Poin Penting
- UNISSULA menganugerahkan gelar Profesor Kehormatan kepada anggota BPK RI, Slamet Edy Purnomo (SEP)
- SEP dinilai berkontribusi besar dalam menjaga stabilitas sektor keuangan, termasuk penyelamatan Bank Bukopin pada 2020
- Dalam orasinya, SEP menyoroti paradoks pangan dan energi serta peran BUMN bagi kesejahteraan nasional.
Semarang – Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang memberikan gelar Profesor Kehormatan kepada Dr Slamet Edy Purnomo MM, anggota Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK)-RI. Acara pengukuhan gelar profesor kehormatan diselenggarakan di Semarang, 26 Juni 2026.
Rektor UNISSULA, Prof Dr H Gunarto SH MH, mengatakan bahwa pria yang akrab disapa SEP ini telah memberikan kontribusi yang luar biasa bagi bangsa dan negara.
“Selain itu juga memiliki gagasan pemikiran baru yang berguna bagi kepentingan bangsa dimana gagasan itu telah di-publish di jurnal internasional Scopus,” ujar dalam sambutannya.
SEP membangun karier di lembaga otoritas keuangan, yaitu Bank Indonesia (BI) kemudian Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sehingga memiliki pengalaman dan prestasi terutama dalam penyelamatan bank, mulai dari krisis moneter 1998, krisis keuangan global 2008, hingga krisis kesehatan 2020.
Baca juga: Anggota BPK Fathan Subchi Dorong Ekonomi Kreatif Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi
Dia menjadi salah satu tokoh kunci di balik penyelamatan Bank Bukopin yang ambruk hingga gagal kliring pada awal-awal terjadi Pandemi COVID-19 pada 2020.
Bersama pemegang saham dan manajemen Bank Bukopin, SEP yang waktu itu menjadi Deputi Komisioner OJK berhasil memulihkan kepercayaan para pemegang saham serta para nasabah yang memahami upaya manajemen dalam menyehatkan bank.
Bersama Rivan A. Purwantono yang menjadi Direktur Utama Bank Bukopin saat itu, Slamet Edy Purnomo berhasil meyakinkan Kookmin Bank untuk bersedia menempatkan dana sebesar USD200 juta yang setelah diselenggarakan RUPSLB bank asal Korea Selatan itu menjadi Pemegang Saham Pengendali Mayoritas Bank Bukopin diatas 51 persen.
Di BPK, SEP mendorong gagasan lima pilar pengawasan BPK sehingga berhsail menyelamatkan uang negara.
“Tak hanya melakukan melakuan pembaharuan kebijakan publik, tapi sebagai akademisi aktif menjadi penguji di beberapa perguruan tinggi di Indonesia,” ujar Gunarto.
Dalam orasi pengukuhan gelar professor, SEP menyampaikan gagasan pemikiran baru tentang paradox ketahanan pangan dan energi, serta tantangan strategi untuk mendorong badan usaha milik negara (BUMN) untuk mewujudkan kesejateraan nasional.
Menurutnya, ada sejumlah paradox yang terjadi di Indonesia, seperti adanya produksi pangan tinggi tapi kerawanan pangan masih ada, Indonesia kaya sumber daya energi tapi impor BBM dan energi cukup tinggi serta kekurangan energi.
“Paradox lainya, subsidi besar namun dampak trerhadap kesejahteraan masyarakat relatif kecil, negara agraris tetapi masih ada impor pangan, petani menghasilkan pangan teapi kesejahteraannya relatif rendah, terjadi surplus pangan di satu daerah tapi masih ada kerawanan pangan di daerah lain, serta harga rendah di tingkat petani tapi tinggi di tingkat konsumen,” ujar pria kelahiran Banyuwangi 17 Agustus1965 ini.
Acara pengukuhan gelar profesor SEP dihadiri banyak pejabat dari otoritas keuangan hingga pengurus BUMN di antaranya Dr Ismayatun, Ketua BPK; Prof Agusman PhD, anggota ADK OJK; Dr M. Misbakhun, Ketua Komisi XI DPR; Dr M. Yusuf Ateh, MBA; Drs. H. Fathan Subchi, M.A.P., CIISA., ChFA., CSFA, anggota BPK; Dr. Agus Joko Pramono, M.Acc, anggota KPK, Dr Hery Gunardi MBA, Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI), Dr Rivan A. Purwantono MM, Direktur Utama Jasa Marga, hingga Drs Sapto Amal Damandari, Ak, Wakil Ketua BPK 2014-2017 yang kini menjadi Komisaris Utama Bank Muamalat.
“Dalam dinamika industri dan pengawasan kelembagaan, Pak SEP menunjukkan kepemimpinan yang kokoh, adaptif, dan berorietentasi pada solusi. Ketegasan yang humanis dan integritas tanpa kompromi, adalah ciri khas yang melekat dalam setiap kebijakan dan keputusan Pak SEP,” ujar Sapto Amal dalam testimoninya.
“Gelar profesor yang diberikan kepada Pak SEP adalah bukti bahwa beliau memiliki kapasitas intelektual, akademis, dan kualitas rekam jejak yang selama ini dijalankan mulai dari BI, OJK, hingga BPK,” ujar Fathan Subchi kepada Infobanknews (27/6).
Baca juga: BPK: Tidak Semua Kredit Bermasalah Merupakan Kerugian Negara
“Pak SEP memiliki pengalaman dan kapasitas dalam pengawasan perbankan, dan beliau memiliki kontribusi yang sangat besar dalam menjaga stabilitas sektor keuangan terutama saat terjadi Pandemi COVID-19 yang dampak nyata kemudian bisa dirasakan oleh industri keuangan maupun masyarakat,” ujar Agusman kepada Infobanknews (27/6).
“Pak SEP adalah sosok pemimpin di lembaga publik yang sukses menjembatani antara kompleksitas regulasi praktis dengan kedalaman teori akademis. Atas pemikiran dan kontribusi yang selama ini didedikasi untuk kepentingan bangsa, beliau sangat layak diberi professor,” ujar Hery Gunardi kepada Infobanknews (27/6).
“Pak SEP adalah sosok pemimpin yang berani mengambil keputusan berisiko pada saat krisis. Saya menyaksikan sendiri ketika beliau mendampingi saya membuat keputusan dan langkah-langkah penyelamatan Bank Bukopin pada 2020,” ujar Rivan A. Purwantono kepada Infobanknews (26/6). (*) KM


