Poin Penting
- Proyek Kampung Haji Indonesia di Makkah mulai berjalan setelah Danantara membeli hotel dan lahan strategis di kawasan Makkah
- Iskandar mengusulkan proyek dibiayai sindikasi 30 bank syariah nasional dengan nilai sekitar Rp20 triliun
- Kampung Haji dinilai dapat memperkuat ekosistem ekonomi haji dan mendorong pertumbuhan industri syariah nasional.
Jakarta – Proyek Kampung Haji Indonesia di Makkah yang digagas Presiden Prabowo Subianto mulai menunjukkan progres konkret. Pemerintah melalui BPI Danantara disebut telah melakukan pembelian hotel dan lahan strategis di kawasan Makkah sebagai fondasi awal pembangunan ekosistem layanan jamaah Indonesia di Tanah Suci.
Menurut pengamat perbankan Dr. A. Iskandar Zulkarnain, proyek tersebut sebaiknya dibiayai melalui sindikasi sekitar 30 bank syariah nasional dengan estimasi pembiayaan mencapai Rp20 triliun.
Menurutnya, proyek Kampung Haji tidak sekadar pembangunan hotel, tetapi pintu masuk Indonesia menguasai rantai nilai ekonomi haji dan umrah dunia.
“Kalau proyek sebesar ini dibiayai 30 bank syariah nasional, maka ini menjadi simbol kebangkitan industri syariah Indonesia. Ini bukan hanya soal pembiayaan, tetapi keberanian masuk ke ekosistem global berbasis umat,” ujar Iskandar dalam keterangannya, Jumat (29/5).
Baca juga: OJK Sebut akan Ada Bank Syariah Baru Hasil Spin Off Tahun Ini
Sindikasi, kata Iskandar, menjadi pilihan realistis karena kebutuhan modal dan risiko dapat dibagi bersama. Selain itu, proyek tersebut dapat menjadi momentum konsolidasi industri keuangan syariah nasional yang selama ini berjalan sendiri-sendiri.
Momentum tersebut dinilai semakin kuat setelah CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani terpilih sebagai Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) periode 2026–2031, dengan Menteri Koperasi Ferry Juliantono sebagai Ketua Harian MES.
Menurutnya, kombinasi tersebut dapat menjadi kekuatan orkestrasi untuk menghubungkan pemerintah, industri perbankan syariah, koperasi, BUMN, hingga investor strategis dalam membangun ekosistem haji dan umrah nasional.
“MES dapat menjadi orkestrator agar proyek ini tidak berjalan parsial, tetapi menjadi gerakan besar ekonomi syariah nasional,” katanya.
Selama ini, kata dia, Indonesia hanya menjadi pasar jamaah terbesar dunia, tetapi nilai tambah ekonominya lebih banyak dinikmati pihak luar.
“Kampung Haji Indonesia harus menjadi titik balik agar Indonesia menjadi pemain utama,” ujarnya.
Menurut Iskandar, kawasan Kampung Haji nantinya dapat berkembang menjadi pusat layanan terpadu jamaah Indonesia, mulai dari penginapan, pusat kuliner halal Nusantara, layanan kesehatan, hingga pusat layanan keuangan syariah Indonesia di Arab Saudi.
Ia juga menilai proyek tersebut dapat menjadi pengungkit market share industri perbankan syariah nasional yang hingga kini masih relatif kecil dibanding industri perbankan nasional.
Baca juga: Pelantikan PP MES Periode 2026-2031 jadi Momentum Perkuat Ekonomi Syariah Nasional
Namun demikian, Iskandar mengingatkan proyek lintas negara tersebut membutuhkan tata kelola yang kuat, termasuk mitigasi risiko valuta asing, struktur investasi internasional, serta penguatan diplomasi ekonomi Indonesia-Arab Saudi.
“Haji dan umrah adalah ekosistem alami Indonesia. Kalau industri syariah ingin naik kelas, maka harus berani masuk ke proyek strategis berskala besar seperti ini,” tutup Iskandar. (*) DW


