Teknologi Harus Menjadi Instrumen Inklusi
Di sisi lain, SBY melihat perkembangan teknologi digital membuka peluang besar untuk mempercepat inklusi ekonomi di negara-negara berkembang Asia.
Keuangan digital, perbankan seluler, perdagangan elektronik, dan berbagai platform digital dinilai mampu memperluas akses pembiayaan, pasar, serta pendidikan bagi pelaku usaha kecil.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa transformasi digital harus berjalan beriringan dengan pemerataan akses agar tidak memperlebar kesenjangan sosial dan ekonomi.
Baca juga: Purbaya Pastikan APBN Aman meski Rupiah Makin Tertekan: Kita Sudah Hitung
Menurutnya, masa depan pembangunan Asia tidak lagi dapat bergantung pada tenaga kerja murah atau komoditas semata. Daya saing kawasan akan ditentukan oleh kemampuan berinovasi, meningkatkan produktivitas, mengembangkan kewirausahaan, memperkuat modal manusia, dan membangun ketahanan di tengah ketidakpastian.
Karena itu, kepemimpinan yang tenang, inklusif, berorientasi jangka panjang, serta mampu menjaga kepercayaan publik menjadi faktor penting dalam menghadapi berbagai tantangan global ke depan.
Baca juga: Sirkus Makroekonomi 2026: Doping Fiskal Q1 dan Ritual Bakar Devisa
SBY meyakini masa depan Asia akan banyak ditentukan oleh jutaan pelaku usaha, inovator, dan komunitas lokal yang terus bergerak di tengah berbagai tantangan.
Menurutnya, ketahanan dan kemajuan kawasan harus dibangun tidak hanya dari atas, tetapi juga dari kekuatan ekonomi akar rumput yang menjadi fondasi utama masyarakat. (*)
Editor: Yulian Saputra


