolar Australia.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas dan mendiversifikasi basis investor internasional.
“Dengan pemahaman mendalam atas pasar Indonesia serta kapabilitas internasional Standard Chartered, kami akan terus menghadirkan solusi yang relevan bagi kebutuhan nasabah di Indonesia,” kata Donny dalam keterangan resmi, Kamis, 23 Juli 2026.
Kemampuan Standard Chartered dalam mendukung kebutuhan pendanaan, transaction banking, dan akses pasar modal bagi pemerintah dan sektor publik, institusi keuangan, hingga korporasi besar di Indonesia, mendapat pengakuan internasional.
Dalam Euromoney Awards for Excellence 2026, Standard Chartered diganjar penghargaan Best Bank for Large Corporates in Indonesia dan Best Investment Bank for Debt Capital Markets in Indonesia.
Baca juga: Airlangga: BI Rate Tetap 5,75 Persen Bisa Dongkrak Kredit Perbankan
“Ini mencerminkan kepercayaan nasabah terhadap Standard Chartered dalam mendukung kebutuhan pembiayaan yang penting dan kompleks,” kata Amit Verma, Head of Coverage, Corporate & Investment Banking, Standard Chartered Indonesia.
Ia menegaskan, Standard Chartered akan melanjutkan kiprah lebih dari 160 tahunnya di Indonesia untuk terus mendukung pemerintah, BUMN, institusi keuangan, dan perusahaan-perusahaan besar Indonesia.
“Caranya melalui solusi pembiayaan, transaction banking, serta pasar modal yang membantu mereka bertumbuh, bersaing, serta mengakses peluang yang lebih luas,” pungkasnya. (*) Ari Astriawan


