Poin Penting
- Celios menilai kekurangan talenta terampil masih menjadi tantangan utama industri kreatif Indonesia.
- Kebutuhan SDM digital diperkirakan terus meningkat hingga 2030 seiring pesatnya transformasi teknologi.
- Pemerataan pendidikan, pelatihan, dan perlindungan pekerja dinilai penting untuk memperkuat daya saing industri kreatif.
Jakarta – Ketersediaan tenaga kerja terampil dinilai menjadi faktor penting dalam memperkuat daya saing industri kreatif Indonesia di tengah pesatnya perkembangan ekonomi digital. Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui pendidikan, pelatihan, dan sertifikasi dinilai dapat menjawab kebutuhan industri sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Direktur Utama Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan Indonesia memiliki modal besar berupa jumlah angkatan kerja yang mencapai 153 juta orang. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan karena masih rendahnya kualitas tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri.
“Data menunjukkan jumlah angkatan kerja Indonesia mencapai 153 juta orang, namun hanya 12,66 persen yang memiliki pendidikan tinggi, dan lebih dari 30 persen perusahaan mengalami kesulitan merekrut talenta berkualitas,” kata Bhima seperti dikutip dari Antara.
Bhima memperkirakan permintaan tenaga kerja terampil, terutama di sektor ekonomi digital, akan terus meningkat hingga 2030.
Baca juga: Mismatch Tenaga Kerja Indonesia jadi Sorotan, Apa Dampaknya Bagi Ekonomi Nasional?
Menurutnya, kesenjangan antara kebutuhan industri dengan ketersediaan SDM berkualitas berpotensi mendorong perusahaan semakin mengandalkan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) dan machine learning.
Kondisi tersebut terjadi karena perusahaan kesulitan memperoleh talenta dari perguruan tinggi maupun lulusan sekolah kejuruan yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Karena itu, ia menilai pemerintah, dunia pendidikan, dan pelaku industri perlu mempercepat penciptaan talenta digital agar kebutuhan tenaga kerja dapat dipenuhi dari dalam negeri sekaligus memanfaatkan peluang ekonomi berbasis teknologi.
Pemerataan SDM Jadi Tantangan
Selain meningkatkan kualitas SDM, Bhima juga menyoroti pentingnya pemerataan tenaga kerja kreatif di berbagai wilayah Indonesia.
Saat ini, sebagian besar pekerja industri kreatif masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Penguatan pusat pendidikan dan pelatihan di kawasan Indonesia Timur dinilai dapat membuka peluang ekonomi baru sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap pekerjaan yang lebih berkualitas.
“Masalah yang paling krusial adalah gap karena konsentrasi geografis. Sebanyak 58 persen tenaga kerja industri kreatif masih tersedia di tiga provinsi Jawa, sementara wilayah Indonesia Timur sangat kecil,” katanya.
Baca juga: Tarik Minat Talenta Terbaik, Ini Strategi Kunci BCA Kelola SDM
Bhima menambahkan, penyelarasan kurikulum pendidikan dengan kebutuhan industri melalui program magang dan sertifikasi profesi dapat mempercepat lahirnya tenaga kerja yang siap bekerja.
Perlindungan Pekerja Perlu Diperkuat
Penguatan kompetensi SDM dinilai akan memberikan dampak positif bagi berbagai subsektor ekonomi kreatif, mulai dari gim, animasi, perangkat lunak, hingga konten digital.
Di sisi lain, Bhima menilai subsektor kuliner, fesyen, dan kriya masih menghadapi tantangan tingginya informalitas tenaga kerja.
Baca juga: Tak Hanya Kebudayaan, DPR Harap IKN Jadi Pusat Ekonomi Kreatif
Menurutnya, industri kreatif digital berkembang lebih cepat dengan tingkat upah yang kompetitif, sedangkan subsektor kreatif tradisional masih membutuhkan penguatan perlindungan bagi para pekerjanya.
Dengan peningkatan kompetensi, pemerataan talenta, dan perlindungan tenaga kerja yang lebih baik, industri kreatif dinilai memiliki peluang besar menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus menciptakan lapangan kerja berkualitas di berbagai daerah. (*)


