Poin Penting
- Pemprov DKI Jakarta akan menyesuaikan tarif sejumlah rute Transjabodetabek karena beban subsidi dinilai terlalu besar
- Rute Blok M–Bandara Soekarno-Hatta menjadi salah satu koridor yang sedang dievaluasi untuk penetapan tarif baru
- Tarif rute tersebut berpotensi berada pada kisaran Rp10.000 hingga Rp15.000 setelah evaluasi operasional selama tiga bulan.
Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo memastikan akan melakukan penyesuaian tarif Transjabodetabek pada sejumlah rute dalam waktu dekat. Kebijakan tersebut diambil karena beban subsidi yang ditanggung Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dinilai sudah terlalu besar.
Pramono menyebut salah satu rute yang sedang dikaji untuk penyesuaian tarif adalah koridor Blok M–Bandara Soekarno-Hatta. Menurutnya, keputusan terkait tarif baru akan ditetapkan dalam bulan ini bersamaan dengan evaluasi beberapa rute lainnya.
“Untuk tarif Transjabodetabek Blok M-Soekarno Hatta, segera akan kami putuskan. Pada bulan-bulan ini kita akan memutuskan beberapa rute, bukan hanya Blok M ke Soekarno-Hatta, tetapi juga Transjabodetabek lainnya yang perlu penyesuaian,” ujar Pramono di Jakarta Timur, dikutip Antara, Jumat (5/6/2026).
Baca juga: Pemprov DKI Jakarta Hapus Denda Pajak Kendaraan, Simak Aturannya
Penyesuaian Tarif Transjabodetabek Dipicu Beban Subsidi
Pramono menjelaskan, langkah penyesuaian tarif Transjabodetabek dilakukan setelah mempertimbangkan tingginya subsidi yang harus dikeluarkan Pemprov DKI Jakarta untuk mendukung operasional sejumlah rute.
Karena itu, pemerintah daerah memandang perlu adanya penyesuaian agar keberlanjutan layanan transportasi publik tetap terjaga tanpa membebani anggaran daerah secara berlebihan.
Meski demikian, Pramono belum mengungkapkan secara rinci rute-rute mana saja yang akan mengalami perubahan tarif selain layanan Blok M–Bandara Soekarno-Hatta.
Rute Blok M–Soekarno-Hatta Jadi Perhatian Utama
Sebelumnya, Pemprov DKI Jakarta resmi meluncurkan rute baru Transjabodetabek SH2 yang menghubungkan Blok M dengan Bandara Soekarno-Hatta pada 12 Maret 2026.
Sejak awal peluncuran, Pramono telah menargetkan evaluasi tarif dilakukan setelah layanan tersebut beroperasi selama tiga bulan. Evaluasi itu menjadi dasar bagi pemerintah untuk menentukan skema tarif yang lebih sesuai dengan biaya operasional yang dikeluarkan.
Ia mengakui bahwa besarnya subsidi pada rute tersebut menjadi salah satu pertimbangan utama dalam pembahasan tarif baru.
Baca juga: Aset Jumbo Danantara dan Klaim ROA Naik 300 Persen Tanpa Transparansi jadi Sorotan
Tarif Berpotensi Naik Menjadi Rp10.000 hingga Rp15.000
Pemprov DKI Jakarta sebelumnya telah membuka kemungkinan tarif rute Blok M–Bandara Soekarno-Hatta berada pada kisaran Rp10.000 hingga Rp15.000. Namun, keputusan final masih menunggu hasil evaluasi operasional selama tiga bulan.
Pramono menjelaskan bahwa karakteristik rute tersebut berbeda dibandingkan layanan lain karena memiliki jarak perjalanan yang panjang serta menggunakan armada baru yang disiapkan secara khusus.
“(Alasannya) Pertama, karena ini rutenya panjang, busnya baru dan khusus untuk itu, sehingga perlu biaya yang harus dikeluarkan, dan juga di Terminal 1, 2, 3 tentunya bus parkir itu nggak gratis, ada biaya-biaya yang harus ditanggung,” tutur Pramono.
Selain biaya pengadaan dan operasional armada, terdapat pula beban tambahan berupa biaya parkir bus di area terminal Bandara Soekarno-Hatta yang turut memengaruhi perhitungan tarif layanan.
Dengan pertimbangan tersebut, Pemprov DKI Jakarta diperkirakan akan segera menetapkan skema tarif baru untuk sejumlah rute Transjabodetabek sebagai bagian dari upaya menyeimbangkan kualitas layanan dan besaran subsidi yang ditanggung pemerintah daerah.
Penyesuaian tarif Transjabodetabek diharapkan dapat menjaga keberlanjutan layanan transportasi publik sekaligus mengurangi tekanan subsidi terhadap anggaran Pemprov DKI Jakarta. (*)
Editor: Galih Pratama


