Poin Penting
- Peran BPD kian strategis di tengah penurunan dana transfer ke daerah (TKD) dan tekanan fiskal, sehingga perlu mendukung pembiayaan pembangunan.
- BPD didorong naik kelas dari sekadar pengelola dana menjadi penggerak ekonomi daerah melalui inovasi pembiayaan dan intermediasi keuangan.
- Kolaborasi dan investasi jadi kunci, termasuk sinergi antar-BPD dan skema pembiayaan bersama untuk menjaga keberlanjutan pembangunan daerah.
Surakarta – Peran Bank Pembangunan Daerah (BPD) didorong semakin strategis dalam menopang ekonomi daerah, seiring meningkatnya tekanan fiskal dan menurunnya dana transfer ke daerah (TKD).
Dorongan tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional BPD yang digelar Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda) bersama PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah (Bank Jateng) di Ballroom Hotel Sunan, Surakarta, Jateng, Jumat, 17 April 2026.
Seminar Nasional dengan tema “Memperkuat Peran BPD sebagai Mitra Strategis Pemerintah Daerah melalui Inovasi Pembiayaan dan Pinjaman Daerah” ini menjadi bagian dari rangkaian event Undian Tabungan Simpeda Nasional Periode ke-2 Tahun XXXVI-2026 dan dihadiri jajaran direksi BPD seluruh Indonesia.
Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi, selaku Keynote Speaker dalam seminar ini, menyampaikan bahwa BPD merupakan salah satu indikator penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Dengan jumlah penduduk Jateng yang mencapai hampir 38 juta jiwa dan wilayah yang luas, pembangunan tidak bisa dilakukan secara parsial.
“Bank daerah ini adalah salah satu indikator dalam rangka meningkatkan ekonomi daerah. Tapi kita tidak bisa bekerja sendiri, harus kolaboratif,” ujarnya.

Baca juga: Ketua Asbanda: BPD Harus jadi Orkestrator Keuangan Daerah, Bukan Sekadar Penyalur Dana
Menurut Luthfi, keterbatasan fiskal menjadi tantangan utama Pemda. Kontribusi anggaran pusat dinilai belum cukup, sehingga daerah perlu mencari sumber pembiayaan alternatif, terutama dari investasi.
“Lebih dari 80 persen pembangunan daerah ditopang dari investasi. Maka kepala daerah harus menjadi ‘marketing’ untuk menarik investor,” tegasnya.
Ia juga menegaskan pentingnya pendekatan pembangunan yang terintegrasi. “Kita tidak bisa menyelesaikan persoalan daerah secara sepotong-sepotong. Harus bersama-sama, saling mendukung, dan bergerak serentak,” pungkasnya.
BPD Harus Naik Kelas dan Menjadi Mitra Strategis

Senada dengan hal tersebut, pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Asbanda, Agus H. Widodo, menyampaikan bahwa BPD harus bertransformasi agar mampu menjadi penggerak utama ekonomi daerah.
Menurutnya, kondisi fiskal yang terbatas menuntut perubahan peran BPD yang selama ini cenderung administratif.
“BPD tidak boleh lagi hanya menjadi tempat parkir dana pemerintah daerah. BPD harus naik kelas,” tegasnya.
Ia menambahkan, BPD harus berperan sebagai pengelola aliran dana, penjaga likuiditas, serta penggerak ekonomi regional.
“Apakah pembangunan daerah akan terus bergantung pada kapasitas fiskal semata, atau kita mulai membangun kekuatan baru melalui intermediasi keuangan yang lebih aktif?” ujarnya.
Baca juga: Jadi Ketum Asbanda Baru, Ini Fokus Agus H. Widodo dalam Perkuat Industri BPD
Agus menyebut, BPD memiliki keunggulan karena dekat dengan pemerintah daerah dan memahami karakter ekonomi lokal.
Untuk itu, inovasi pembiayaan, termasuk skema pinjaman daerah, perlu dioptimalkan dengan tetap menjaga prinsip kehati-hatian.
“Kami tidak meminta pelonggaran, tetapi pendekatan yang lebih presisi berbasis risiko dalam pembiayaan sektor publik daerah,” jelasnya.
Agus juga menekankan pentingnya sinergi lintas pemangku kepentingan. “Masa depan ekonomi daerah tidak hanya ditentukan oleh APBD, tetapi oleh seberapa kuat BPD mampu mengorkestrasi aliran dana dan menggerakkan ekonomi di daerahnya,” pungkasnya.
Baca juga: Gala Dinner Undian Simpeda Tahun XXXVI-2026, Ketua Asbanda: Momentum Konsolidasi Nasional BPD
Di sisi lain, Direktur Utama Bank Jateng, Bambang Widiyatmoko, melihat penurunan TKD sebagai momentum bagi BPD untuk memperkuat kontribusi terhadap pembangunan daerah.
Ia menyebut tren penurunan TKD telah terjadi sejak 2020 dan berlanjut hingga 2026, baik dari sisi persentase maupun nominal.
“BPD harus mampu membantu pemerintah daerah menyiasati penurunan TKD, tanpa menghambat program prioritas pelayanan kepada masyarakat,” tegasnya.

Bambang juga mendorong penguatan kolaborasi antar-BPD, termasuk melalui skema sindikasi pembiayaan untuk proyek strategis.
“Jika kita bersatu, tidak ada satu pun proyek infrastruktur strategis daerah yang tidak bisa kita biayai bersama,” tegasnya.
Ia berharap forum ini mampu melahirkan solusi konkret sekaligus memperkuat kontribusi BPD dalam pembangunan nasional. “Kolaborasi yang kuat akan membuat BPD semakin berkontribusi dalam pembangunan negeri,” pungkasnya.
Baca juga: Perkuat Simpeda, Dirut Bank Jateng Tekankan Soliditas Antar-BPD
Narasumber yang dihadirkan dalam seminar ini adalah Direktur Pembiayaan dan Perekonomian Daerah pada Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan, Adriyanto, dengan materi “Delapan Program Prioritas Nasional dan Evaluasi Kinerja Daerah Terkait Program Prioritas”; serta Siti Chomzah selaku Kasubdit Pembiayaan Daerah Kementerian Dalam Negeri, yang menyampaikan materi terkait “Pengalihan TKD ke Belanja Pusat untuk Program Prioritas agar Efektif dan Berdampak.
Kemudian satu narasumber lainnya, yakni Pemimpin Redaksi Majalah Infobank, Eko B. Supriyanto yang memberikan perspektif bertajuk “Mengatur Ulang Kehati-hatian: BPD, BMPK, dan Dilema Fiskal Daerah”.
Rangkaian Agenda Undian Simpeda
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Undian Tabungan Simpeda Nasional Periode ke-2 Tahun XXXVI-2026 yang telah diawali dengan penyegelan alat undian, serta gala dinner dan expo masing-masing di Hotel Alila dan Pendopo Balaikota Surakarta.
Puncak acara undian Tabungan Simpeda dengan total hadiah Rp3 miliar ini dijadwalkan berlangsung pada Jumat (17/4) malam di Ballroom Utama Hotel Alila Surakarta, yang akan dimeriahkan oleh penampilan Ari Lasso dan Maliq & D’Essentials. (*)







