Poin Penting
- Sigit Pramono meraih gelar Doktor ISI lewat disertasi tentang governansi dan transformasi seni budaya
- Seni budaya dinilai sebagai keunggulan bangsa yang perlu diperkuat melalui tata kelola dan kepemimpinan
- Disertasi Sigit Pramono diapresiasi sebagai kajian perdana mengenai governansi seni di Indonesia.
Jakarta – Sigit Pramono dikenal sebagai bankir. Dia pernah menjadi orang nomor satu di Bank International Indonesia (BII) dan Bank Negara Indonesia (BNI).
Kini, Sigit Pramono juga pantas disebut sebagai “budayawan.” Julukan yang diperkuat kiprahnya di bidang seni budaya selama ini. Dan kini dengan desertasinya yang berjudul “Transformasi Institusi Seni-Budaya Melalui Governansi Etika dan Kepemimpinan Transformasi”, untuk meraih gelar Doktor dari Program Studi Seni Pasca Doktor Institute Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Sigit memiliki otoritas yang lebih tinggi untuk berbicara tentang seni budaya.
Para promotor dan penguji memuji passion dan penelitian yang dibuat Sigit. “Ini penelitian perdana tentang governansi seni, kajian yang relatif baru di bidang seni budaya,” ujar Prof Hanggar Budi Prasetya, Promotor, dalam sidang terbuka yang digelar di Concert Hall ISI, Yogyakarta, 30 Juli 2026.
Desertasi yang dibuatnya bukan sekadar dari hasil penelitian secara akademis, tapi didukung oleh perhatian, kiprah, dan passion, yang sudah lama diberikannya Sigit.
Dalam sidang terbuka, Sigit mengatakan bahwa dalam berbagai literatur sejarah kesenian dan budaya merupakan keunggulan bangsa Indonesia.
Baca juga: Boediono: Buku Terbaru Sigit Pramono Bisa Jadi Rujukan Perbankan Bertransformasi
“Ada warisan keunggulan budaya bangsa masa lalu yang kemudian diakui dunia, seperti Candi Borobudur, keris, batik, dan berbagai macam tarian,” ujarnya.
Sigit menambahkan, seni budaya harus menjadi keunggulan kompetitif untuk pembangunan bangsa.
“Jika kita semua sepakat bahwa seni budaya adalah salah satu keunggulan kompetitif bangsa kita, maka sudah selayaknya kita memberikan perhatian bidang seni budaya,” ujar pehobi fotografi dan pendiri Jazz Gunung ini.
Sigit menjelaskan, untuk memanfaatkan keunggulan tersebut, Indonesia harus melakukan transformasi organisasi seni budaya.
“Bagaimana governansi berbasis etika ditegakkan dan adanya kepemimpinan transformasional yang bisa menggerakan kinerja secara berkelanjutan yang ditopang oleh stakeholders engagement,” ujar pria yang merintis kariernya di Bank Export Import yang telah menulis sembilan buku ini.
Baca juga: BRI Jazz Gunung Bromo Pertahankan Identitas, Minimal 50 Persen Line Up Wajib Jazz
Seorang penguji sidang bertanya, apa yang dilakukan Sigit Pramono seandainya menjadi Menteri Kebudayaan?
“Saya tidak pernah bercita-cita menjadi menteri. Yang jelas dalam pengelolaan seni budaya itu harus dimulai dari pucuk pimpinan, yang melakukan kepemimpinan transformasional, agar dinas-dinas di bawah mereka tidak hanya menjalankan rutinitas saja,” ujar Sigit yang juga menjadi anggota Dewan Pakar Infobank Media Group ini. (*) KM


