Poin Penting
- Gejolak Selat Hormuz akibat konflik Iran-AS-Israel berpotensi mengganggu arus perdagangan dan meningkatkan risiko bagi industri asuransi.
- Dampak utama dirasakan pada asuransi perdagangan akibat keterlambatan pengiriman, sementara reasuransi global mulai membatasi eksposur risiko.
- Premi berpotensi naik hingga 0,5 persen dan Asei memperketat seleksi negara tujuan serta fokus pada penjaminan ekspor.
Jakarta – Memanasnya situasi di Selat Hormuz dalam beberapa waktu terakhir, sebagai imbas konflik Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel, turut menjadi sorotan pelaku industri keuangan. PT Asuransi Ekspor Indonesia (Asuransi Asei) menilai, kondisi ini berpotensi memengaruhi kinerja industri asuransi umum nasional.
Direktur Utama Asuransi Asei, Achmad Sudiyar Dalimunthe, mengakui bahwa ketegangan di kawasan tersebut berisiko menghambat arus pelayaran perdagangan global. Di sisi lain, meningkatnya risiko membuat perusahaan asuransi lebih berhati-hati dalam memberikan perlindungan terhadap kapal yang melintas.
“Perusahaan yang kapal dan barang-barangnya mau melewati (selat) itu, kalau mau masuk ke situ, harus ada asuransi. Nah masalahnya asuransi ini mau nggak nge-cover,” ujar pria yang akrab disapa Dodi ini, di sela-sela PPDP Regulatory Dissemination Day, Senin, 13 April 2026.
Baca juga: Bos Asei Beberkan Tantangan Industri Asuransi Umum di 2026
Menurut Dodi, risiko perang umumnya hanya dapat ditanggung oleh reasuransi. Namun, sejumlah reasuransi global kini mulai mengurangi eksposur terhadap jaminan kapal yang melintasi wilayah konflik tersebut.
Meski demikian, ia menilai dampak langsung terhadap asuransi maritim relatif terbatas. Justru, efek yang lebih terasa terjadi pada asuransi perdagangan akibat potensi keterlambatan pengiriman barang.
“Kalau kami, impact-nya ke asuransi perdagangan. Karena barang yang harusnya diterima itu sebulan bisa diluar ke sana, sehingga si bayar di luar negeri yang mungkin sudah ada deal dengan pembeli di sana, bisa-bisa dia menunggu lama aja nggak jadi beli,” ujar Dodi.
Lebih lanjut, kondisi ini juga berpotensi mendorong kenaikan premi secara agregat hingga sekitar 0,5 persen. Hal tersebut membuat sejumlah perusahaan asuransi cenderung selektif dalam memberikan jaminan atas transaksi perdagangan yang melintasi Selat Hormuz.
Baca juga: Fenomena Shifting Asuransi, Generasi Muda Dorong Lonjakan Produk Tradisional
Sebagai langkah mitigasi, Asuransi Asei telah memetakan negara-negara yang berpotensi terdampak dari gangguan distribusi tersebut, termasuk negara dengan tingkat risiko tinggi yang cenderung dihindari.
“Kami memilih yang risk country-nya masih bagus, sehingga tarifnya juga masih oke, dan kami bisa memitigasi bayarnya itu yang nggak bermasalah saat dia berdagang dengan para eksporter,” tegas Dodi.
Ke depan, Asuransi Asei juga akan memperkuat fokus pada penjaminan perdagangan ekspor, sejalan dengan mandat awal pendirian perusahaan. (*) Mohammad Adrianto Sukarso







